Jondan dan Riko lalu memandang ke sekeliling mereka. Di sebelah kanan, ada Pohon. Di sebelah kiri, ada pohon juga. Ia tengok ke depan dan belakang, namun tidak ada apa yang dikata oleh gadis itu.
“Wushh! Wush! Wush...!” satu persatu tubuh meluncur dari atas seperti hujan turun. Jumlahnya puluhan. Kini mereka berurutan melingkari Sofia dan kawan-kawan. Mengepung mereka dan sekarang dapatlah dihitung bahwa jumlah mereka ada 70. Terdiri dari satu jenis Monster. Yaitu Monster yang berwajah hitam dan mirip seperti gorila dengan rambut gondrong menutupi muka dan punggung. Taringnya dari bawah ke atas. Kedua matanya mencorong berwarna merah untuk bola mata dan hitam untuk putih mata. Tubuhnya tinggi kekar dan masing-masing membawa gada besi pemecah kepala yang beratnya ratusan kilo. Ke 70 Monster itu mengepung dan mengawasi mereka dengan membunyikan suara dengkuran singa!
Merinding juga bagi Riko dan Jondan. Mereka sama sekali tidak pernah melihat ada makhluk yang menyeramkan seperti itu.
“Ha-ha-ha-ha...!” terdengar tawaan mirip iblis keluar dari tenda yang melayang ke atas lalu mendarat di depan mereka.
Riko dan teman-temannya mengawasi. Ternyata yang ada di depan mereka adalah seorang gundul berkulit hitam serta memiliki tampang wajah yang buruk. “Suatu kehormatan dapat kunjungan dari dua Siluman dari Hutan Pelangi, terlebih lagi dua Manusia dari bumi!”
“Hroohh...!!!” pengepung Riko dan kawan-kawan saling menyuarakan bunyi menakutkan. Nampak seperti ingin sekali memakan daging mereka. Namun suara itu lalu dihentikan dengan tatapan tajam si gundul berkulit hitam.
“Namaku, Pawmina...” kata si gundul itu. “Oohh... jadi kau gadis siluman yang cukup cerdas, ya? Dapat menebak rencanaku...”
“Hmph! Rencanamu terlalu mudah untuk diketahui!” sahut Sofia.
“O, ho-ho-ho... Tapi begitu congkak...” si gundul menyeringai.
“Jadi kau yang bernama Pawmina...”
“Cepat serahkan Doni kepadaku!” Riko memotong ucapan Sofia yang belum selesai.
“Doni?” si gundul mengelus dagunya. “Oo... jadi dia bernama Doni, ya?”
“Jadi memang Doni berada padamu!” seru Riko sambil maju 3 langkah.
“O, ho-ho-hoh...” Si gundul tertawa. “Aku ketahuan...”
__ADS_1
“Apa yang kau inginkan darinya?!” seru Riko. “Kita sama sekali tidak mengenal! Kenapa kau membawanya!”
“Hmph!” si gundul mendengus. “Maka karena tidak mengenal aku sengaja untuk membawanya kemari. Kau tanya kenapa? Karena aku ingin abadi! Dengan jantungnya dan juga ditambah dengan kalian berdua manusia bumi, maka ramuan keabadian yang didambakan akan segera tercipta... Dan aku... Dapat Abadi!”
“Peduli akan omong kosongmu!” seru Riko dengan menggertakan gigi. “Cepat serahkan Doni padaku!”
Si gundul menatap pemuda itu. Lalu bergantian menatap Zhu, Sofia, berikut Jondan. Mereka tengah menatap tajam kearahnya. Namun ada rasa gentar pula pada mereka. “Wha-ha-ha-hah...!” tawanya. Ia lalu melesat terbang dan hilang di udara. Hanya suara berikut yang terdengar, “Kalau kalian berhasil lolos maka aku akan menyerahkannya... tapi jika sebaliknya, maka nyawa kalianlah yang akan menjadi milikku...!”
“Hrohhh...!!!” ke 70 monster itu mulai mendekati mereka dengan berjalan perlahan. Seperti menikmati mangsa yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Riko dan yang lain saling menempelkan punggung. Riko menghadap ke penjuru barat, Zhu Selatan, Sofia Utara, dan Jondan Timur. Mereka ber-empat siap menghadapi serangan dari pengepung mereka.
“Nona...” kata Riko sambil gertak gigi melihat pengepung yang semakin mendekat. “Kau pernah bilang bahwa jika bertarung dengan bangsa ini, kau tidak akan menang. Betulkah itu?”
Sofia terdiam sesaat. Setelah mendirikan alis, ia baru menjawab. “Ya... yang aku maksudkan adalah lawan yang banyak ini. Jika hanya satu-dua, tidak terlalu masalah bagiku.”
“Riko!” kata Sofia. Riko membelalakan kedua matanya karena baru kali ini Sofia mau memanggil namanya. Dan suaranya dapat menggetarkan hatinya. “Aku akan membuat permintaan. Dengan ini, maka permintaanku tinggal 2...”
“Ya, asal peraturannya seperti yang kau ucapkan kemarin, aku akan menerimanya.” Sahut Riko. “Apa itu?”
“Diamlah ditempat!” sahut Sofia yang mulai berubah menjadi Rubah Putih. “Dan panggil aku Sofia!”
Riko membelalakan kedua matanya ketika melihat gumpalan asap putih menyelimuti tubuh Sofia. Terlebih lagi tiba-tiba melesat seekor Rubah Putih besar dari asap tersebut yang langsung menggigit leher salah satu penyerbu yang mendekati mereka. Leher yang digigit langsung putus seketika itu juga dan darah hijau keluar membasahi bulu-bulu putih sang Rubah yang cantik.
Terdengar geraman ke 70 Monster itu dan mereka semua lalu berlari hendak menyerbunya. “Jondan, kau juga diam ditempat! Kami akan melindungi kalian!” seru Zhu yang lalu berubah menjadi Anjing hitam besar setelah gumpalan asap menyelimuti dirinya. Ia lalu melesat ke arah pengepung dengan cepatnya.
“Wushh...!!!” satu persatu gada besi digebukan ke arah Zhu. Seperti layaknya orang yang tengah memukul anjing. Namun serangannya sangatlah kuat dan cepat. Untung Zhu yang dalam perubahannya itu memiliki kegesitan dan kecepatan yang tinggi, sehingga mudahlah ia dalam menghindari setiap serangan yang dapat membuat tubuhnya pecah jika terkena serangan itu. Jika ada kesempatan atau ruang kosong saat musuh tidak menyerang, barulah Zhu menyerang satu persatu lawannya dengan menggunakan cakarnya atau saja taringnya. Zhu yang saat itu menjadi Anjing beratnya ratusan kilo sehingga angin cakaran yang dikibaskan dapat membuat terpental salah seorang musuhnya. Begitu lawannya jatuh, ia langsung menerjang dan menggigit leher lawannya sekaligus memutuskannya.
__ADS_1
Keadaan Sofia pun tak jauh beda. Gadis itu dengan perubahan Rubahnya melesat kesana kemari dengan kecepatan tinggi. Menimbulkan angin yang mengikuti arah gerakannya. Dalam lesatannya itu, satu-dua lawannya kena cakar lehernya dan ada yang terbabat menggelinding ke tanah. Namun jika lawannya Cuma 5 atau 6 kiranya ia tak terdesak amat, namun lawannya yang berada di tempat itu berjumlah 70. Dan hanya dibantu oleh Zhu. Sofia dan Zhu memang dapat melawan, namun pada akhirnya mereka pun terdesak dan kewalahan. Kaki Sofia kadang kena gigitan dan juga pukulan. Tubuh Zhu pun kali itu kena pukul.
“Grhhh...!” dengan geraman layaknya anjing Zhu mendelik. Kedua matanya yang merah seperti mau keluar. Ia melesat cepat lalu menerkam salah seorang lawannya. Di cabiknya tubuhnya lalu digigit lehernya dan diputar putar sampai tubuhnya payah sekali baru dibuang ke arah lawan yang lain.
“Hroohh...!!!” raungan penutup Zhu menandakan kemarahannya.
Walaupun sempat gentar melihat tubuh kawannya yang mati dengan tubuh mengerikan, namun Monster-monster itu tidak runtuh kegentarannya. Satu persatu mereka menyerang Zhu dengan terjangan maupun kibasan gadanya.
“Wushh...!!!” salah satu Monster tiba-tiba melesat ke arah Riko dan Jondan. Kedua orang itu sama sekali tidak tahu, tahu-tahunya saat mereka menoleh kebelakang. Penyerang mereka tengah diserunduk oleh kepala Sofia. Lantas tubuh si penyerang melesat cepat dan membentur tubuh kawan-kawannya. Gegerlah sana sini para Monster yang ada di tempat itu. Mereka menyuarakan suara amarah satu sama lain. Kini mereka semua menyerbu ke arah Riko dan Jondan. Tanpa memperdulikan si siluman Anjing dan Rubah.
“Grrr...!!!” sambil gertak taring Sofia menghalang halangi siapa yang hendak menerjang kedua manusia itu. Sedapat mungkin ia lumpuhan penerjang dengan menggunakan cakarannya maupun gigitannya. Zhu pun ikut membantu karena melihat monster-monster itu yang kini menyerbu ke arah Jondan dan Riko. Ia pun menghalang halangi laju para monster seperti juga Sofia. Begitulah, mati-matian kedua siluman itu tak membiarkan para monster itu menyentuh sahabat manusia mereka.
“Sial... kenapa kita begitu lemah!” keluh Jondan sambil melihat Zhu dan Sofia yang dalam bentuk perubahan mereka mati-matian melindungi mereka berdua. Ketika ada satu yang hampir menyentuh Jondan maupun Riko, Sofia dan Zhu menyerangnya. Begitulah seterusnya sampai terlihat nafas kedua Siluman itu yang sudah memburu.
“Sofia!” seru Riko reflek ketika melihat bagaimana si siluman Rubah yang mendarat namun kaki depan kanannya hendak jatuh. Sofia menggelengkan kepala dan tubuhnya seperti kucing yang tengah membersihkan diri. Ia lalu kembali menyerang monster yang di dekat Jondan dan Riko.
Keadaan Zhu kali ini lebih payah. Lidahnya menjalar keluar menampakan kelelahan. Ia telah merobohkan 7 lawannya. Namun tenaganya kali ini sudah terkuras banyak. “Dukk!” tak sempat menghindarkan diri tubuh Zhu kena pukul gada oleh salah seorang Monster. Tubuhnya melesat cepat lalu di tangkap oleh salah satu Monster lainnya. Dengan gembira ia menangkap tubuh Zhu lalu digigitnya tubuhnya itu. Seperti orang memakan rusa panggang.
“Zhu...!!!” Riko dan Jondan berseru. Tapi apa daya, kekuatan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.
“Grrahhh...!!!” Sofia meraung ketika melihat sahabatnya tengah dimakan oleh salah satu Monster. Juga Monster-monster lainnya mendekat dan saling berebutan untuk menikmati daging anjing itu. Bergrombol tanpa pedulikan sekelilingnya.
Cepat sekali Sofia melesat ke arah grombolan itu. Dengan kedua mata berapi-apai serta taringnya mengeras, ia gigit satu persatu tengkuk mereka. Darah hijau saling bercucuran sana sini namun banyak juga para Monster yang tidak peduli.
“Brett!!!” kaki belakang Sofia kena tarik oleh salah satu Monster. Di angkatnya tubuhnya itu lalu dirinya terlempar sampai membentur pohon hingga pohon besar itu retak berat. Terlihat darah kental menempel pada Pohon itu, mengikuti tubuh Sofia yang perlahan melorot jatuh ke bawah.
“Kalian...!!!” Riko berteriak sampai terdengar serak. Kakinya melangkah cepat lalu menuju kearah grombolan yang tengah memakan tubuh Zhu. Dengan kemarahan Riko ia memukuli punggung salah satu Monster yang tengah asyik memakan daging. Bertubi-tubi pukulan Riko dilesatkan namun yang terkena pukulan sama sekali tidak mengubrisnya. Malah tangannya yang terluka. Berdarah. “Bangsat! Sialan! Kubunuh kalian! Kucincang kalian...!!!” begitulah Riko terus memaki sambil memukuli punggung. Sampai akhirnya setelah kesekian kalinya, tubuhnya kena siku lawan dan tanpa bisa dihindari lagi, sambil memuntahkan cairan bening, Riko terhuyung-huyung ke belakang lalu roboh tak sadarkan diri.
__ADS_1