The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 28


__ADS_3

Sementara Sofia terus memandangi Riko sedari tadi. Ia menaruh sedikit perhatian kepada pemuda itu.


  Regit dan Bafali yang tengah menjadi harimau dan kerbau kini memperlambat larinya. Ia sudah sampai di perkemahan perkumpulannya yang berada di dalam hutan pelangi dan mereka lalu memasukinya. Setelah masuk, mereka lalu menjadi manusia kembali.


“Regit, Bafali, kalian pulang?!” seru Eno yang tengah berlari mendekati mereka berdua.


“Ya!” sahut Regit dan Bafali mengangguk.


“Dimana Sofia dan lainnya?” tanya Eno si kurus kering itu.


“Eh?” Regit sedikit tersentak, “Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu?”


Eno lalu melongo. “M-mereka belum sampai, kok.”


“Ku kira mereka sudah duluan kesini.” Kata Regit yang lalu berjalan melewati tenda-tenda.


“Belum.” Eno menggeleng kepala. “Oh ya! Eagla ingin berkata padamu.”


“Dimana dia sekarang?”


“Tenda ungu.”


Regit lalu berjalan melewati jalanan yang kecil, kemudian berbelok kekanan dan sampailah ia di depan tenda ungu. Ia buka tenda tersebut dan terlihatlah Eagla dengan kedua mata yang setajam mata elang tengah melipatkan kedua tangan di atas perut. Regit lalu mengambil duduk di depan pemuda itu. Di depan mereka terhalang oleh meja kayu yang cukup panjang.


“Mereka sudah kembali?” tanya pemuda bermata tajam itu.


“Belum,” Regit menggeleng kepalanya. “Mungkin mereka sedang berkemah di tengah hutan.”


“Apa yang kalian lakukan semalaman?”


“Aku bertarung dengan beberapa orang.”


“Siapa?”


“Anjing penjaga Moon Air.” Sahut Regit sambil mendengus.


“Kenapa bisa bertarung?”

__ADS_1


“Aku menolong mereka.”


“Mengapa kau menolongnya?”


“Seorang teman harus menolong temannya, bukan?” sahut Regit sambil tertawa kecil di hidungnya.


“Kau yakin dengan mereka?” tanya Eagla dingin.


“Yang kau maksudakan manusia itu?”


Eagla lalu menatap tajam si raja harimau itu, seakan menjawab ‘iya’


“Heh!” Regit mendengus. “Aku sangat yakin dengan mereka.”


“Bragghh!” Eagla lalu menepuk meja dan menggeram. “Apa kau ingin membahayakan bangsa siluman? Leluhur kita telah mengajarkan bahwa kita, bangsa siluman tidak boleh bergaul dengan bangsa manusia!” geramnya. “Kalau sampai hal itu terjadi...”


“Maka bangsa siluman akan berakhir,” sambung Regit tersenyum mengejek. “Persetan dengan para leluhur! Leluhur kita itu dulunya punya masalah pribadi dengan salah satu manusia! Dan untuk melampiaskan gusarnya kepada manusia, mereka selalu berpesan kepada anak cucu mereka agar tidak mendekati manusia, apalagi sampai berteman. Malah diwajibkan untuk membunuh manusia yang ditemuinya!”


“Dan kau akan melanggar?!” menanya Eagla dengan tatapannya yang tajam.


“Dan kau akan mematuhinya?” Regit balas tanya dan menatap.


Regit lalu pandang wajah yang memerah itu. Baru kemudain ia menjawab perlahan. “Aku, sebaliknya!”


Eagla lalu mendelik dan kedua matanya mencorong menampakan kegarangannya. Sementara Regit pun balas menatap dengan santai kearah pemuda itu. Mereka kini saling pandang seperti saling serang dengan tatapan mata mereka.


“Maka sekarang kita bertentangan,” kata Regit memecah kesunyian. Ia lalu berdiri, berbalik badan, lalu keluar dari tenda itu.


Setelah si raja harimau itu keluar, Eagla lalu menghela nafas panjang. Rahangnya semakin dikencangkan, alisnya semakin berdiri.


“Regit!” panggil Bafali dari belakang ketika si raja harimau itu berjalan ke arah tendanya yang berwarna kuning. Yang dipanggil lalu berhenti dan sedikit menoleh.


“Aku pikir, perkataan Eagla memang benar.” Kata Bafali agak canggung.


“Kau mendengarnya?”


“Aku dan Eno mendengar semua. Dan kami setuju dengan pendapat Eagla.” Sahut Bafali dengan wajah serius. “Sebaiknya kita jauhi mereka. Atau jika perlu... kita bunuh!”

__ADS_1


Regit lalu sedikit membelalakan kedua matanya. Ia kira si gendut itu suka dengan manusia-manuisa itu. Tapi ternyata, dia juga menaati aturan leluhur, yang melarang pergaulan antara bangsanya dan manusia. Setelah berdiam cukup lama, ia lalu kembali berjalan menuju ke arah tendanya sendiri.


“Kau sudah pulang?” ketika Regit memasuki tendanya itu seorang wanita bertanya kepadanya. Wanita itu tengah memasak, usianya sama dengan lelaki itu. Wajahnya cantik, rambutnya hitam panjang. Regit lalu menuju kearah wanita itu. Ia peluk dari belakang. Regit lalu memejamkan matanya. Memikirkan apakah pantas keputusan yang telah ia ucapkan kepada Eagla.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya wanita itu tersenyum menoleh ke arah kekasihnya. Seakan tahu apa yang ada di kepala lelaki itu.


“Tentu saja kau!” Sahut Regit mengencangkan pelukannya.


Wanita itu lalu tertawa manis. Telihatlah giginya yang putih tertata rapi. “Eh, kalau begini terus bagaimana kau akan makan? Aku sedang membuat makanan kesukaanmu, ini.”


“Ha-ha!” Regit lalu tertawa. Ia lepas pelukannya, lalu berjalan dan duduk di depan meja. “Baiklah, kalau begitu kau lanjutkan! Aku memang sudah kelaparan dari tadi.”


Wanita itu lalu tersenyum. Di pandanglah wajah lelaki itu yang mana tengah duduk dan nampak murung setelah tertawa. Pasti ada sesuatu yang mengganjal dikepalanya, pikirnya.


“Regit,” panggilnya.


“Hm?” Regit menoleh setelah menghilangkan wajah murungnya.


“Kenapa denganmu?”


Regit lalu tertawa, ia berdiri. “Ha-ha, tidak ada apa-apa.”


“Kau jangan bohong?” Wanita itu mengawasi wajah kekasihnya itu.


Regit lalu menarik senyumannya. Ia memasang wajah murung lagi.


“Kenapa? Kau ceritakanlah.”


Regit lalu menghela nafas. Ia pandang kekasihnya itu dengan wajah serius. “Jika, ada manusia disini, apa kau akan menjauhi mereka?”


Kekasihnya memandangi Regit dengan kerutan alis. Ia kemudian mejawab. “Pertanyaan macam apa ini? Bukankah sudah jelas kita tidak boleh mendekati mereka?”


“Jadi kau tidak suka manusia?”


Wanita itu lalu tersenyum. “Aku cinta bangsaku. Jadi, aku juga mencintai peraturannya.” Sahutnya.


“Jika kekasihmu ini melanggarnya?” menanya Regit. “Kau mau apa?”

__ADS_1


Tangan kanan wanita itu lalu menusuk dada kiri Regit. Ia tersenyum. “Aku akan tusuk kau!” sahutnya karena ia kira kekasihnya itu tengah bercanda kepadanya.


Regit lalu tertawa bergelak dan ia kemudian memeluk kekasihnya itu. Dipeluknya erat-erat sambil tertawa. Namun di dalam hatinya berlainan dengan wajahnya. Wanita itu tampak gembira. Menikmati kehangatan pelukan Regit yang memiliki tubuh besar itu...


__ADS_2