The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 4


__ADS_3

Tak tahan lagi Riko lalu mengelurakan suara. “Kau... tidak apa-apa?” Riko bertanya sambil mengamati gadis yang berada di depannya. Dadanya grogi karena berdekatan dengan gadis secantik yang dihadapannya sehingga pertanyaan tadi bernada datar.


Gadis itu menggeleng perlahan. Ia lalu berdiri dan membalikan badan berjalan ke depan.


“N-nona!” Riko kemudian berdiri dan gadis itu pun berhenti. Gadis itu lalu menoleh sambil tersenyum. Namun senyumannya itu hanya sesaat karena ia melihat Riko jatuh tengkurap seperti halnya cicak mati di lantai, karena pemuda itu tersandung bebatuan kecil saat hendak mengejarnya. Tak dapat tertahan lagi gadis itu lalu tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanannya.


“Kau tidak apa-apa?” tanya gadis itu sambil menahan tawa dengan senyuman. Suaranya terdengar halus dan merdu.


Riko lalu mengangkat wajah. Nampak debu menempel pada wajahnya yang putih. “Oh, tak apa, tak apa.” Riko kemudian berdiri lalu berjalan mendekati gadis itu. Setelah di dekatnya ia lalu mengusap debu yang menempel pada pakaiannya.


“Hik-hik, lihat wajahmu.” Si gadis tertawa manis lalu memalingkan wajah dari Riko.

__ADS_1


Riko lalu memandang pipinya sendiri. Sampai kadang kedua pupilnya berdekatan. “Ohh.. ha-ha! mungkin terkena debu tadi, nona.” Sahut Riko tertawa lalu ia membersihkan wajahnya dengan lengan bajunya. “Eh, Nona. Lebih baik kita berjalan bersama, agar aku tidak terjatuh lagi, dan kau juga tidak akan terjatuh sepertiku karena tanah disini benar-benar banyak sekali gundukannya. Setuju? hi-hi-hi.” Ledek Riko lalu mereka berjalan ke arah cahaya yang berada di depan mereka. Sang gadis pun tersenyum malu sambil menunduk dan berjalan di samping Riko.


“Nona, sebenarnya tempat apa ini?” Riko bertanya sambil memandang cahaya di depannya yang mulai mendekat.


“Kau tidak tahu?” gadis itu berhenti lalu mengawasi wajah Riko.


“Eh?” Riko pun berhenti. Ia lalu mengedipkan matanya berulang kali karena di pandang oleh sinar mata yang jelita begitupun wajah pemiliknya. “Apa kau... teman kakekku?” akhirnya ia bertanya setelah menguasai perasaannya.


“Kakekmu?” sang gadis mengawasi wajah Riko sambil tersenyum. Seperti seorang yang kagum dan tidak pernah melihat lelaki saja. “Aku tidak tahu.” Gadis tersebut menggeleng kepala lalu berjalan mendahului Riko.


“Kau mau kemana?” tanyanya.

__ADS_1


“Eee.." Riko berhenti sejenak. "Mengikutimu.” Sahutnya lalu berjalan mendahului gadis tersebut.


“Eh, mana boleh!” gadis itu lalu berlari dan memegang lengan Riko. Riko kaget karena lengannya di genggam oleh tangan yang halus itu. Ia kemudian memandang lengannya, berikut wajah sang gadis. Gadis tersebut sadar bahwa tanpa sengaja ia memegang tangan Riko. Maka ia melepas kemudian membalikan tubuh dan menunduk. “Kau tidak boleh kemari. Kau kembali saja keduniamu.” Ucapnya parau.


“Kenapa tidak boleh? Bukankah ruangan ini milik kakekku?” Riko lalu berjalan mendekati sang gadis dan gadis tersebut kembali menunduk. “Dan, apa maksudmu aku kembali keduniaku, apakah tempat ini bukan duniaku?”


“Bukan.” Gadis tersebut menyahut cepat lalu membalikan badannya menghadap Riko. “Kau kembalilah. Akan sangat bahaya kalau kau masuk lebih dalam lagi.” Pintanya dengan kerutan alis. Wajahnya menunjukan kecemasan dan kekhawatiran,


“Ha-ha-ha.” Riko tertawa dihidung. “Kau membuat aku bingung, Nona. Apa maksud perkataanmu itu?”


“Di depan sana adalah dunia kami. Manusia dilarang memasukinya.” Jawabnya serius.

__ADS_1


Riko lalu menoleh ke arah cahaya yang berada di depannya. Ia menghela nafas kemudian kembali memandang gadis tersebut. “Apa kau bukan manusia?” tanya Riko berbisik.


Mendengar pertanyaan Riko, gadis tersebut tertawa geli sambil masih menunduk. “Tentu saja aku manusia. Hanya saja... tidak seperti kalian.”


__ADS_2