The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 16


__ADS_3

Riko lalu mengikutinya, ia pandangi ke sekitar tempat itu. Bangunan yang berpondasi kokoh. Kamar-kamarnya pun terlihat indah semua. Mereka berdua melewati satu persatu kamar para dewi. Di tingkat dua itu ada setidaknya 10 kamar. Setelah menuruni tangga dan berjalan ke timur melewati kamar yang berada di lantai bawah, berhentilah Zhani diikuti oleh Riko disamping dinding yang menempel diantara dua kamar.


“Kamar Wulan disebelah sana,” kata gadis berselendang biru langit itu sambil menunjuk pintu kamar yang berada di depan mereka dengan dagunya.


Riko mengangguk. Ia kemudian menuju ketempat yang ditunjuk gadis itu. Berjalan sampai sepuluh langkah, lalu menghadap ke kanan. Riko kini berhadapan dengan pintu kamar. Ia lalu menoleh ke arah Ang Zhani untuk mengucapkan terima kasih, namun gadis itu ternyata sudah membalikan badan dan pergi meninggalkannya. Ia pandang punggung gadis itu sampai lenyap saat menaiki tangga.


“Kreekk...” pintu dibuka perlahan oleh Riko. Ia sapu seluruh ruangan dengan kedua matanya, namun yang terlihat hanya sebuah ranjang berkelambu, meja, kursi, lemari, dan meja hias. Tidak ada seorang pun yang berada di kamar tersebut. Pemuda ini lalu memasuki kamar tersebut. Setelah berada di dalam ia kemudian mengawasi seluruh isi kamar tersebut.


“Uahh...!” Riko kaget karena seketika itu mulutnya terasa dibungkam oleh telapak tangan yang halus dan lembut dari belakang. Tubuhnya lalu terasa ditarik menuju ke ranjang, kemudian di dudukkan lalu dibalikan tubuhnya. Ia kini melihat bahwa yang membungkamnya ternyata seorang gadis bergaun putih yang masih 17 tahunan. Wajahnya putih mulus dan kedua matanya tampak lincah.


“Ssstt...!” Wulan menempelkan jari telunjuknya pada hidungnya sendiri.


Riko yang sudah tahu bahwa di depannya adalah Wulan, lalu mengangguk-angguk mengerti. Gadis itu lalu melepas tangannya yang tengah membungkam Riko. 


“Kenapa kau berada disini?” Wulan berbisik lalu duduk disisi pemuda itu. 


Riko tidak menyahut. Ia malah menjilati bibirnya sendiri. “Kau taburi bunga apa di tanganmu?” tanyanya sambil berkerut kening.


“Ih, hal seperti itu kau tanyakan!” Wulan memalingkan wajahnya ke samping kiri dan cemberut.


“Ha-ha-ha,” Riko tertawa bergelak namun tiba-tiba mulutnya dibungkam lagi oleh tangan Wulan.


“Kau jangan berisik!” bisik gadis itu sambil mengerutkan alis.


Riko insyaf lalu mengangguk-angguk. Tangan Wulan ditarik kembali lalu ia mengawasi ke luar kamarnya.


“Apa yang kau khawatirkan?” Riko bertanya keheranan karena melihat raut wajah Wulan yang nampak cemas.


Wulan lalu duduk kembali kemudian mengerutkan alisnya. “Aku mengkhawatirkan kau! Bagaimana kalau Ayah handa, dan Zhani tahu?!”


“Ang Zhani maksudmu?”


“Heh?” Wulan membelalakan kedua matanya yang lincah. “Bagaimana kau tahu ketua kami?”


Riko mengedipkan kedua matanya. Ia sekarang sadar bahwa mulutnya keceplosan. Padahal ia tadi telah berjanji tidak akan menceritakan pertemuannya dengan gadis jelita itu. “Ee... aku tahu dia saat tadi gadis itu melawan kedua makhluk aneh di halaman. Ke-kebetulan aku saat itu berada disana dan kawannya memanggil namanya, jadinya aku tahu.” Sahut Riko sambil meringis. “Memangnya kenapa kalau aku ketahuan?”


“Ayah handa pasti tidak akan memberimu ampun!” sahut Wulan perlahan dengan alis mengerut membayangkan kekhawatirannya. “Leluhur beliau yang membuat peraturan bahwa bangsa monster, siluman, iblis dan manusia tidak diperbolehkan ke tempat ini.”


“Jika ketahuan?” pinta Riko.


“Akan ditangkap lalu dilenyapkan!” Wulan mengerutkan alisnya. “Kau harus berhati-hati dengan Dewi berselendang biru langit itu, ia tidak akan segan-segan menangkapmu dan menyerahkannya kepada ayah handa. Wanita itu sangat taat. Sedangkan dewi yang lain, kami telah sepakat tidak akan memberitahu kedatangan Manusia kepada ayah handa, apalagi menyerahkannya.”


Riko lalu tertawa geli dalam hatinya. Bukankah tadi ia bersama dengan Dewi yang Wulan maksudkan. Ia sama sekali tidak ditegur apalagi ditangkap oleh Ang Zhani. Hanya mendapat tendangan yang sampai sekarang masih terasa encok di sekitar tubuhnya dan Itu pun karena disangkanya ia sengaja mengintip dikamar dewi berselendang biru langit itu. Namun dikepala Riko tiba-tiba timbul pertanyaan. Kenapa Zhani yang kata Wulan sangat taat kepada Ayah handanya itu, tidak menangkap dirinya dan mengadukannya. Malah tadi mereka sempat berkenalan, dan juga sudah mengikat pertemanan.


“Kenapa kau?” Wulan menanya sambil memandang wajah Riko yang tengah mendirikan alisnya berulang kali.


Riko lalu mengedipan kedua matanya. Ia lalu menoleh ke arah Wulan yang tengah memandangnya keheranan.


“Riko... namamu, kan?” gumam gadis itu lalu tersenyum manis.


“Iya, Riko Yayu!” pemuda itu menyahut dengan suara lantang.


“Ssstt...!” Wulan mengisyaratkan dengan jarinya lagi. Riko lalu mengedipkan matanya kemudian mengangguk-angguk. Tenyata pada saat itu para Dewi sudah memasuki kamarnya, walaupun ada beberapa yang masih diluar. Di luar kamar Wulan terdengar suara riuh para Dewi, maka gadis itu lalu menarik tangan Riko dan dibawanya ke meja di sebelah pojok ruangan. Disana mereka lalu duduk lesehan didepan meja.


“Kruukk... krukk...” terdengar suara yang timbul dari pemuda itu.


“Eh, suara apa barusan?” Wulan mengangkat alisnya sambil memandang Riko.


“He-he-he...” yang di pandang meringis lebar lalu memegangi perutnya.


“Ohh..” Wulan lalu mengulum senyuman kemudian berdiri. Berlari menuju ke meja di sebelah kirinya lalu kembali sambil membawa piring di tangan kanan dan guci kecil di tangan kirinya. Ia letakan itu semua di atas meja. Sebuah piring berisi 3 bakpao dan seguci minuman.


“Kau makanlah,” Kata Wulan yang sekarang duduk berhadapan dengan Riko dengan terhalang oleh sebuah meja.


Riko melirik gadis itu sesaat, lalu tanpa ragu lagi ia mengambil sebuah Bakpao kemudian di makannya. Ia sempat menawari gadis itu untuk ikut makan tapi Wulan menggeleng kepala lalu menyandarkan sikut lengannya di atas meja dan memangkukan dagu di telapak tangannya.


“Apa, manusia saat makan itu sepertimu?” Wulan bertanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Riko yang kedua pipinya sudah penuh dengan makanan lalu berhenti mengunyah. Ia kemudian menjawabnya dengan monyong-monyong. “Fenfu fasa fidak! Mungking honyo afwu wyang sepefwi ini, Awdta wyang iwya awdta wyang tfidak. Afwu fangat lapawr, wjadi sepefwi ini!”


Melihat ini Wulan lalu tertawa. “Telan makananmu dulu sebelum menjawab.”


Riko kemudian menelan makanannya. Dari jakunnya naik turun lalu pipinya kempes kembali. Ia mengambil guci yang berada di depannya, lalu hendak meminumnya. Namun tiba-tiba pemuda ini berhenti. Ia mencium-cium lubang guci tersebut. “Apa ini, Wulan?” tanyanya.


“Arak.”


“Hah?” Riko lalu meletakan kembali gucinya.


“Kenapa tidak meminumnya?”


“Aku tidak boleh minum arak. Jadi maaf saja,” sahut Riko lalu mengelap bibir dengan ujung bajunya yang panjang.


Wulan lalu mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia kemudian menarik tangannya sendiri. “Eh, aku dengar, di dunia manusia itu damai. Tidak ada perang, negara-negara bersahabat. Negara satu sama lainnya bisa menikah, mempunyai anak dan bisa hidup di negara yang satu atau satunya lagi.”


“Memang benar,” Riko kembali mengambil sebuah Bakpao. “Tapi itu pada masa sekarang. Ya walaupun masih ada perang tapi hanya beberapa negara saja.” Katanya lalu mengunyah makanan tersebut.


Wulan tersenyum kecil sambil mengangguk. Ia lalu pandang lagi Riko. “Apa di duniamu, wanitanya berpakaian indah, suka berhias, jalan-jalan ria di sekitar taman, dan pandai memasak?” tanyanya perlahan. “Menyukai bunga, dan tempat yang indah. Apa mereka cantik-cantik?”


“Tentu saja!” sahut Riko yang hanya menjawab satu dari sekian pertanyaan. “Mereka sangat cantik.”


Wulan lalu membuka sedikit mulutnya. Ia mengangguk-angguk perlahan dan sedikit menunduk.


“Terutama sekali para artisnya!”


“Apa itu artis?”


“Pemeran film. Biasanya mereka itu meniru peampilan kalian, lho.” Sahut Riko menunjuk Wulan  dengan jarinya.


Wulan mengangguk lembut sambil sedikit menundukan wajahnya. Ia kemudian bertanya tanpa menatap pemuda itu. “Manakah yang lebih cantik… Wanita di duniamu, atau kami?”


“Tentu saja kalian!” sahut Riko cepat. Ia gigit Bakpao lalu dikunyahnya. “Kalian ini kan para Dewi, bagaimana bisa dibandingkan dengan wanita tercantik di dunia kami.”


Wulan lalu mengangkat wajahnya. Ia kemudian tersenyum tanpa memandang pemuda itu kembali.


“Siapa?” Wulan mendirikan alis lalu memandangnya.


“Ibuku!”


“Ibumu?”


“Ya,” Riko mengangguk. “Dia sangat cantik dan kalian kalah satu tingkat dengannya.”


“Benarkah itu?” Wulan menyipitkan matanya dengan sedikit wajah sangsi.


Pemuda itu mengangguk-angguk, lalu mengunyah makanannya kembali.


“Aku jadi penasaran.” Wulan lalu menunduk dan mengerutkan alis


“Kecantikan itu apa gunanya, sih?” Riko menyahut dan Wulan lalu mengangkat wajah, memandang wajahnya. “Bunga saja lama kelamaan akan layu, wanita pun lama kelamaan akan bongkok. Tumbuh keriput dan rambutnya memutih.”


“Kami tidak akan tua.”


“Aku percaya!”


“Kau percaya?”


“Emm,” Riko mengangguk. “Tapi apa kalian tidak akan mati? Bukankah kecantikan yang kau rawat berpuluh-puluh tahun itu jadi tidak ada gunanya lagi?”


Wulan lalu memandang wajah Riko lebih seksama.


“Makhluk ciptaan sang maha kuasa itu tidak ada yang abadi. Malaikat pencabut nyawa saja juga kelak akan mati setelah semua makhluk dimatikan, apa lagi kita yang hanya makhluk biasa. Aku tahu kalian ini ajaib, tapi itu semua tidak akan dapat menyaingi kekuasaan sang pencipta.”


Wulan lalu memandang ke bawah sesaat kemudian menatap Riko kembali.


“Oleh karena itu, sebaiknya kita lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Agar kelak di kehidupan berikutnya yang abadi, kita mendapat wajah cantik dan tempat yang sangat amat nyaman. Dunia ini hanya sementara, dan sang pencipta memberikan kita hidup hanya semata agar kita menyembahnya. Menaati perintahnya, dan menjauhi larangannya. Jika kita melakukan itu semua, maka kelak saat tibanya kehidupan yang abadi, kita akan bersuka ria di tempat yang luar biasa indahnya. Namun jika ingkar, maka kita akan sengsara di tempat seburuk-buruknya tempat. Akan tetapi, banyak juga yang terlena dengan keindahan dunia, sehingga mereka melupakan apa tujuan sebenarnya mereka diciptakan.” Jelas Riko lalu mengunyah Bakpaonya lebih cepat. “Ya itu semua karena bisikan musuh kita. Setan si makhluk laknat, dan nafsu kita. Jika kita ingin memandang ke depan, maka tentu akan mendapat jalan yang lurus. Eh, maafkan aku yang suka berceramah.”

__ADS_1


Wulan sedari tadi mendengarnya penuh perhatian. Ia kemudian tersenyum. “Aku, baru sadar. Kami memang sedang mencari keabadian. Tapi sekarang aku sudah tahu. Apa gunanya keabadian pada kita, sedangkan dunia juga tidak abadi.”


“Benar katamu.”


“Terima kasih,” Wulan lalu tersenyum manis kepadanya. “Perkataanmu itu, mengubah cita-cita bodohku yang ingin menjadi makhluk abadi.”


“Abadi katamu?”


“Emm,”


“Ha-ha, jangan kau memikirkan hal itu lagi. Kalau kau abadi, apa kau mau melihat akhir zaman yang mana bumi akan bergoncang mengeluarkan seluruh isinya, manusia seperti anai-anai berterbangan, gunung-gunung akan seperti bulu yang dihambur?”


“Emm-hmm!” Wulan mengerutkan alisnya lalu menggeleng kepalanya cepat.


“Maka jangan sampai begitu.” Kata Riko yang sudah habis Bakpao ditangannya.


Wulan menunduk. Ia kemudian berkata tanpa memandang wajah Riko. “Tapi keabadian adalah cita-cita kami semua. Makhluk di dunia kami, semuanya ingin abadi.”


“Maka ubahlah cita-cita kalian.” Sahut Riko sambil mengunyah tanpa ada isi makanan dimulutnya. “Jadi dokter kek, atau model.”


Wulan tertawa kecil sesaat. Ia kemudian mengangkat wajah dan bertanya. “Eh, apa manusia bumi juga punya cita-cita?”


“Punya!”


“Apa cita-citamu?”


“Dicintai dan disayangi banyak orang.”


“Ih!” Wulan merengut. “Mana ada cita-cita seperti itu?”


“Ha-ha-ha-ha…!” Riko tertawa sambil melirik sebuah bakpaow yang tinggal satu di atas piring.


“Ha-ha, kau makan semuanya saja.” Kata Wulan yang sudah tahu apa yang ada dipikiran Riko.


“L-lalu bagaimana denganmu?”


“Aku tidak lapar.” Sahut Wulan sambil tersenyum manis.


“Aha!” Riko lalu mengambil Bakpaow tersebut. “Kau lagi diet, ya?”


Wulan lalu sedikit tercengang. Ia kemudian mengedipkan kedua matanya dan memalingkan wajah ke samping kiri.


“Ha-ha-ha...!” Riko lalu tertawa bergelak. “Seorang dewi saja ternyata melakukan diet.” Katanya lalu menggigit Bakpao yang berada ditangan kanannya.


“Ih, memangnya kalian para manusia saja yang bisa diet!” ketus Wulan lalu cemberut.


“Ha-ha-ha...! Lucu lucu!” Riko tertawa dengan mulut terpenuhi oleh makanan sehingga ia kemudian terbatuk-batuk. “Uhuk-uhuk...” ia terbatuk sambil memukuli dadanya karena terasa serat di tenggorokannya.


“Eh? Aku akan ambil air,” Wulan lalu berdiri kemudian menuju ke samping kirinya. Ia ambil segelas air lalu diserahkannya kepada Riko.


Pemuda itu menerimanya lalu secepat kilat meminumnya. “Glekk... glekk... glekk...” selesai minum ia kemudian mengempos lega. “ahhh...”


“Kau ini, apa cara makan kalian itu seperti kau?!” Wulan bertanya sambil mendirikan alis dan bibirnya cemberut.


“Tidak tidak,” Riko tersenyum lebar. “Cuma aku saja yang seperti ini, hehe, mungkin. Habisnya aku sangat lapar!”


Wulan lalu menahan tawanya dengan mengulum mulut. Ia kemudian tertawa dengan menutupi mulutnya dengan punggung tangan.


“Ah!” Riko tiba-tiba teringat sesuatu lalu berdiri. Ia kemudian membalikan tubuhnya.


“Ada apa?” Wulan pun lalu berdiri memandang punggung pemuda itu.


“Aku lupa bahwa dari tadi temanku masih berada diluar.” Sahut Riko lalu membalikan badan menghadap gadis tersebut.


“Kau bawa manusia lain?” Wulan menanya dengan membelalakan kedua matanya.


“Emm,” Riko mengangguk lalu menjelaskan. “Aku ke tempat ini dengan dua sahabatku. Saat di gerbang tadi, aku meninggalkan mereka berdua untuk mencari jalan menuju ke istana. Mereka masih berada di sana!”

__ADS_1


__ADS_2