Dunia itu memang benar adanya.” Sahut sang kakek. “Dan kau, tidak boleh memasuki dunia itu. Kalau kau bersikeras hendak kesana, maka dirimu akan sangat rendah dari pada mereka, dalam hal kekuatan. Kau tidak akan bisa mempertahankan diri saat mereka menyerangmu. Mereka itu bukan manusia seperti kita. Akan tetapi para Dewa dan Dewi. Hidup didunia bukan tempat tinggal kita ini. Disana ada kerajaan yang sangat luas. Penghuninya pun bukan hanya dari kalangan dewa dewi. Akan tetapi monster, siluman dan manusia bangsa lain. Jika kau ketahuan masuk kesana, maka kau akan dikejar banyak orang. Serta mendapatkan celaka!”
“Aku tidak peduli, kek. Aku ingin menemui Wulan untuk mengembalikan selendangnya!”
“Ha-ha-ha!” sang kakek tertawa sambil bertolak pinggang. “Apa kau menganggap gadis itu seperti Nawang Wulan, yang jika tanpa selendangnya, maka kekuatan biadadarinya itu akan musnah?” ucapnya lalu kembali tertawa sampai perutnya berdenyut-denyut. ( Nawang Wulan adalah tokoh dalam dongeng Jaka Tarub yang mana merupakan bidadari yang menikah dengan Jaka Tarub karena selendang Nawang Wulan dicuri olehnya, sehingga bidadari tersebut tidak bisa kembali ke khayangan )
“Aku serius, kek.” Riko lalu mengeluarkan selendang di sakunya lalu di angkatnya dengan tangan kanan. “Ini selendangnya. Kami sempat berbenturan dan ia tidak merasa bahwa selendangnya terjatuh!”
Sang kakek lalu menghentikan tawanya itu. Ia lalu cepat-cepat mendekati selendang itu sambil memandang serius. Begitu pula dengan Doni dan si lelaki kekar. Mereka berdua mendengar semua pembicaraan mereka sehingga ia sudah berada di belakang kakek tersebut lalu mengikuti memandang selendang tersebut. Selendang panjang berwarna putih dan berlukiskan burung cendrawasih berwarna perak. Di tengah selendang terdapat bekas telapak sepatu bot milik Riko.
“Kau benar-benar bertemu dengannya?” sang kakek melongo masih tetap mengamati selendang yang membuatnya kagum itu. Kagum karena benda tersebut mengeluarkan aura yang dapat dirasakan hanya oleh dirinya.
Riko mengangguk kemudian menyakukan kembali selendang tersebut ke dalam bajunya. Lantas mereka bertiga yang tengah memandang selendang tadi lalu mengernyit bibir dan menampakan wajah kecewa karena tidak melihat selendang yang indah itu lagi. “Aku yakin kakek tahu dan aku mohon beritahukan kepadaku bagaimana caranya, kek?” pinta Riko sungguh-sungguh dengan alis berkerut.
__ADS_1
“Kau adalah cucuku, kau adalah cucuku.” Ucap sang kakek perlahan sambil membalikan badan. “Kau bersikeras ingin mengembalikan selendang tersebut, maka aku akan memberitahukannya..”
“Ah!” Riko lalu berseru girang. “Terima kasih, kek!” ucapnya kemudian mengikuti kakeknya yang mana berjalan menuju ke tempat dimana tadi terdapat patung wanita cantik yang menempel pada dinding.
Si lelaki kekar dan Doni masih berdiri sambil memandangi kakek dan cucunya yang tengah berjalan berdampingan. Mereka melongo karena ikut terbawa dan tergambar di kepala mereka apa yang tadi Riko dan kakeknya bicarakan.
“Kau percaya akan hal itu?” si lelaki kekar minta pendapat Doni namun mulutnya masih melongo.
“Ya!” sahut Doni yang juga melongo. “Aku percaya!”
Riko dan kakeknya akhirnya sampai di tempat tujuannya. Doni dan lelaki kekar pun sudah berada di belakang mereka.
“Nah, kosentrasi!” Pinta sang kakek. Riko pun lalu menuruti perintahnya dan segera memejamkan kedua matanya. “Kau juga ingin ikut?” tanya sang kakek setelah menoleh ke arah Doni dan si lelaki kekar. Doni mengangguk-angguk mantap sedangkan si lelaki kekar tidak mengangguk namun juga ingin mencobanya.
__ADS_1
“Tutup mata kalian, dan kosentrasilah...” sang kakek lalu mundur kebelakang sementara Riko, doni dan si lelaki kekar sudah memeramkan mata sambil mengerutkan kening.
“Lebih dalam... dan lebih dalam...” bisik sang kakek sambil mengambil stik pemukul bola golf yang bersandar di samping kirinya itu lalu, “Bukk! Bukk! Bukk!” stik tersebut melayang memukul tiga kepala secara beruntun. Yang dipukul sama sekali tidak menduganya dan mereka lalu berteriak kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya.
“Tua ******* apa yang kau lakukan!” seru si lelaki kekar sambil meringis memegangi kepalanya yang benjol.
“Oh ternyata kalian masih belum pingsan? Sini ku pukul kembali!” sang kakek lalu mengangkat kembali stiknya namun Riko tiba-tiba berseru.
“Pintunya!” seru Riko. “Aku melihatnya!” serunya tanpa memperdulikan sakit kepalannya lagi. Ia berlari menuju ke pintu tersebut dan memasukinya.
“Ah, benar! Aku juga melihatnya!” Doni pun juga berseru lalu berlari mengikuti sahabatnya.
Sementara si lelaki kekar itu melongo. Ia pun melihat di samping kirinya ada pintu yang sudah terbuka, padahal tadi ia tidak melihatnya. Ia lalu menoleh ke arah si kakek dan kakek itu lalu tertawa sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Si lelaki kekar lalu mengawasi pintu tersebut, kemudian berlari dengan langkah terhuyung-huyung karena rasa tidak percayanya.
__ADS_1
“Ha-ha-ha....!” sang kakek tertawa sambil meggelengkan kepala setelah tiga pemuda itu sudah tidak lagi berada di depannya.