The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 24


__ADS_3

Riko terus berlari menuruni lereng di sebelah selatan itu. Ia tengok ke belakang ternyata ketiga puluh prajurit dengan seorang perwira hampir dapat mengejarnya karena mereka semua berkuda. Pemuda itu lalu menambah kecepatan laju kakinya setelah memaki, ‘Sialan!’. Namun Riko adalah seorang manusia tulen, maka dengan kecepatan yang dilakukan sepenuhnya itu, kadang tubuhnya terhuyung-huyung bahkan terjatuh. Dengan ditemani oleh tengah malam yang terang itu ia tidak susah dalam melihat jalanan. Namun kedua kakinya yang susah karena sepatu botnya itu robek pada telapak sepatunya. Maka ia lalu berhenti sesaat dan secepat mungkin ia buang sepatu itu dan kini berlarian dengan telanjang kaki. Menelusuri padang rumput, hutan, dan padang rumput lagi. Kedua kaki Riko sekarang terasa amat perih. Pada waktu berlari di hutan tadi ia banyak menginjak dedurian dan bebatuan. Saat melewati sungai ia pun menginjak kulit duren yang tertindih bebatuan sungai. Ia sekarang amat payah dalam berlari. Langkahnya pincang, dirinya telah merasa tak kuat lagi. Pemuda ini lalu mengeluh. Tubuhnya roboh.


Lama kelamaan rombongan prajurit itu mendekat ke arah Riko. Melihat yang dikejar sekarang jatuh di atas tanah sambil meringis kesakitan, giranglah sang perwira yang memandu ke 30 prajurit itu. Mereka lalu memperlambat laju kuda mereka. Namun Riko adalah bocah yang tidak mudah putus asa, walaupun kedua telapak kakinya terluka, sebisa mungkin pemuda ini merangkak untuk menghindar dari mereka. Melihat betapa yang dikejar merangkak hendak menjauh, tertawalah si perwira itu dengan di ikuti oleh ke 30 pasukannya. Ia kira pemuda itu sudah ketakutan setengah mati sehingga merangkak dengan payahnya.


“He!” sang perwira brewok itu mendengus. “Biar ku mainkan dulu dia sebelum kuserahkan kepada paduka,” katanya lalu melesatkan kudanya mendekati pemuda itu. Riko yang melihat dirinya sedang dikejar oleh seorang perwira, maka cukup giranglah pemuda itu. Ketika perwira tersebut turun dari kudanya untuk hendak menuju kearahnya, Riko lalu membalikan badan dan secepatnya melompat kemudain memukul wajah sang perwira tersebut. “Hyaahh!” kepalan tangan Riko diluncurkan menuju ke arah wajah si perwira. Namun Riko tidak tahu bahwa perwira-perwira kerajaan Yuansu itu bukan sembarang orang, melihat ada serangan menuju ke arah wajahnya, sang perwira tersebut lalu berhasil menangkap lengan Riko. Terkejutlah hati Riko melihat bagaimana lengannya dengan mudah dicekal oleh tangan yang kuat seperti besi itu. Secepat mungkin Riko berusaha melepas namun ternyata pegangan si perwira itu sangatlah kuat seperti penjepit baja saja.


“Ha-ha-ha! Manusia memang lemah.” Kata si perwira itu lalu menggeleng. “Payah payah,” Lalu paha kanannya terangkat kemudian dipancalkan ke arah perut pemuda itu.


“Uagahh...” tak dapat ditahan lagi tubuh Riko terpental dan menyemburkan cairan. Ia jatuh di atas tanah sambil mengeluh memegangi perutnya. Si perwira terlihat bangga dan bertolak pinggang. Sementara ke 30 prajurit sudah berbaris rapi dibelakangnya.

__ADS_1


“Tuan, sebaiknya kita cepat bawa manusia itu ke hadapan paduka.” Usul seorang diantara para prajurit.


“Hmph! Santai saja.” Sahut si lelaki brewok. “Aku ingin bermain dengan **** bumi ini.”


“Cuih!” karena mendongkol di maki **** oleh sang perwira. Riko lalu meludah dan tanpa dihindari berhasil mengenai wajah sang perwira. Lantas perwira tersebut lalu mengelap wajahnya dengan muka memerah.


“Anjing!” makinya lalu perwira tersebut mengangkat kerah baju Riko. Diangkatnya tinggi-tinggi lalu dibantingnya. Riko kembali mengeluh dan keadaanya sekarang semakin payah. Tubuhnya lemah sekali dan tubuhnya sangat kotor oleh karena terkena debu-debu dan lumpur di sekitar tempat itu.


Merahlah wajah periwira ini. Karena dasar wataknya brangsangan, maka untuk melampiaskan kegusarannya, ia lalu membentak, “Bajingan!” bentaknya dan ia tidak membiarkan Riko berdiri sehingga ia lalu menendang tubuh pemuda itu kembali. “Ugghh...” Riko terpental kebelakang lalu terbatuk dengan mengeluarkan air karena perutnya terasa pegal sekali.

__ADS_1


“Tuan, sebaiknya kita bawa manusia ini hidup-hidup!” usul salah seorang prajurit kembali.


“Huh!” periwira tersebut mendengus sambil maju dengan langkah lebar mendekati Riko yang terbaring dengan amat payah. “Paling tidak aku akan menyobek mulut lancang manusia ini dulu!” katanya yang lalu meloloskan pedang dari pinggangnya. Pedang tersebut di cekal dengan tangan kanannya lalu di arahkan ke mulut Riko yang sudah berbaring tidak berdaya.


Ketika pedang perwira tersebut hendak digerakan, yang bermaksud untuk merobek mulut Riko, tiba-tiba melesat sebuah kerikil mengenai ujung pedang tersebut. “Tang!” lengan sang perwira terasa bergetar dan pedangnya lalu terlepas dari tangannya.


Melihat kejadian ini, para prajurit lalu turun dari kudanya masing-masing. Mereka berbaris dibelakang sang perwira sambil mengawasi kanan-kiri tempat tersebut.


“Siapa? Keluarlah?!” seru si perwira dengan gusarnya.

__ADS_1


Baru saja berkata, dari balik semak-semak di sebelah kiri muncullah seekor harimau yang besarnya seukuran dengan 3 harimau biasa. Harimau tersebut melompat mendekati mereka dan mengaum sampai kelihatan taringnya yang tajam, serta lendirnya. Auman tersebut mendatangkan angin yang meniup para prajurit sehingga sebagian ada yang sudah menciut nyalinya.


__ADS_2