The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 34


__ADS_3

Dengan seperti orang berbaris, rombangan Sofia dan kawan-kawan melewati sarang Monster Hitam itu tanpa adanya gangguan. Karena mereka memakai kostum penjaga tempat itu sehingga mereka disangka bangsanya sendiri.


Karena sudah belasan menit mondar-mandir dan para Monster yang tinggal di situ tidak menaruh curiga terhadap mereka, maka Sofia lalu berkata dengan suara tidak terlalu keras. “Semuanya, tak usah berbaris lagi. Kalau begini terus malah bisa membuat mereka curiga. Sudah aman kok!”


Riko dan yang lainnya mengangguk. Mereka semua lalu berjalan biasa tanpa berbaris seperti tadi.


“Yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari tempat dimana adanya Doni.” Kata Sofia sambil jalan. “Tapi masalahnya siapa yang tahu dimana adanya orang itu.”


“Mungkin kita dapat tanyakan ke penduduk sini.” Sahut Jondan. “Sekalian aku tahu bagimana rupa penduduk bangsa Monster.”


“Kau jangan main-main, Jon!” sambung Zhu. “Mereka ya berwajah seperti Monster. Aneh, ada taring, ekor dan tanduknya segala.


“Jan jon jan jon!” ketus Jondan mendelik.


“Heh!” terdengar suara Sofia yang tengah memanggil salah satu penduduk. Penduduk yang dipanggil menengok. Setelah melihat secara pasti bahwa yang memanggilnya adalah penjaga, yang memang mereka hormati, maka dengan menampakan taringnya sebagai tanda senyum ia mendekat.


“Ada apa, tuan?” tanyanya.


Zhu dan Jondan tertawa cekikan. Sofia tahu apa yang membuat mereka tertawa. Penduduk itu menyangka Sofia sebagai seorang lelaki. Namun si penduduk malah menyangka bahwa merkea berdua tertawa karena gembira akan kata-kata sopan dirinya.


“Apa kau melihat seorang manusia dibawa kemari?” tanya Sofia.


Penduduk itu melihat wajah penanya yang tertutup oleh helm itu. Ia menggeleng.


“Jangan Bohong!” Jondan mencengkram kerah penduduk itu dengan lagak keren. Sebenarnya ia sendiri agak gentar juga melihat Monster yang dihadapannya ini. Wajahnya jelek dan menyeramkan.


“S-saya benar-benar tidak tahu tuan.” Sahut si penduduk gemetar.


Karena melihat yang dicengkram terlihat ketakutan, maka hilanglah rasa gentar Jondan. Dengan berani ia angkat si penduduk itu. “Bilang tidak!” katanya.


“S-saya memang tidak tahu tuan...” sahutnya. “Saya bersumpah. Demi Monster!”


Jondan lalu menurunkan si penduduk dengan kesalnya. Ia lalu mundur ke samping Riko.


“Aku salut padamu, tuan Jondan!” bisik Riko menggoda.


“Hmph!” dengan gaya angkuh Jondan membunyikan suara hidung.

__ADS_1


“Hey! Ada apa ribut-ribut!” terdengar suara dari belakang mereka. Sofia cepat membalikan badan dan terlihatlah dua orang dengan baju penjaga sama seperti mereka tengah menuju ke tempatnya. “Ada apa ini!” kata salah satu dari mereka.


“Kami hanya menanyakan suatu hal.” Sahut Sofia tenang.


“Hal apa?!” tanya penjaga itu ketus.


“Apa ada manusia yang dibawa kemari?”


“Kenapa kau tanyakan itu?” penjaga itu jadi terkejut. “Dan juga kenapa kalian meninggalkan tugas kalian. Malah berkeluyuran kemari? Heran...”


“Sobat jangan heran.” Sahut Sofia. “Karena tadi aku dengar dari salah seorang bahwa ada manusia yang dibawa kemari, maka kami jadi penasaran sekali. Asal sobat tahu, kami sangat tertarik dengan manusia. Ingin sekali kami memakannya, atau kalau tidak, menjilatnya saja cukup.”


“Sssttt...!” Penjaga itu menempelkan jari telunjuknya di depan hidungnya sendiri. “Jadi kalian sama seperti kami.” Katanya berbisik.


Sofia dan lain-lain jadi tercengeng. Apa maksud perkataannya? Maka dengan kepala diserongkan, Sofia bertanya. “Maksud Sobat?”


“Heh! Kenapa kau tidak cepat menggelinding pergi!” bentak si penjaga kepada si penduduk yang masih jatuh terduduk.


“Ya... y-ya, tuan.” Sahut Penduduk itu lalu bangkit dan berlari meninggalkan tempat tersebut.


“Kalian sama seperti kami.” Kata si penjaga setelah tempat itu terasa tidak ada orang lain selain mereka ber-enam. “Memang benar ada manusia yang dibawa kemari. Dan kami pun juga penasaran sekali.” Katanya lirih sambil menengok ke arah rekannya yang berada di sampingnya.


“Tak tau, kawan. Tapi yang kami dengar, kemarin kaki tangan Tuan Pawmina membawa manusia itu kemari.”


“Manusia itu seperti apa rupanya?” tanya Riko untuk memastikan apakah yang dibawa itu benar Doni adanya.


“Hmmm... tak tahu pasti, kawan.” Sahut si penjaga. “Tapi lelaki. Masih muda!”


Riko mengangguk. Sudah pasti dialah Doni.


“Ha-hah!” Sofia tertawa mengejek. “Jadi kalian ngiler juga dengan manusia, ya? Sama seperti kami.”


Si penjaga lalu menggaruk pelipisnya. “He-he. Ya, sudah lama sekali kami tertarik. Dan ingin sekali memakannya.”


Merinding juga bulu tengkuk Riko dan Doni. Ternyata bangasa monster begitu inginnya memakan manusia. Jika mereka menampakan diri? Apa jadinya?


“Kalau begitu jika kita bertemu manusia itu kita langsung sate sajah, Sobat!” usul Zhu semangat sekali.

__ADS_1


Riko dan Jondan mendelik ke arah Zhu. Siluman jenaka itu memang mulutnya selalu bawel.


“Nah,”  kata Sofia. “Ternyata kita mempunyai keinginan yang sama. Karena sama maka sudah sepatutnya kalau kita berteman. Bukankah baik?”


Kedua penjaga itu saling pandang. Mereka kemudian tertawa girang dan memperkenalkan diri.


“Kawan!” katanya. “Aku si monster timur bernama Hongki! Ini kawan terbaikku bernama Sasung!” serunya sambil menunujuk si penjaga yang satu dengan wajahnya. “Kalau begitu kami pun ingin tahu nama kalian, kawan...”


“Aku Sofia!” katanya.


“E...” Riko nampak ragu. “Kalian boleh memanggilku Riko.”


“Aku Jondan!”


“Dan aku Zhu!”


“Senang berkenalan dengan kalian, kawan!” kata Hongki sambil tertawa. Sasung pun ikut tertawa.


“Emm!” Sofia mengangguk. “Kita sudah menjadi sahabat maka ku harap dengan ikatan persahabatan ini kita dapat saling membantu.”


“Oh, tentu saja, tentu saja!” Hongki tersenyum di balik helmnya. “Dan, kalian sebaiknya menjaga gerbang terlebih dahulu. Karena jam ini bukankah giliran kalian?”


“A, benar juga.” Sahut Sofia. “Kalau begitu sampai bertemu lagi!” katanya yang lalu menoleh ke arah teman-temannya. Riko dan yang lainnya paham akan maksudnya. Maka ia lalu mengikuti Sofia yang memberi hormat kepada dua penjaga itu kemudian berjalan agak kencang ke arah gerbang tadi.


Setelah berjalan cukup jauh dan jauh pula dengan tempat tadi. Sofia lalu mendadak berhenti.


“Eh, kenapa berhenti?” Jondan bertanya.


“Kita lewat sini!” kata Sofia yang lalu berbelok ke kiri. Berlawanan arah dari menuju ke pintu gerbang. Jondan dan yang lain hanya melengak. Namun tetap saja mereka ikuti gadis yang cerdik itu. Mereka lalu berjalan cepat melewati rumah-rumah sarang bangsa Monster Hitam ini. Di tempat itu ternyata penghuninya dalam melakukan aktifitas sama seperti manusia. Walaupun kesemuanya adalah Monster yang memiliki wajah aneh, jelek, bertanduk, ada yang berekor, ada yang busung, kakinya Cuma satu, dan lain sebagainya. Tapi mereka dapat mengasuh anak-anaknya, mencuci pakaian, memasak, dan aktifitas lainnya. Tak jauh seperti manusia, hanya sifat, bentuk tubuh, dan wajah mereka lah yang kiranya membedakan.


“Bukankah kau bilang akan ke gerbang lagi, Nona?” tanya Riko akhirnya karena penasaran. Mereka ber-empat terus berjalan dengan dipimpin oleh Sofia.


“Apa kau tidak ingin melihat sahabatmu lagi?” sahut Sofia. “Kalau kita tidak cepat-cepat, bisa jadi kita terlambat. Bukankah kedua Monster tadi bilang kalau mereka ingin sekali memakan manusia. Tentunya disini juga banyak yang menginginkannya. Bisa jadi yang menyuliknya pun hendak memakan sahabatmu itu.”


Riko lalu mengangguk. Kalau dipikir-pikir benar juga. “Lalu kita kemana? Apa kau tahu dimana Doni?”


“Untuk saat ini belum.” Sahutnya. “Kita cari orang yang tahu dulu.”

__ADS_1


“Hm, baiklah.” Riko menghela nafas.


__ADS_2