Perwira tersebut sama sekali tidak terkejut dengan binatang tersebut karena menurutnya harimau itu hanyalah binatang biasa, maka tidak sukarlah dengan kepandaian para prajuritnya itu untuk dapat menghadapi binatang besar tersebut, pikirnya.
“Serang binatang itu!” perintah perwira itu dengan jari di acungkan ke arah si harimau tersebut. Para prajurit lalu berseru menaati perintah perwiranya dan meloloskan pedang mereka masing-masing, menyerbu ke arah harimau itu, lalu mulai menyerangnya. Menebaskan pedang mereka yang tertuju kearah kaki dan tubuh namun sama sekali tidak ada yang mengenainya. Harimau itu ternyata sangat gesit dan berhasil menghindari serangan itu dengan berlompatan kesana kemari, sehingga banyak prajurit yang roboh karena tertindih oleh kaki yang berbobot ratusan kilo itu. Harimau tersebut tidak hanya menghindar saja, namun juga mulai menyerang. Dengan sambaran kaki dan ekor, satu persatu parjurit terlempar sampai membentur sebuah pohon. Rombongan prajurit itu tidak gentar, walaupun kawannya ada yang sudah roboh, mereka bertubi-tubi mengirim serangan ke arah harimau tersebut. Namun dengan ke empat cakarnya, si raja harimau itu berhasil merobek tubuh penyerangnya satu persatu.
Prajurit yang sekarang tersisia 20 itu berhenti menyerang. Mereka hendak maju namun karena melihat betapa kawannya mati dalam keadaan perut sobek, menciutlah nyali mereka, sehingga mereka hanya mengerutkan kening sambil memegang pedang di depan dada untuk berjaga manakala harimau tersebut menyerangnya.
“Ha-ha-ha!” Harimau tersebut tertawa. Lalu setelah asap tebal menyelimuti dirinya, ia berubah menjadi seorang lelaki 35 tahunan yang tinggi besar. Kumisnya tebal, begitu pula jenggotnya.
“S-siluman!”
“Ya, dia siluman!”
“Si raja harimau!” para prajurit lalu bersuara sambil memandangi lelaki di depannya dengan tubuh gemetar. Kini Mereka tahu kalau mereka ini sedang berhadapan dengan si raja Harimau, Regit.
“Ha-ha-ha!” tawa Regit. “Kalian tahu maka cepat mundurlah sebelum aku memakan kalian!” katanya lalu tertawa lagi.
__ADS_1
“Kami tidak akan lari! Kau kira aku takut padamu!” si perwira brewok membentak lalu maju dan berada di depan ke 20 pasukannya.
“Eh?” Regit lalu mengangkat alis. “Siapa yang suruh kau untuk mundur? Aku hanya menyuruh pasukanmu itu. Kau malah tidak boleh melarikan diri sekarang!”
Merahlah wajah perwira tersebut. Merah karena malu telah salah ngarti di depan lelaki si raja harimau itu dan merah karena gusar melihat sebagian prajuritnya mati dengan keadaan yang mengenaskan. Perwira ini memang mempunyai kegengsian yang tinggi. Dan untuk menghilangkan rasa malunya, ia kemudian membentak kepada salah seorang pasukannya. “Babi! Cepat kau cincang manusia itu baru serahkan kepalanya kepada paduka! Biar aku yang menghadapi kucing besar ini!” katanya sombong.
Parjurit yang ditunjuk lalu mengangguk ketakutan. Ia lalu membalikan badan dan menuju ke arah Riko yang tengah menggeletak di samping kanan mereka. Setelah sampai, terkejutlah prajurit itu karena tubuh Riko sudah tidak berada di tempat itu lagi. Maka ia lalu kembali ke sang perwira sambil menjelaskan bagaimana pemuda itu sudah tidak ada di tempatnya. Mendengar ini terkejutlah si perwira itu. Cepat ia tampar wajah prajurit tersebut sampai bengkak wajahnya!
“He? Kenapa kau kejam sekali kepada bawahanmu?” Regit menanya sambil tersenyum mengejek.
Perwira tersebut lalu melesat cepat ke arah Regit. Mengirim tebasan-tebasan hebat ke arah tubuhnya. Regit pun cukup terkejut karena serangan perwira itu ternyata cukup kuat, maka ia lalu menghindar kesana kemari dengan meringankan badan sambil kadang balas menyerang dengan kedua kakinya. Begitulah, mereka berdua lalu bertempur dengan sangat hebatnya. Seorang dengan bersenjata pedang, yang satu lagi dengan hanya tangan kosong. Ke 20 prajurit yang berada di tempat itu hanya berdiam diri menyaksikan pertarungan tersebut. Tidak berani ikut campur karena bisa jadi hanya menyusahkan perwira mereka dan mereka gentar juga dengan si raja harimau yang terkenal dengan kelihaian dan kesangarannya.
Sementara dilain pihak, Riko yang saat itu tak sadar diri sudah digendong oleh Jondan. Di bawanya tubuhnya melewati hutan dan sungai-sungai kecil. Di belakang pemuda kekar itu ada Zhu si pemuda berwajah jenaka, dan si cantik berkulit bagaikan salju, Sofia. Mereka hanya berjalan biasa dan kedua siluman itu terus mengawasi wajah pemuda yang di gendong oleh Jondan. Riko saat itu wajahnya kotor oleh lumpur dan debu, sehingga saat kedua siluman itu berhasil melihat wajahnya, mereka lalu tertawa geli.
“Khu... Uhukk...” terdengar suara batuk Riko. Jondan lalu menoleh kebelakang dan ia melihat betapa kedua mata yang lemah itu kini perlahan terbuka. Ia lalu berhenti kemudian mencari tempat yang nyaman. Setelah mendapatkan tempat di pinggir sungai, ia lalu menyandarkan tubuh Riko pada sebuah pohon berukuran sedang.
__ADS_1
“Aku akan mencari ranting, untuk penerangan.” Kata Zhu meringis lalu tubuhnya berlari meninggalkan tempat itu. Sofia mengangguk kemudian duduk di pinggir sungai. Setelah beberapa saat meninggalkan tempat itu, akhirnya Zhu kembali dengan membawa banyak ranting. Di susun rapi ranting tersebut lalu dibuat api unggun untuk penerangan tempat tersebut. Sofia lalu tertawa girang dan ia kemudain mendekati api unggun yang berada di depan Riko. Sofia mengambil duduk, sambil kadang mengawasi wajah tak sadar pemuda itu.
“Hei, kawan, sadarlah.” Jondan berbisik sambil menepuk-nepuk pipi Riko. Kedua mata Riko lalu terbuka dan ia lalu melihat jelas wajah pemuda kekar itu yang tengah mengerutkan alis kearahnya.
Riko lalu berkata lirih. “Jondan..?”
“Yah,” Sahut Jondan girang. “Bagaimana keadaanmu?”
“Amat payah..” Sahutnya sambil meringis lalu berusaha untuk berdiri. Namun tubuhnya langsung jatuh dan kalau tidak ada si lelaki kekar yang langsung menangkapnya, pemuda itu sudah jatuh tengkurap di atas rerumputan.
“Aihh... kenapa bangun? Kau istirahat dulu, lah.” Kata Jondan yang lalu menyandarkan kembali Riko pada pohon tersebut. “Kau mau apa?”
“Aku ingin minum..” sahut Riko yang wajahnya menghadap ke atas dengan nampak lemas sekali.
“Baik baik!” sahur Jondan. Cepat cepat ia menuju ke arah sungai yang berada di sampingnya, lalu mengambil air yang jerinih itu dengan kedua telapak tangan disatukan. Cepat ia berlari ke arah Riko lalu menuangkan air yang berada di talapak tangannya untuk diminumkan ke mulut Riko. Riko meminumnya sampai habis lalu kedua matanya terpejam karena kelelahan.
__ADS_1