Dari atas samping kiri mereka terdengar sahutan. Suaranya gagah seperti seorang lelaki berumur 35 tahunan. “Tak disangkanya penjaga istana Moon Air ternyata tidak punya ********. Melihat orang tak berdaya, kalian tetap saja ingin membunuhnya. Hmph! Tidak punya malu!”
Panas juga perut kedua penjaga itu. Si kulit kuning yang mempunyai sifat mudah tersinggung itu tidak tahan dengan kemendongkolannya lalu maju satu tindak dan berseru. “Bangsat ****! Tunjukan mukamu yang seperti **** kudisan! Hendak ku potong lehermu itu!”
“Sreekk...” sebuah kerikil melesat dengan sangat cepatnya menggesek ranting di rerumputan. Menuju ke arah si penjaga berkulit kuning itu, lalu ketika si penjaga tersebut berkata ‘lehermu itu’, kerikil tersebut masuk kedalam mulutnya. Sangat cepat sekali sehingga yang terkena serangan lalu memekik keras dengan mulut tertutup dan memegangi lehernya, kemudian terjatuh sambil berteriak kesakitan. Melihat kawannya terkena serangan yang begitu lihai, lantas si penjaga berkulit hitam itu menciut nyalinya. Ia kemudian mengambil pedangnya yang terjatuh, kemudian menengok kesana kemari dengan tubuh menggigil.
“K-kau siapa? Ke-kenapa melukai temanku?” si penjaga berkulit hitam itu siap sedia dengan pedang di depan dadanya.
Terdengar tawaan mengejek yang menggema di tempat tersebut, kemudian muncullah seekor harimau yang besarnya tiga kali lipat dari harimau biasa. Harimau tersebut lalu mengaum keras sekali, membuka mulutnya yang lebar ke arah penjaga berkulit hitam itu.
“Si-siluman!” katanya bergetar. “Kau cepat tunjukan wujud aslimu!”
“He-he-he!” harimau tersebut tertawa, lalu tubuhnya seketika itu tertutup oleh asap tebal. Setelah asap tebal sirna nampaklah seorang lelaki 35 tahunan yang berpostur tinggi besar dan berkumis tebal serta berjenggot panjang.
“Si-si raja harimau, Regit!” kata si kulit hitam yang semakin menggigil tubuhnya.
“He-he, akhirnya kau tahu juga!” sahut si raja harimau itu yang bernama Regit sambil mengelus kumisnya yang tebal.
“Siapa yang tak kenal Regit. Raja Harimau, sekaligus penjaga hutan pelangi! Yang dapat memakan musuhnya sendiri..”
“He-he, kau sudah tahu. Maka pergilah sebelum aku memakanmu!”
“B-baik baik..” sahut si hitam sambil mengangkat tubuh temannya yang masih berseru kesakitan, lalu menggendongnya. “Maafkan kami yang tidak tahunya telah memasuki hutan Pelangi ini..”
“Hmm... hmmm...” Regit mengangguk-angguk dengan masih mengelus kumisnya yang tebal.
Si hitam sudah berlari meninggalkan hutan tersebut. Menggendong sahabatnya yang terus merintih kesakitan. Setelah mereka pergi Regit lalu menghampiri dua pemuda yang tak sadar itu. Ia lalu menjelma menjadi harimau kembali, kemudian membawa dua pemuda itu dengan mulutnya. Seperti kucing yang membawa anak-anaknya. Harimau tersebut lalu melompat kemudian berlari memasuki hutan itu, yang mana adalah hutan Pelangi. Tempat dimana terkumpulnya sebagian bangsa Siluman di dunia itu.
__ADS_1
Regit ini adalah seorang siluman. Siluman Harimau yang mempunyai julukan si raja harimau. Ia terpacaya rekan silumannya untuk menjaga hutan tersebut, sehingga ia dipercaya untuk menjadi penjaga Hutan Pelangi, yang mana pada kala itu disegani oleh bangsa monster, siluman yang lain, atau bangsa yang lainnya.
Dalam waktu beberapa jam tibalah si raja harimau itu di tempat perkemahan beberapa bangsa Siluman yang cukup jauh itu. Kedatangannya lalu disambut oleh beberapa orang.
“Kawan, kau bawa apa?” tanya sahabatnya yang bertubuh kurus kering. Tiga sahabatnya yang lain pun lalu mendekati si raja Harimau itu.
Regit lalu meletakan kedua pemuda itu dan tubuhnya lalu berubah menjadi manusia kembali.
“Menurut hidungku, mereka ini adalah manusia bumi.”
“Hah?” keempat lelaki itu lalu tercengang karena terkejut.
“Manusia bumi, katamu?” dari balik tenda tiba-tiba muncul suara seorang gadis.
“Emm,” Regit mengangguk. “Tidak salah lagi. Dulu aku pernah sesekali ke bumi dan aroma manusia adalah seperti mereka ini.”
Yang berada di tenda lalu membuka tenda. Gadis itu keluar dan terlihatlah sosok gadis 18 tahunan. Wajahnya putih seperti salju dan cantik. Rambutnya hitam diekor kebelakang. Bibirnya sangat merah seperti darah. Kedua matanya membayangkan kelincahan dan kecerdikan. Kedua tangannya itu bersembunyi dibalik jaketnya yang terbuat dari bulu serigala.
“Aku sudah bangun dari tadi, Eno.” Sahut si gadis cantik itu yang bernama Sofa.
Eno si kurus kering itu yang berumur 20 tahunan meringis berseri.
“Mengapa mereka ada di dunia ini?” seorang berpawakan jangkung maju selangkah. Kedua matanya yang tajam memandang ke arah kedua pemuda yang menggeletak pingsan itu.
“Aku tidak tahu pasti, Eagla.” Sahut Regit kepada seorang yang bermata seperti elang itu yang bernama Eagla. Ia berumur 19 tahun dan alisnya berdiri seperti alis elang.
“Mungkin mereka tersesat.” Sambung seorang lagi di antara mereka. Suaranya besar, tubuhnya gendut, pipinya menggembung, kedua matanya sipit karena lemak di wajahnya. Ia berumur 24 tahunan.
__ADS_1
“Aku setuju denganmu, Bafali.” Seorang pemuda lagi yang berumur 18 tahun. Ia menepuk pundak lelaki gendut itu yang bernama Bafali. Pemuda ini berwajah lincah, tubuhnya lebih pendek dari mereka, bibirnya selalu meringis. Kedua matanya lebar menunjukan kejenakaan. “Mungkin mereka ingin kemari untuk mencuri beberapa rambutan.”
Mendengar rekannya ini bicara ngaco, lantas kelima sahabatnya itu lalu melirik tajam ke arahnya.
“He-he-he!” pemuda jenaka itu tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya. “Dibumi ada rambutan. Mereka bukan pencuri, kok.”
“Kata siapa? Apa kau pernah kesana, Zhu?” Si gendut lalu memonyongkan bibirnya kepada pemuda jenaka itu.
“Tidak juga.” Sahut Zhu yang lalu membuang senyuman.
“Kenapa kau bawa mereka kemari, Regit?!” tanya Eagla menatap dengan kedua matanya yang tajam seperti elang ke arah si raja harimau itu. Kedua tangannya disilangkan, tubuhnya bersandar pada pohon.
“Mereka dalam bahaya, maka aku menolongnya.” Sahut Regit lalu mengambil duduk di depan api unggun.
“Bahaya?” Sofia mengangkat alisnya yang hitam. Memandang ke arah kedua pemuda yang tak sadar itu, baru memandang Regit.
“Penjaga istana Moon Air, mereka ingin turun tangan hendak mengambil usus mereka.”
“Who-ho, mereka sudah tambah gila!” si pemuda jenaka tertawa mengejek. “Aku tidak tahu apakah para Dewa, dewi dan peri yang berada disana pun sudah menjadi gila!”
“Pasti itu ada alasannya!” bantah Eagla. Ia lalu memandang Regit kembali. “Kau ceritakan bagaimana dua manusia itu bisa kau bawa kemari?”
“Tadi aku sedang mencari rusa.” Sahut Regit tanpa menoleh kepada siapa yang bertanya. “Saat rusa diam dan aku hampir mendapatkannya, tiba-tiba rusa itu berlari. Aku jadi marah dan menuju ke luar semak-semak untuk melihat siapa yang membuat mangsaku jadi kabur. Ternyata, kedua penjaga istana sedang mengejar kedua lelaki ini. Mereka semua berlarian. Sempat sesaat kedua manusia ini roboh, dan mereka ingin mencobak-cabik perutnya, maka aku turun tangan untuk membantu mereka. Kurang lebih seperti itu.”
“Hmph!” Eagla lalu mendengus. “Manusia bumi memang sangat lemah!”
“Eh, kuat siapa jika dibandingkan denganku?” tanya si gendut meringis-ringis ke arah Eagla. Namun pemuda angkuh itu memalingkan wajah dan tidak menjawabnya. Lantas si gendut lalu mendekati Zhu.
__ADS_1
“Lebih baik kita bangunkan mereka.” Sofia mengajukan usul. Regit memandangnya sesaat, lalu mengangguk.
“Biar aku saja!” si gendut lalu maju mendekati kedua manusia yang masih berbaring itu. “Biar hemat air, he-he.” Ia lalu meringis sambil membuka celananya hendak mengencingi mereka.