“Jondan?” Riko mengeluarkan suara seraya menangkap pikiran. “Ah, dimanakah dia?”
“Ha-ha-ha-hahh...” terdengar suara tawa seseorang dengan diikuti oleh bertepuknya sepatu. Riko lalu menoleh ka arah suara itu. Perlahan lahan muncul bayangan seseorang. Dan setelah beberapa saat muncullah lelaki dewasa yang pernah sekali dijumpainya. Lelaki itu menyeringai sambil memandang Riko dengan mata ingin melahap. Kulitnya yang hitam serta kepalanya yang gundul itu menampakan keangkeran karena tempat tersebut berada di bawah tanah yang gelap dan hanya ada penerangan beberapa obor di samping dinding. “Manusia...” katanya. “Ijinkanlah aku memperkenalkan diri lagi untuk mengingatkanmu. Aku Pawmina, tangan kanan yang mulia Bison, sekaligus pengekangnya. Ha-ha-ha-ha!”
“Kau suka sekali tertawa, Pawmina!” sahut Riko sambil mendirikan alis memasang wajah gusar.
“Ha-ha-ha, benar!” sahutnya. “Karena aku suka melihat orang menderita! Sepertimu, manusia bumi yang kehilangan dua teman silumannya! Ha-ha-ha-hah!”
Seketika Riko tersentak kaget, “Apa maksudmu?!”
“Kau melihat sendiri kan betapa dua teman silumanmu itu membelamu mati-matian? Hmph, sekarang mungkin mereka hanya tinggal tulang-tulangnya. Yaa... karena aku suruh prajuritku untuk memeakan mereka. Ahhh, prajuritku itu selera makannya memang besar. Cukup repot sebenarnya aku, kha-ha-ha-ha-hahh...”
“Kau... ********...” kata Riko lemah sambil menunduk. Kedua tangannya mengepal dan air matanya menetes keluar. Seandainya dia punya kekuatan, ingin sekali ia menerjang dan mencincang-cincang monster gundul yang ada di depannya itu.
__ADS_1
“Haa-haa-haahh...” tawa Pawmina bergelak. “Yang ******** itu temanmu yang gondrong! Dia malah lari terbirit-birit saat kalian bertiga sudah roboh. Seharusnya kata-katamu itu dilontarkan kepadanya. Hah! Tapi salah satu prajuritku tak membiarkannya lolos, dan pastinya temanmu itu tidak lolos. Mungkin juga sudah tinggal tulangnya. Ha-ha-ha-ha-hahh... Eh, tidak tidak tidak, aku ingin mengambil jantungnya, jadi mungkin sekarang anak buahku sudah mencukil jantungnya itu, ha-hah, kau tahu dengan jantung kalian bertiga aku akan menjadi abadi, kan? Itu indah sekali! Aku akan menghancurkan semua kerajaan, semua bangsa, dan menguasai dunia! Aku akan merubah dunia ini sesuai dengan keinginanku, bha-ha-ha-ha-hahh...!”
“Berhenti bicara...” kata Riko masih menunduk. Ia lalu mengangkat kepalanya cepat dan berteriak dengan leher menjulur dan menengang, “Kalian bangsa Monster memang tak punya perasaan! Bangsa kalian adalah bangsa yang terkutuk! Sebentar lagi, hitungan hari lagi, kalian semua pasti musnah dari alam ini! Aku sungguh membenci kalian semua! Akan ku hancurkan kalian sampai tidak tersisa lagi! Tak ku ijinkan kalian lahir kembali ke dunia ini...!!! Enyahlah kalian semuaaa...!!!”
Mendengar kemarahan Riko tanpa disadari Pawmina tercengang dan mundur dua langkah. Hal itu amat mengherankan dirinya. Padahal ia sama sekali tidak pernah gentar menghadapi apapun. Mungkin karena suara Riko penuh amarah dan keseriusan sehingga Pawmina jadi seperti itu. Namun setelah beberapa detik, Pawmina kembali bisa menyeringai jahat lalu menertawai Riko yang sudah pingsan karena kehabisan tenaga. “Wha-ha-ha-ha-hah, bagus sekali.” Tawanya. “Tunggu sebentar lagi, maka kau akan menjadi bagian tubuhku!” bisiknya kepada Riko yang sudah pingsan lalu ia tertawa kejam. Ia membalikan badan lalu keluar dari tempat itu.
Sesampainya diluar ia menuju ke tempatnya, di tenda kulit. Ia menuju kesana dengan meringankan badan secara gesitnya. Kepandaian Pawmina ini memang sudah mencapai tingkat tertinggi. Ia merupakan orang kedua yang terkuat dari semua bangsanya.
“Tuan Pawmina!” ucap salah seorang prajurit setelah Pawmina memasuki tendanya. Ada enam prajurit dengan memakai baju baja dan helm perang. Prajurit ini seperti para penjaga namun mereka lebih tinggi dan kuat.
“Maaf, tuan,” sahut si prajurit.”Salah pasukan monster Kong yang saat itu mengejarnya ternyata gagal. Ia mati terbunuh oleh seseorang yang aneh. Orang itu kelihatannya kuat, dengan sekali serangan saja, ia sudah dapat membunuhnya.”
“Orang itukah yang membawanya?” tanya Pawmina sambil mengerutkan alis.
__ADS_1
“Benar, tuan. Manusia itu dibawanya meringankan badan entah kemana.”
“Apa kau tahu seperti apa rupanya orang itu?”
“Dia seperti kelelawar, tuan. Wajahnya pucat dan bergadil. Usianya sudah lanjut, namun tubuhnya masih terlihat segar.”
Pawmina lalu terkejut. Ia kemudian memandang kejurusan lain seraya berpikir. “Kelelawar Anoh...” ucapnya bergumam. Ia lalu tertawa menyeringai. “Berani-beraninya kau mencampuri urusanku!”
“Tuan, bagaimana?”
Pawmina lalu mengibaskan tangannya ke udara. “Kerahkan pasukan! Kejar dia dan bawa mereka entah itu hidup maupun mati!”
Prajurit itu mengangguk. “Baik, tuan!”
__ADS_1
Ke enam prajurit itu lalu membalikan badan keluar dari tempat itu.
“Sialan!” geram Pawmina. “Padahal sebentar lagi...”