Para dewi yang berada di belakang Zhani lalu bersorak girang setelah jantungnya berdebar ketika menyaksikan pertarungan ketua mereka menghadapi dua makhluk itu. Kini mereka berloncatan sambil ada yang berpegangan tangan seperti anak-anak yang mendapat kegembiraan.
Dewi berselendang biru langit itu pun lalu melepas nafas panjang sambil memeramkan kedua matanya. Ia lalu mengangkat tangan untuk menerima serpihan arang kecil yang turun dari atas.
Riko yang berada di tempat gelap agak jauh dari mereka itu lalu berdiri. Ia lalu berlari melewati pinggir istana yang mana merupakan jalan beratap dengan hati-hati sambil kadang memandang ke arah halaman. Namun karena mereka tengah bergembira dan Ang Zhani tengah mengamati sebutir arang di telapak tangannya, maka mereka semua tidak tahu bahwa Riko berada di samping kanan mereka itu tengah berlarian menuju ke arah asrama para Dewi. Namun seorang penjaga lelaki yang mana sedang berjaga di depan pintu istana depan melihat Riko yang tengah berlari. Penjaga yang memakai baju prajurit itu langsung berlari mengejarnya setelah sedikit membelalakan kedua matanya. Prajurit ini tadinya sebelum melihat kedatangan Riko juga tengah bergembira karena melihat ketua para Dewi dapat mengalahkan monster itu. Sementara dirinya sama sekali tidak akan berdaya seandainya melawan makhluk tersebut, sehingga ia hanya diam di depan pintu istana sambil menonton jalannya pertempuran.
“Kangsa, Leni, Falati, Sumi, dan Oyha, kalian bawa para Dewa ke ruang medis!” perintah Ang Zhani tanpa menoleh ke arah Dewi yang disebutkan.
“Baik, ketua!” yang diperintah serentak mengangguk lalu mengerjakan apa yang diperintahkannya.
“Mia, Nuri, dan semua kecuali Hanmei, Tiana dan Karin, urus para mayat prajurit dan perwira!” perintah Zhani kembali dengan bernada halus. “Salah seorang kalian pergilah dan minta bantuan para pelayan, peri dan juga prajurit untuk membantu pemakaman serta mengurus mayat makhluk itu!”
“Baik, ketua!” serentak yang diperintah lalu melaksanakan tugasnya. Ada yang mulai menggotong mayat, ada pula yang sudah berlari menuju ke dalam istana hendak meminta bantuan para prajurit, pelayan maupun para peri.
__ADS_1
“Hanmei, Tiana dan Karin!” panggil Zhani.
“Ya, ketua?!” sahut yang dipanggil.
“Laporkan dan terangkan kejadian ini kepada Ayah handa dan ketua para Dewa,”
“Baik, ketua!” sahut ketiga gadis itu lalu berlari menuju ke istana.
Ang Zhani menarik nafas panjang lalu membalikan badan. Ia berjalan anggun menuju ke kamarnya yang mana berada di belakang istana, bersama dengan kamar-kamar para Dewi. Asrama yang besar. Bertingkat tiga dan desainnya pun indah.
Setelah berjalan melewati tangga yang menuju ketingkat dua dari tiga, Zhani lalu berjalan anggun menuju ke ruang kamarnya yang berada di pojok kanan sendiri. Setelah sampai di tempat tersebut, ia lalu mendirikan alisnya. Di lihatnya seorang penjaga pintu istana tengah mengintip-intip kamarnya dari celah berlobang. Apa yang tengah dilakukannya dihari yang mulai malam ini? Pikir Zhani.
“Kau sedang apa?!” tegur Zhani dengan nada halus namun bernada tinggi.
__ADS_1
Mendengar suara yang mengejutkan hatinya lantas lelaki berbaju baja itu langsung tersentak kaget dan buru-buru menghadap Zhani dengan wajah menunduk.
“Tidak sopan sekali kau lelaki ke kamar kami para Dewi!”
“A-Ampun, Nona. Aku tidak bermaksud kurang ajar.. Aku kesini karena...”
“Sudahlah!” potong Zhani. “Kembalilah lakukan tugasmu!”
“Tapi, Nona...” keluhnya lalu melirik ke arah celah-celah kamar Ang Zhani.
“Cepat keluar sebelum aku berubah pikiran!”
Lelaki itu lalu mengangguk-angguk. Namun baru saja berjalan hendak pergi ia kembali mengintip celah kamar sesaat.
__ADS_1
“Tukang intip!” ketus Zhani dalam hati lalu membuka pintu kamarnya dan memasukinya. Ia kemudian berjalan sambil meregangkan tubuhnya yang lemah gemulai menuju ke arah ranjangnya yang berkelambu warna emas. Ia lalu membaringkan tubuhnya ke atas ranjang dengan santai sekali. Untuk menghilangkan lelah dan melemaskan tubuh.
Riko lalu memalingkan wajahnya yang sedari tadi memandang ke arah Zhani. Ia ternyata berada di kamar Dewi selendang biru langit itu, dan sekarang tengah bersembunyi di bawah meja di depan ranjang. Ia tengah tengkurap di bawah meja yang memanjang ke samping. “Kenapa jantungku tiba-tiba memukul keras begini?” bisiknya dalam hati.