Setelah berlarian beberapa menit akhirnya ia melihat pintu dimana tadi ia memasuki terowongan tersebut. Pintu itu terbuka dengan sendirinya dan Ia lalu menerobos kemudian tanpa disengaja tubuhnya tertarik oleh suatu kekuatan kembali. Riko berseru karena tubuhnya tiba-tiba melayang tak terkendail oleh dirinya. “Waaaaa...!” pemuda ini seperti kucing yang dilempar oleh majikannya saja karena ia terlempar begitu tinggi baru kemudian terjatuh sampai membentur meja dimana Doni dan si lelaki kekar tengah menyantap makanan dengan enaknya!
“Brugghh...!” Melihat Riko jatuh tengkurap menindih meja yang sudah ambruk terkena tubuhnya, Doni dan si lelaki kekar langsung melongo. Tumpukan mie masih tersumpal di mulut mereka lalu mie tersebut perlahan jatuh ke rambut Riko.
“Ughh...” Riko mengangkat wajah. Ia berusaha berdiri namun perlahan sekali. Pinggangnya terasa sangat encok dan dadanya terasa pegal-pegal. Ia kemudian berdiri sementara Doni dan si lelaki kekar terus mengawasinya dengan mulut melongo.
Melihat dua pemuda memandangnya seperti orang tidak sadar, Riko lalu memecah kesunyian dengan tertawa terpaksa. “Ehe-he-he, maaf telah mengganggu makan siang kalian.” Katanya sambil mengawasi wajah mereka berdua yang masih melongo sambil memegang mangkuk makanan mereka. Riko lalu menghentikan senyumannya. Ia merasakan ada sesuatu di rambutnya. Ia kemudian memegang rambutnya. Ia melihat ada banyak mie yang sudah basah di genggamannya. Ia lalu membuangnya ke lantai dengan wajah memaki.
“Kau bisa terbang, Riko?” tanya Doni. Namun pertanyaan itu seperti orang tak sadar. Ia masih melongo sambil perlahan memasukan nasi kemulutnya.
“Terbang apanya?!” Riko membuang mie terakhir di kepalanya lalu berdiri. Ia membalikan badan lalu mengamati pintu dimana ia keluar tadi. Dan alangkah terkejutnya dia. Ia kemudian menuju ke tempat itu sambil mengerutkan alis. Ternyata pintu tadi hilang. Ia meraba-raba dinding yang mana tadi adalah sebuah pintu. Apa ia sedang dalam mimpi atau bagaimana? Bagaimana mungkin tempat dimana ia keluar telah lenyap dengan begitu saja. Dan ia lalu teringat patung tadi. Riko lalu menoleh kemudian menuju ke tempat dimana sebuah patung wanita menempel pada dinding. Ia menuju kesana dengan langkah lebar. Dan ia mendirikan alis keheranan. Patung tersebut ternyata tidak ada lagi didinding. Ia memutar otak memikirkan kejadian tersebut. Namun ia sama sekali tidak paham.
“Kakek...!” Riko berseru lalu berjalan dengan langkah lebar menuju ke dapur. Timbul keinginannya untuk bertanya akan kejadian tersebut. Melihat kawannya seperti orang terburu-buru, Doni lalu meletakan mangkuknya kemudian mengikuti kawannya menuju kedapur. Karena ia tertinggal sendirian, si lelaki kekar pun lalu berdiri kemudian mengikuti mereka.
“Kakek!” panggil Riko cepat setelah berada dekat dengan sang kakek. Kakek tersebut tengah duduk di depan meja sambil memegang pensil dan di atas meja ada selembar kertas lebar. Ia seperti tengah melukis. “Kakek apa tahu terowongan yang terdapat bunga bercahayanya, dan terowongan tersebut menuju ke dunia lain?” tanya Riko mendekati sang kakek dengan nafas memburu karena masih lelah berlarian. Sementara Doni dan si lelaki kekar sudah berada di situ dan berjalan menuju ke arah Riko. Si lelaki kekar masih mengunyah makanannya.
Kakek tersebut tidak menyahut. Ia masih tetap asyik melukis. Seperti tidak menghiraukan ada tiga pemuda berada di depannya.
“Kakek apa tahu terowongan yang terdapat bunga bercahayanya, dan terowongan tersebut menuju kedunia lain, kek?” Riko mengulangi lagi sambil berjalan sampai di samping kakeknya. Ia mengamati apa yang kakek lukis. Ternyata lukisan tersebut adalah sosok seorang gadis yang mana berwajah cantik sekali. Riko seperti mengenal apa yang kakek lukis. Lukisan itu berambut hitam panjang dan ada hiasan perak di rambutnya. “Dan aku bertemu dengan gadis itu, kek!” Riko berseru menunjuk lukisan tersebut.
Doni dan si lelaki kekar saling pandang. Mereka lalu menuju ke arah Riko kemudian memandang lukisan yang amat cantik itu.
“Kau bertemu dengan gadis itu, sobat?” si lelaki kekar tersenyum lalu mendengus mengejek setelah melihat lukisan itu. “Ha-ha-ha-hah... Mimpi sekali kau ini!”
__ADS_1
Riko tidak mengubris perkataan lelaki itu. Ia kemudian berkata lagi. “Aku memasuki sebuah pintu dan tak tahunya aku sampai di sebuah tempat yang dihiasi oleh bunga bercahaya, kek. Aku sungguh bertemu dengan gadis yang kau lukis itu. Kami sempat berkenalan dan namanya ialah... Wulan.” Ucapnya bersungguh-sungguh.
Sang kakek lalu menghentikan lukisannya. Meletakan pensil di atas kertas, lalu berdiri mengawasi wajah Riko. Ia melihat sinar mata Riko yang mengandung kejujuran. “Kau sungguh melihatnya?” tanya sang kakek.
“Emm,” Riko mengangguk pasti. Mereka berdua lalu bertatap mata serius sekali sampai cukup lama.
“Bocah sedeng!” kakek itu cepat menjitak kepala Riko dan yang dijitak tak sempat menghindarinya. Maka Riko lalu memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan. “Siang-siang bolong begini sudah mimpi tidak karuan!” ketusnya lalu ia membalikan badan dan pergi meninggalkan mereka.
Riko masih meringis kesakitan. Ia tidak menyangka kakeknya akan menjitak kepalanya dengan begitu keras begini.
“Ha-ha-ha, kau mungkin banyak nonton film dan membaca dongeng-dongen masa dulu, kawanku..” Lelaki kekar itu bertolak pinggang lalu tertawa bergelak meninggalkan mereka sambil menggelengkan kepalanya.
“Riko?” Doni lalu berbisik ke sahabatnya. “Apa kau serius dengan perkataanmu tadi?”
“Dan saat kau terlempar ke meja, itu kenapa?”
“Aku berlarian kembali ke pintu dimana aku memasuki tempat tersebut. Tapi tak tahunya seperti ada energi manarikku sehingga aku menabrak meja seperti tadi.”
“Ohh...” Doni mengangguk-angguk seperti tertarik.
“Aku ingin menuju ke tempat itu kembali, Doni. Aku ingin bertemu Wulan dan memotretnya. Ia sangat cantik seperti dewi-dewi kayangan!”
“Ah? Benarkah itu?”
__ADS_1
“Tentu benar. Kau bawa Hp, kan?”
“Ya, aku bawa.” Doni mengangguk semangat.
“Bagus. Ayo kita cari pintu masuknya.” Riko lalu mengajak sahabatnya untuk keluar dari dapur itu. Setelah berada di ruang tamu mereka berdua lalu jumpai si lelaki kekar yang sedang asyik makan makanannya kembali. Lelaki itu lalu menoleh kearah mereka dengan gumpalan makanan di pipi kanannya. Ia lalu mengunyah makanan itu baru kemudian menyeru. “Apa yang kalian lihat?!”
“Tidak,” Riko menggeleng kepala. “Kau tahu dimana kakekku?”
“Hmmh!” sahut si lelaki kekar sambil menunjuk pintu luar rumah dengan kepalanya.
Riko memandang punggung si lelekai kekar itu sesaat, baru kemudian ia berjalan ke arah pintu dengan diikuti oleh sahabatnya. Namun baru saja hendak sampai, sang kakek sudah kembali masuk kedalam rumah.
“Kakek?” panggil Riko. Kakek tersebut berhenti, lalu menatap cucunya sambil tersenyum seperti orang linglung. Bagaimana tidak? Tadi marah, sekarang malah terlihat ramah dengan begitu cepatnya.
“Apa kakek tidak tahu tempat apa yang tadi aku masuki?”
“Ha-ha-ha...!” sang kakek tertawa bergelak sambil berjalan melewati cucunya.
“Aku bertanya serius, kek!” Riko menyahut sambil membalikan badannya. “Aku benar-benar memasuki sebuah pintu yang aku lihat disana, lalu memasukinya hingga aku berada di sebuah terowongan yang dihiasi oleh bunga-bunga bercahaya. Di tempat itu aku bertemu dengan seorang gadis. Ia sangat cantik sekali dan bernama Wulan. Aku dan dia sempat berjalan bersama, menuju ke arah cahaya yang berada di depan kami. Aku ingin melangkah lebih jauh dan mendekati cahaya itu yang ternyata adalah sebuah pintu, namun Wulan melarangku untuk masuk. Katanya, manusia tidak boleh memasuki tempat tersebut. Dan aku ingin bertanya, kek. Dunia apa sebenarnya disana? Dan bagaimana caranya aku untuk memasuki tempat itu kembali?”
Sang kakek lalu berhenti. Ia membalikan badan lalu memandang cucunya dengan bibir melengkung kebawah. Ia lalu mendekati Riko sambil berjalan perlahan. “Kau sungguh ingin kesana kembali?”
“Emm,” Riko mengangguk mantap setelah memandang sesaat kakeknya.
__ADS_1