The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 2


__ADS_3

Haduhh..." seorang pemuda berdiri mengeluh dengan nafas terengah-engah sambil bertolak pinggang. Wajahnya penuh keringat juga dan nampak kelelahan sekali. Ia menelan ludah keringnya baru kemudian menyapa Doni dan Riko yang tengah memandanginya. "Hallo, kawan...? bertemu lagi rupanya... Kalian jalannya cepat sekali."  


Riko dan Doni mendelik. Ia ingat siapa adanya pemuda itu. Pemuda yang lebih tua lima tahun dari mereka, 23 tahunan, berpostur tinggi dengan baju preman yang rombeng, berbadan kekar, berambut gondrong di ikat kebelakang dengan tali rafia warna putih, dan berwajah gagah.


“K-kau?” Doni berseru sambil menunjuk si kekar itu. “Kau mau apa kemari?!”


Yang ditunjuk menghela nafas untuk menghilangkan nafas memburunya. Ia lalu tertawa di hidung. Berdiri tegak kemudian berjalan dengan langkah perlahan, bertolak pinggang dan memeramkan mata sambil tersenyum mengejek  menuju ke arah mereka.


Setelah ia berdiri di hadapan mereka. Riko lalu memandang lelaki itu, begitu juga lelaki tersebut. Mereka saling pandang seperti tengah mengadu kekuatan mata namun dengan tatapan tenang.


Riko memandang si kekar dengan mengencangkan rahang, sementara si kekar memandang Riko sambil memainkan lidah di dalam mulutnya. Nafas keduanya masih terengah-engah, karena rasa lelah mereka belumlah hilang.


“Sreett!” tangan kanan Riko diulurkan kedepan seperti orang meminta sesuatu. Si kekar tidak paham akan maksudnya. Maka ia angkat sebelah alis sebagai tanda bertanya.


“Kembalikan Hpku,” Kata Riko langsung.


Si kekar berkedip sesaat. Kemudian tertawa di hidung sambil bertolak pinggang. Ia lalu mengarahkan wajahnya yang sudah tumbuh kumis dan  jenggot ke arah Riko. “Kalau aku tidak mau, kau mau apah...?” ucapnya berbisik mengejek. Ia lalu tertawa dan berjalan memasuki rumah.

__ADS_1


Riko menghela nafas menahan kedongkolan hatinya. Sementara Lelaki kekar itu lalu menuju ke arah sang Kakek. “Kakek, apa boleh aku masuk...?” tanyanya dengan menyeringai.


Sang Kakek menatap lelaki itu sesaat, kemudian mengangguk dan tersenyum. Ia lalu berjalan perlahan menuju ke dalam. “Kau teman cucuku, bagaimana mungkin tidak boleh?” sahutnya tanpa menoleh dan tidak menghentikan langkah kakinya.


“Dia bukan...”


“Doni!” Riko memotong ucapan sahabatnya yang hendak menjelaskan. Ia lalu menuju ke dalam mengikuti kakeknya. Doni pun mengikuti mereka sambil mendelik namun sedikit gentar juga kepada si lelaki Kekar.


Lelaki tersebut mendengus lalu perlahan mengikuti mereka semua.


Setelah berada di dalam rumah yang sangat sederhana itu, doni menyandarkan ranselnya pada dinding. Mereka lalu duduk di bangku kayu panjang yang sederhana. Riko dan Doni saling berhadapan, sedangkan si lelaki Kekar itu duduk di atas meja yang berada di depan mereka sambil menyilangkan tangan dan mengamati rumah yang sederhana namun rapi itu.


“Terima kasih, kek!” Riko dan Doni tersenyum memandang sang kakek yang sudah hilang di balik pintu dapur.


“Jangan repot-repot, kek! Hidangkan saja paha ayam dan burger spesial, minumannya cokelat hangat dan sedikit jus jeruk yang setengah matang dari pohonnya! Jika ada pisang goreng aku minta satu. Jika tidak ada ya... mendoan lima lembar juga tidak apa-apa, ha-ha-ha!” setelah tertawa si lelaki kekar lalu melompat turun dari meja lalu duduk di samping Riko. Mereka berdua lalu mengawasinya dengan mendongkol. Ia kemudian tertawa di hidung sambil memalingkan wajahnya yang sedang di pandang tajam oleh Riko.


“Kenapa kau menatapku begitu dingin, sih?” si lelaki kekar mengangkat wajah beradu pandang dengan Riko.

__ADS_1


“Apa yang kau mau sebenarnya? Merampas Hpku, dan sekarang mengikutiku kemari.” Kata Riko tenang namun sebenarnya ia sangat mendongkol.


“W-hoy!” lelaki itu tertawa. “Aku sahabat kalian, dan seorang sahabat akan menemani kawannya berpergian.”


“Kau!” Doni membentak, namun grogi juga. “Kapan kau berteman dengan kami! Kita hanya bertemu di jalan, dan kau merampas Hp Riko! Beraninya kau mengaku sebagai kawan kami!”


“He-he-he...” Lelaki itu tertawa sambil memeramkan matanya. “Aku yang ingin jadi teman kalian, apa tidak boleh?”


“Kalau begitu lekas kembalikan Hpku.” Potong Riko sambil mengulurkan tangan.


Lelaki tersebut memandang mata Riko yang kembali menatapnya. Tatapan yang tajam namun sangat tenang. “Tidak bisa, aku suka Hpmu!”


“K-kau!” Doni hendak menerjangnya namun di hentikan oleh bentakan sahabatnya.


“Doni! Tidak baik membuat kegaduhan di rumah kakekku. Lebih baik kita urus masalah ini setelah kita pulang nanti.” Ucap Riko yang lalu mengipasi dirinya dengan kerah bajunya. Ia lalu menatap kembali si lelaki kekar itu seperti tadi.


“Nah, silahkan makan, anak-anak.” Mereka bertiga lalu menoleh ke arah sang Kakek seketika itu juga. Mereka terbelalak lebar seakan tidak percaya. Kedatangan kakek itu tidak dirasakan oleh mereka. Bagaimana mungkin tiba-tiba kakek tersebut sudah berada di dekat mereka sambil menaruh makanan, gelas yang berisi air putih, dan keranjang yang berisi buah-buahan segar di atas meja.

__ADS_1


“Nikmatilah, anak-anak.” Sang kakek tersenyum lalu membalikan badan dan menuju ke dapur kembali. Ketika kakek tersebut pergi ia lalu diikuti pandang mata keheranan oleh mereka bertiga.


__ADS_2