The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 27


__ADS_3

Sianar matahari perlahan mulai menerangi tempat itu. Di ufuk timur, sang mentari mulai muncul membangunkan para pemuda yang tertidur di tengah hutan itu. Sinarnya menembus dedaunan, dan menyinari mereka. Api yang semalam tadi menyinari mereka, kini sudah menjadi arang dan sekarang digantikan oleh sang surya, yang sampai sekarang tidak bosan untuk menerangi mereka. Burung-burung berkicauan, hinggap kedahan satu kedahan lainnya. Ada yang mencari makanan, ada yang jalan-jalan ditengah udara. Aliran sungai di sisi tempat tersebut yang sangat jernih, mengalir rapi sekali. Suara aliran terdengar enak di telinga. Disana ada beberapa ikan yang menyumbulkan mulutnya ke permukaan.


Gadis cantik itu mengambil air dengan kedua tangannya, lalu ia basuh wajahnya yang putih seperti salju dengan air tersebut. Kedua matanya yang memiliki bulu mata lentik terpejam. Bibirnya yang merah seperti darah sedikit terbuka. Tanda bahwa ia menikmati kesegaran air tersebut. Ia membasuh wajahnya sampai tiga kali. Baru kemudian ia menyeka wajahnya dengan jaketnya yang terbuat dari bulu serigala putih.


Di sisi lain, di tepi sungai yang agak jauh dengan gadis itu, pemuda berwajah jenaka tengah berdiri sambil memegang sebatang bambu runcing. Kedua matanya menatap air sungai, dan setelah terlihat bayangan ikan dari dalam air, ia lalu menggerakan bambu runcingnya. “Jrass...!” bambu tersebut tepat sekali mengenai tubuh sebuah ikan yang lumayan besar. Pemuda ini lalu berseru girang dan ia lalu mengulanginya lagi.


Sementara di bawah pohon yang sedang, Jondan tengah mengurut tubuh Riko yang bengkak-bengkak, juga membalut telapak kaki Riko yang terluka dengan baju dalamnya. Keadaanya sekarang lumayan baikan, karena pemuda itu sudah dapat berbicara lancar dan membuka matanya. Ia tahu bahwa semalam ia bersama dengan si lelaki kekar ini, juga bersama gadis cantik itu, dan si pemuda berwajah jenaka itu. Namun Riko belum tahu nama kedua orang itu, juga ia tidak tahu bahwa kedua orang itu adalah siluman.


“Nah, sudah merasa baikan?” Jondan menanya setelah selesai memijat kaki Riko.


Riko lalu mengangguk. Dalam dirinya ia tidak menyangka lelaki kekar itu amat peduli dengannya. Maka ia lalu berkata dengan senyuman. “Terima kasih.”


“Ah, jangan kau buat aku rikuh begini!” sahut Jondan lalu tertawa kecil. Ia kemudian berdiri dan menuju ke bekas api unggun tadi malam. “Zhu?!” panggilnya ke arah si pemuda jenaka. Zhu yang sedang menangkap ikan itu lalu menoleh. “Bagaimana kau menyalakan apinya?” tanyanya.


“Gosokan dua batu putih dan taruh pada beberapa ranting kering!” sahut Zhu yang lalu melanjutkan menangkap ikannya.


Jondan lalu tertawa. Ia kemudian berdiri. “Ha-ha, Ada-ada saja hal aneh di dunia ini.” Katanya sambil menggeleng ke arah Riko. “Eh, aku tinggal sebentar, mencari kayu kering. Kau jangan kuatir, mereka ini orangnya baik-baik, kok.”


Pemuda kekar itu lalu tertawa pendek, kemudian berjalan ke jurusan selatan untuk mencari ranting atau saja kayu kering. Riko lalu tersenyum dan mengangguk. Di lihatnya oleh Riko, gadis cantik itu tengah memakai jaketnya. Ia lalu memalingkan wajah karena melihat baju dalam yang menampakan bahu dan lehernya yang mulus itu. Siapa adanya gadis itu? Pikir Riko.


Sofia lalu membalikan badan. Dengan wajahnya yang tambah putih karena baru saja cuci muka, ia nampak semakin cantik saja. Dilihatnya oleh gadis ini, betapa pemuda itu masih duduk bersandar pada pohon. Ia kemudian mendekati pemuda itu dan duduk di sampingnya. Karena kedua mata Riko terpejam, ia hanya mendengar langkah kaki mendekatinya, maka ia lalu membuka kedua matanya, lalu menoleh ke arah gadis itu.


Sofia tengah mengerutkan keningnya sambil mengawasi wajah Riko. Lalu tertawa sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan.


“Apa yang kau tertawakan?” tanya Riko keheranan, karena tahu-tahu gadis cantik itu tertawa setelah melihat wajahnya.


“Ha-ha-ha..” tawa Sofia. “Wajahmu hitam begitu. Apa itu asli?”


Riko lalu mengerutkan kening. Ia lalu raba wajahnya dan ternyata terasa kering sekali. Ia kemudian menggosoknya dan jatuhlah beberapa lumpur yang sudah mengering. “Tentu saja tidak!” sahutnya kemudian.


“Sana kau cuci wajahmu.” Kata gadis itu. “Tampak seperti penjaga sungai saja kau ini.”


“Baiklah.” Kata Riko. Ia kemudian berdiri namun baru saja berdiri ia lalu jatuh terduduk lagi, bersandar pada pohon. “Agghh...” keluhnya sambil mendongakan kepalanya ke atas.


“E-eh, maaf-maaf.” Kata Sofia dengan kerutan alis. “Aku kira kau sudah sembuh benar. Ayo ku antar kau cuci muka.”


“Tidak usah,” Riko menggerakan tangannya. “Nanti saja.”

__ADS_1


Sofia lalu cemberut. “Kalau lumpur kering tidak cepat dibersihkan, maka wajahmu akan menyatu dengannya, lho!”


“Ha-ha-ha!” Riko lalu tertawa.


“Apa yang kau tertawakan?!” Sofia semakin cemberut dan alisnya berdiri.


Sementara Jondan sudah kembali ke tempat tersebut dengan membawa banyak ranting dan kayu kering. Ia taruh kesemuanya di bekas api unggun tadi malam. Setelah disusun rapi ia kemudian menggesekan dua buah batu putih yang didapatnya ketika mencari kayu tersebut. Api menyala seperti korek dari batu tersebut lalu dilemparnya batu itu ke kayu kering yang sudah disusun itu. Perlahan api mulai membakar kayu kering dan ranting tersebut. Dengan wajah girang, Jondan lalu memanggil si pemuda jenaka.


“Woy! Memancingnya cukup! Aku sudah nyalakan api, nih!”


Zhu lalu menoleh. Ia lalu menuju ke tempat tersebut dengan membawa ikan besar.


Melihat kawannya membawa 4 ikan segar, giranglah wajah Sofia. Gadis itu lalu berdiri dan cepat menghampiri kawannya. “Sini biar aku beri bumbu!” katanya setelah di dekat Zhu. Pemuda jenaka itu meringis lalu menyerahkannya kepada gadis itu.


“Ha-ha, kau sudah sembuh, sobat!” kata Zhu yang lalu duduk di depan api unggun setelah memandang wajah Riko yang penuh dengan lumpur kering.


“Ya, lumayan..” sahut Riko.


Sofia lalu menaruh empat ikan yang sudah di taburi bumbu dan sudah tertusuk oleh batang bambu di pinggir api. Ia lalu duduk sambil memandang ke empat ikan yang gemuk-gemuk itu.


“Emm... Kurasa!” sahut si pemuda jenaka. “Ya walaupun baru beberapa jam kita berkenalan. Namaku Zhu, sobat!”


Riko lalu mengangguk-angguk. “Aku Riko Yayu.”


“Oh, nama yang bagus, sobat!”


Riko lalu tersenyum kepadanya. Ia lalu menoleh ke arah gadis yang berkulit seperti salju itu. “Dan kau, nona?”


  Sofia lalu mengangkat wajah. Ia pandang wajah Riko dengan senyuman geli. “Sofia,” sahutnya lalu kembali tertawa sambil menutupi mulutnya.


“Kenapa kau selalu tertawa jika memandang wajahku, sih, Nona?” kata Riko yang lalu menggaruk belakang kepalanya.


“Ha-ha!” Zhu lalu tertawa. “Karena wajahmu lucu, sobat! Seperti terkana lumpur!”


“Dakk!” Jondan lalu menjitak kepala Zhu. Yang dicitak lalu meringis kesakitan. “Apa kau tidak bisa membedakan mana yang lumpur dengan mana yang bukan?!”


Riko lalu tertawa saat itu. Ia merasa bahagia dapat berkenalan dengan mereka.

__ADS_1


“Oh iya, kawan. Bagaimana selendangnya?” tanya Jondan tersenyum kepada Riko. “Apa sudah dikembalikan?”


Tercenganglah Riko mendengar pertanyaan ini. Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke pohon yang di belakangnya seketika itu juga. Kenapa dirinya begitu bodoh dan pikun? kenapa tujuan utamanya ke dunia tersebut jadi terlupakan, padahal sudah bertemu langsung dengan pemiliknya!


“Jangan bilang kau lupa,” Kata Jondan dengan alis mengerut. Ia lalu menghela nafas. “Aihh...”


“Aku... sama sekali tidak ingat, Jondan. Saat itu entah apa yang berada dikepalaku, padahal sudah bertemu sendiri dengan Wulan. Aku sama sekali tidak ingat untuk mengembalikan selendangnya.” Kata Riko mengeluh.


“Selendang?” Sofia lalu mengangkat alisnya.


“Mungkin dia itu guru tari, Sofia. Dan muridnya lupa meninggalkan selendangnya pada saat latihan!” Sahut Zhu sambil memegangi dagu. Sofia lalu melirik tajam ke arah pemuda konyol itu.


“Lalu bagaimana?” tanya Jondan .


“Aku akan kesana lagi.” Sahut Riko.


“Apa?!” Jondan tercengang. “Gila kau! Bukankah kau sudah merasakan sendiri bagaimana penjaga-penjaga istana mengejarmu!”


“Dan juga..” Tiba-tiba alis Riko mengerut seperti mendapat ingatan. “Ah, nona Ang Zhani juga dalam bahaya! Aku dikejar oleh para prajurit padahal baru saja keluar dari istana. Dan dia pasti ketahuan!”


“Siapa itu nona Ang Zhani?” tanya Jondan memandang heran.


“Temanku!” sahut Riko. “Tidak bisa aku hanya berdiam ditempat ini. Aku sudah membuatnya dalam bahaya..”


“Ahh... buat apa kau pikirkan.” Jondan membuang tangan. “Mereka kan baru saja kau kenal.”


Riko menggeleng kepala sambil mengencangkan rahang. “Walaupun begitu tapi dia telah menolongku. Membawaku keluar istana sampai membahayakan dirinya. Aku harus kesana secepatnya sebelum terlambat!” pemuda ini lalu bangun berdiri. Ia lalu berjalan tapi dirinya jatuh tengkurap.


“Aihh...” Jondan menghela nafas. Ia berdiri lalu menghampiri sahabatnya. Setelah sampai ia lalu membangunkan Riko dan menuntunnya untuk duduk. “Eh, lihat sendiri keadanmu. Dengan kondisimu yang payah seperti ini, bagaimana cara kau akan keistana lagi? Bukankah sia-sia saja seandainya kau kesana? Terbunuh, lalu bagaimana kau akan menolong dia?”


Riko terdiam. Dalam hatinya ia membenarkan perkataan pemuda kekar itu. Tubuhnya sama seperti orang setengah lumpuh. Dengan tubuhnya sekarang manakala kembali ke istana maka hanya akan membuang nyawanya saja.


“Tunggulah sampai keadaanmu membaik, baru kemudian kita kesana!”


“Kita?” Riko mengerutkan alis ke arah Jondan.


Jondan lalu mengangguk. “Benar. Bukankah kita teman?” sahutnya lalu berdiri dan menghampiri api unggun. “Wahh... ikannya sudah matang, nih.” Katanya lalu mengambil ikan tersebut dan diciumnya sambil memeramkan kedua mata merasakan keharuman. Zhu lalu mendirikan alisnya. Cepat-cepat ia mendekati Jondan dan mengomel kepadanya karena ia yang sudah menangkap ikan, malah lelaki kekar itu yang makan duluan.

__ADS_1


__ADS_2