The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 26


__ADS_3

“Dia tertidur.” Kata Jondan yang lalu berdiri. “Sudah hampir fajar maka kita istirahat disini saja, sambil menunggu Regit, Doni dan juga Bafali.”


Sofia dan Zhu mengangguk. Mereka setuju untuk menghabiskan malamnya beristirahat di tempat tersebut...


Di tempat Regit bertarung, keadaanya masih sama seprti tadi. Para prajurit masih tidak turun tangan ke gelanggang pertarungan. Ratusan serangan sudah mereka lesatkan, namun keadaan masih berimbang. Tidak ada yang terdesak dan tidak ada yang terluka.


“Kau hebat juga!” tanpa terasa perwira brewok itu memuji. Tubuhnya melesat lalu menusuk leher si raja Harimau.


“Kepandaianmu juga lumayan!” sahut Regit setelah merendahkan tubuhnya untuk menghindari tusukan pedang. Ketika tubuhnya berada dibawah, perwira tersebut lalu merubah arah pedangnya mengejar leher lelaki kumis tebal itu. Regit cukup terkejut dengan gerakan tersebut, maka sambil sedikit membelalakan kedua mata, ia lalu bergulingan ke belakang. Kemudian berdiri dengan gerakan salto ke belakang.


Perwira tersebut tidak membiarkan lawannya menyerang, ketika Regit baru saja berdiri, ia melemparkan pedangnya itu ke arah si raja Harimau.


Regit cepat menghindar dari pedang yang tengah berputar menuju kearahnya. Dengan melompati pedang yang berputar itu, Regit berhasil menghindarkan diri. Pedang tersebut mengenai pohon berukuran sedang dan senjata itu sampai amblas termakan pohon sampai gagangnya!


Cukup ngeri juga Regit melihat serangan tadi. Tanda bahwa kekuatan lemparan perwira tersebut sangatlah tinggi. Perwira tersebut lalu mengebut tangan kanannya. Itu adalah isyarat kepada prajuritnya. Setelah melihat isyarat dari perwira tersebut, salah seorang diantara prajurit lalu melemparkan pedangnya ke arahnya. Dengan lompatan yang indah, perwira tersebut lalu menangkap batang pedang tersebut. Setelah kedua kakinya menginjak di atas tanah, ia lalu menikam kembali ke arah leher Regit. Ketika tikamannya berhasil dielakkan, maka tikaman tersebut lalu ditujukan ke arah dadanya. Jika dapat dihindari oleh lawannya, lalu perwira tersebut mengubah arah tikamannya lagi, menuju ke arah kedua lutut Regit. Regit lalu melompat tinggi, dan si raja harimau itu lalu mengirimkan tendangan kaki kanannya yang tertuju ke arah sisi kepala si perwira.

__ADS_1


Perwira tersebut tahu akan serangan yang tengah menuju ke samping kepalanya, makai ia lalu menunduk untuk menghindari serangan. Namun elakkannya kali ini salah, ketika perwira itu menunduk, batok kepalanya sudah tercium oleh tumit kaki Regit. “Dukk...!” perwira tersebut langsung jatuh tengkurap dan  kepalanya bocor seketika itu juga.


Melihat bagaimana perwira mereka tewas, kedua puluh prajurit lalu membelalakan kedua matanya. Sambil berteriak marah, mereka lalu nekat menyerbu si raja harimau itu.


“Oho-ho! Aku tidak ingin bermain dengan kalian!” kata Regit yang lalu menjelma menjadi harimau berukuran 3 kali lipat dari harimau biasa. Ia mengaum dan aumannya tersebut menimbulkan angin kencang yang menyebabkan tempat tersebut dikelilingi oleh debu yang mengepul. Para prajurit lalu berhenti dan menutupi kedua mata mereka dengan lengannya sambil terbatuk. Setelah debu mereda, si raja harimau itu sudah tidak berada di tempat tersebut lagi.


Ketika berlari melewati hutan, Regit berpapasan dengan si Gendut. Bafali tengah berlari dengan suara nafas ‘Huff-huff-huff-hufff...’ seperti orang yang sedang meniup kopi panas. Perutnya bergelombang dan larinya itu amat payah sekali. Perlahan sekali. Melihat temannya sedang berlari, Regit lalu berubah menjadi manusia.


“Ha-ha-ha...!” tawa Regit bergelak. “Kenapa kau tidak berubah wujud? Dengan itu maka kau tidak akan kecapaian.”


“Oho-ho!” Regit lalu seperti menangkap akal. “Kiranya kau sedang mengecilkan perutmu, ya?”


Bafali lalu berdiri tegak. “Ya begitulah. Oh ya, dimana yang lainnya?”


“Mereka sudah duluan.” Sahut Regit. “Tapi tadi aku tidak melihat Doni. Apa dia bersamamu?”

__ADS_1


Bafali menggeleng kepalanya yang bulat.  “Tidak,”


“Ha?” si raja harimau itu sedikit tercengang. “Lalu dia dimana?”


“Tidak tahu. Mungkin sekarang sudah bersama yang lain.”


Regit lalu mengangguk-angguk. “Kalau begitu ayo kita menyusul mereka.”


Bafali lalu mengangguk dan bersiap untuk berlari.


“Eh...?” Regit lalu mendelik. “Rubah wujudmu dulu!”


Si gendut mengernyit bibir, lalu mengangguk-angguk. Regit kemudian berubah menjadi harimau, dan Bafali pun lalu berubah menjadi kerbau yang besarnya 3 kali lipat dari kerbau biasa. Mereka kemudian melompat dan berlari sampai menggetarkan pepohonan...


Di pihak Doni, pemuda keriting itu berjalan melewati tengah hutan pada dini hari itu. Karena tertutup pepohonan yang lebat, cahaya bulan kurang menerangi tempat tersebut sehingga menjadi sedikit gelap. Pemuda ini tidak peduli dengan gonggongan anjing hutan maupun suara burung gagak. Yang ada dipikirannya sekarang ialah mencari dimana adanya Riko, sahabat baiknya.

__ADS_1


“Riko...!” serunya sambil membuka semak-semak. “Riko...!” ulangnya lagi. Ia terus ulangi sampai tiga kali namun yang menjawab hanya suara angin malam itu. Ia terus berjalan melewati jalanan yang sedikit becek. Sepatu botnya saat itu sudah terkena lumpur dan air. Tanpa ia ketahui, sepasang mata yang mencorong merah tengah mengawasinya dari balik semak-semak. Terdengar dengkurannya yang seperti singa jantan. Dan makhluk itu lalu keluar menghampiri pemuda keriting itu. Merasa ada yang mengikutinya dari belakang, Doni lalu membalikan badan secepatnya. Namun setelah ia amati, ternyata tidak ada yang mengikutinya. Ia lalu membalikan badan dan melanjutkan perjalanannya. Ketika sampai di sebuah tikungan, ia lalu berhenti. Ia merasa ada yang mengikutinya lagi. Dan ketika ia membalikan badan secepatnya, sebuah karung hitam yang besar telah membungkus tubuhnya. Doni yang sudah berada di dalam karung itu lalu meronta-ronta. Namun si pembungkus tidak peduli, makhluk bermuka buruk itu lalu mengikat ujung karung kemudian ditendangnya karung itu dengan kaki kanannya. Terdengar keluhan Doni dan karung tersebut berhenti tergerak-gerak. Tanda bahwa yang berada didalamnya sudah pingsan. Makhluk tersebut lalu mengangkat karung tersebut. Di gendong, lalu dibawa lari kejurusan barat!


__ADS_2