“Emm,” Riko mengangguk lalu menjelaskan. “Aku ke tempat ini dengan dua sahabatku. Saat di gerbang tadi, aku meninggalkan mereka berdua untuk mencari jalan menuju ke istana. Mereka masih berada di sana!”
Wulan menatap Riko dengan alis mengerut dan bibir sedikit terbuka. Ia lalu menutup bibirnya.
“Celaka, aku harus kesana secepat mungkin!” kata Riko cepat lalu ia membalikan badan dan berjalan hendak keluar dari kamar tersebut. Baru saja berjalan beberapa langkah Wulan sudah mengejar lalu berdiri di hadapannya. “Penjagaan di luar sangat ketat. Apalagi tadi bangsa monster berhasil memasuki tempat ini. Tentunya banyak penjaga berpatroli diluar sana. Kalau kau sampai ketahuan mereka, itu berbahaya sekali,” katanya sambil mengerutkan alis
“Aku mengkhawatirkan temanku. Tidak bisa aku untuk berpangku tangan berdiam di tampat ini!” sahut Riko yang lalu berlari meninggalkan ruangan tersebut. Wulan lalu hendak berlari namun ia mengurungkan niatnya. Jika ia ketahuan, maka mereka berdua akan mendapat hukuman dari Ayah handa. Pula dengan tanpa selendangnya itu, Wulan tidak dapat mengejar Riko yang sudah berlarian melewati kamar para dewi di lantai bawah. Ketika Riko berlari itu, yang ada di kepalanya ia akan menuju ke kamar gadis berselendang biru langit. Ang Zhani, Dewi itu sangat berkuasa sehingga ia hendak meminta bantuannya.
“M-manusia?”
“Eh, ada manusia?”
“Kenapa manusia ada disini?”
“Dia lumayan tampan...”
Begitulah reaksi para dewi yang ketika itu melihat Riko yang tengah berlarian. Seperti yang dituturkan oleh Wulan, bahwa para dewi sudah bersepakat tidak akan menceritakan apalagi membawa manusia kehadapan Ayah handa jika mereka melihatnya. Riko terus berlarian melewati kamar-kamar lalu melewati tangga dan tiba di lantai atas. Ia berlarian di lantai kedua lalu menuju ke kamar Ang Zhani yang berada di pojok kanan sendiri. Secepat mungkin ia lalu membuka pintu kemudian menutup pintu itu kembali. “Braghh!” Nafas Riko terengah-engah lalu ia jatuh terduduk bersandar pada pintu.
Zhani yang tengah bersisir di depan cermin lalu meletakan sisirnya. Ia membelalakan matanya seakan menegur Riko yang tahu-tahu sudah berada di kamarnya.
__ADS_1
Terdengar suara banyak orang yang tengah berbicara tak jelas di luar kamar. Zhani lalu mengangkat wajahnya kemudian berdiri. “Mundurlah!” bisiknya kepada Riko. Riko sempat memandang wajah dewi itu baru kemudian mengangguk. Ia berdiri kemudian bersembunyi di balik almari.
Zhani berjalan anggun menuju ke pintu kamarnya lalu membukanya. “Kreeekk...” Pintu di buka perlahan. Ternyata di luar pintu sudah berdiri 19 dewi yang tengah berbicara satu sama lain. Membicarkan manusia yang mereka lihat tadi. Melihat pintu terbuka dan muncul ketua mereka, ke 19 dewi itu lalu terdiam kemudian menunduk.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Zhani tenang. “Kenapa kalian berada disini?”
“Kami melihat manusia di tempat ini, ketua.” Sahut Hanmei si selendang hijau.
“Dia tadi menuju ke kamar anda, ketua,” sahut Mia si selendang hitam.
Para Dewi lalu mengangguk-angguk kemudian berbicara tak jelas kepada satu sama lainnya.
“Hmph!” terdengar dengusan dari si selendang jambon. Seketika itu juga para dewi lalu memandang ke arahnya, begitu pula dengan Zhani. “Apa anda menyembunyikan sesuatu dari kami, ketua?”
Zhani lalu memandang ke arah dewi bertahi lalat di atas bibir itu. Ia kemudian membalikan badan menghadap mereka kembali.
“Jelas-jelas tadi kami melihat manusia itu menuju dan memasuki kamar anda. Bagaimana bisa ketua tidak melihatnya?”
“Itu benar!” si selendang nila pun menyambung. “Aku yang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana manusia itu memasuki kamar ketua!”
__ADS_1
Para Dewi lalu memandang ke arah dewi berselendang nila yang berpipi tembem itu. Mereka seperti ingin mendapatkan jawaban ketua mereka sehingga mereka lalu menghadap ketua mereka kembali sambil menundukan kepala.
“Bagaimana, ketua? Manusia itu berada dikamar anda, bukan?” Dewi berselendang jambon tersenyum mengejek ke arah Zhani.
Zhani tetap memandang dewi tersebut dengan tatapan tenang. Ia kemudian menjawab dengan senyuman. “Tidak!”
“Kalau begitu terpaksa kami harus menerobos kekamar anda!” seru si selendang jambon yang lalu tubuhnya melesat menuju ke celah pintu yang terbuka itu.
“Kau jangan lancang!” tegur Zhani lalu tangan kirinya digerakan dan tidak tahunya sudah mencekal pundak dewi berselendang jambon itu sampai tidak dapat melesat kembali. Lantas dewi bertahi lalat di atas bibir itu lalu mengeluh, mengerutkan alis sambil mendongakan kepala menatap wajah Zhani.
“Maafkan aku, ketua!” seru si selendang nila lalu tubuhnya pun melesat menuju ke celah pintu. Dewi itu pun sama dengan dewi yang tadi. Ketika tubuhnya hampir sampai memasuki pintu kamar, pundaknya sudah tercekal tangan kanan Zhani dan tubuhnya tidak dapat melesat kembali.
“Sudah aku katakan aku tidak melihat siapa-siapa. Kalian jangan lancang atau aku tidak akan segan-segan terhadap kalian!” ancam Zhani lalu di lemparnya kedua dewi tersebut sampai melesat 10 langkah kemudian mereka berteriak dan terjatuh.
“Maaf, ketua. Aku pun ingin memastikannya!” Hanmei si selendang hijau pun lalu melesat ke arah pintu. Melihat kawannya berani kini para dewi pun lalu melesat ke arah pintu yang terbuka itu. Karena mereka penasaran sekali dengan manusia yang tadi mereka lihat. Dewi selendang jambon dan nilai pun lalu berdiri dan ikut melesat kembali.
Zhani lalu mendirikan alis dan siap menghalangi ke 19 dewi ini yang hendak menerobos kedalam kamarnya. Ia menghela nafas lalu terjadilah pertarungan di antara mereka. 19 wanita melawan 1 wanita. Bertarungan dengan pukulan dan tendangan yang mana diluncurkan ke arah ketua mereka. Sementara Zhani hanya bertahan dan sesekali balas menyerang dengan pukulan dan tendangannya pula. Tidak ada serangan yang berbahaya diantara mereka karena mereka tidak ingin melukai satu sama lain, hanya ingin melumpuhkan ketua mereka agar mereka dapat memasuki kamar tersebut untuk melihat manusia yang dilihatnya tadi.
Riko yang tengah bersembunyi dibalik almari lalu mengintip mereka. Ia lihat keroyokan yang tertuju kepada gadis anggun itu. Ia sempat menyuarakan terkejut namun ia lalu menarik wajah dan mundur kebelakang untuk lebih bersembunyi. Tak terduga sama sekali olehnya, ketika ia mundur kebelakang, setelah sekian langkah tubuhnya tiba-tiba jatuh melorot kebawah. “Aaaaa...!” tubuhnya lalu terjeblos kedalam lantai. Riko saat itu sudah terjatuh di sebuah tempat lain. “Braggh!” Ia lihat lobang diatas menutup kembali dan tahulah dia bahwa kini ia berada diruangan bawah tanah.
__ADS_1