The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 8


__ADS_3

“Kreekk...” pintu dibuka perlahan oleh Riko. Pintu tersebut adalah pintu dimana jika dipandang dari kejauhan maka yang terlihat hanyalah cahaya. Mereka bertiga lalu saling pandang, kemudian Riko yang mulai memasuki pintu tersebut, diikuti oleh Doni, baru si lelaki kekar setelah mengernyit bibir.


“tap!” Riko menginjak rerumputan yang terasa halus. Ia pandang yang berada di depannya. Cuaca di tempat itu sangat enak sekali di kulit. Udara sangat sejuk yang di kibaskan oleh dedaunan hijau di pepohonan yang hijau pula, terdengar oleh telinganya. Pegunangan di depan sana menjulang tinggi seperti menyagak langit. Dan langit itu sangat cerah, hanya sedikit awan yang menghiasi langit biru tersebut. Burung-burung yang nampak seperti burung ****** berwarna putih itu melayang di udara, bersama kawannya menghiasi langit siang dengan menuju ke arah barat sepertinya. Ada pun, tanah yang ia injak ini, merupakan rumput hijau seperti tanah lapangan, namun sangat halus sekali. Tidak menimbulkan licin maupun becek. 


“Inikah dunia lain yang kau bicarakan?” si lelaki kekar melangkah maju sambil bertolak pinggang. “Ini mah tempat dimana aku mengembala kambing!”


“Riko, lihat!” Doni menepuk sahabatnya lalu menunujuk ke arah pegunungan yang berada di depan mereka.


“Ah!” Riko lalu melihat apa yang Doni maksudkan. Di balik gunung ternyata terdapat sebuah istana berwarna emas yang besar bentuknya. Di kelilingi oleh tower-tower tinggi, dan di dampingi oleh dua menara lancip yang lebih tinggi dari istanannya. Apa Wulan tinggal di tempat itu? Tempat yang katanya manusia bumi tidak boleh memasukinya, pikir Riko.


Istana itu sangat luas dan megah. Di hiasi oleh air terjun karena tempat tersebut menempel pada tebing yang terdapat air terjunnya. Di depannya terdapat gunung tak berapi menjulang tinggi. Di bawahnya terdapat aliran sungai yang sangat jernih sampai terlihat bebatuannya.


Di halaman istana, terkumpul ratusan prajurit dengan memakai seragam besi berikut helmnya yang kokoh dengan Senjata dan tameng terbaring di samping kanan mereka. Mereka semua berada di barisan belakang. Sementara, di barisan depan ada sekitar tiga puluh perwira dengan memakai baju besi yang gagah. Di depannya lagi, ada sekitar lima puluh wanita dan pria yang mana adalah para peri yang memiliki sebuah lingkaran diatas kepalanya dan sepasang sayap lebar pada punggungnya. Di depan puluhan peri, berbaris sepuluh lelaki-lelaki gagah dengan penampilan yang mencolok dari pada yang lain. Ada yang berwarna hitam, perak dan juga emas. Kesepuluh lelaki itu adalah para Dewa, yang terdiri dari lelaki berumur 18-30 tahunan. Dan yang berada di depan sendiri, paling depan sekali, berbaris 19 gadis cantik dengan bergaun sutera yang diselimuti oleh kain tipis penutup tubuh seperti gorden, mengenakan selendang lebar dan panjang dengan beragam warna. Mereka adalah para Dewi yang cantik-cantik rupanya. Tidak ada yang berwajah jelek. Hanya saja ada yang melebihi kecantikan satu sama lain. Mereka semua, dari barisan depan sampai belakang berbaris dengan rapinya. Mereka tengah berdiri menunggu seseorang. Dan karena orang yang ditunggu belum juga datang, maka suara tak jelas berkumandang ramai di halaman tersebut. Mereka saling mengobrol sambil bercanda gembira.

__ADS_1


“Eh, gadis galak itu belum kemari, kan?” tanya seorang dewi berselendang jambon kepada sahabatnya yang berselendang nila.


“Belum belum.” Sahut sahabatnya menggeleng kepala. Mereka berdua memakai kain penutup tubuh yang berwarna sama, kuning.


“Kenapa kau sebut dia galak?” seorang dewi berselendang hijau menyahut, sambil mendekati mereka. Ia memakai penutup tubuh berwarna hijau.


“Bagaimana tidak? Gadis itu sering memarahi kami dan mendamprat kami!” sahut si selendang jambon. “Dia sangat taat kepada ayah handa dan sifatnya itu sangat acuh saat kami ajak bicara dan bercanda! Sungguh aku sangat tidak suka dengan gadis itu!”


“Zhani melakukan itu semua bukan atas kehendaknya!” bantah dewi berselendang hijau. “Ia hanya sangat taat kepada Ayah Handa!”


“Ehhh... sudah-sudah!” Dewi selendang hitam tiba-tiba menerobos ke tengah mereka berdua. Penutup tubuhnya berwarna biru.  “Apa kalian melihat Wulan?”


Hanmei si dewi selendang hijau dan jambon menggeleng kepala.

__ADS_1


“Ahh...” Dewi Selendang hitam mengeluh.


“Mia!” terdengar suara dari samping lalu selendang hitam yang bernama Mia itu menoleh kemudian tertawa girang. “Wulan!” serunya lalu sahabatnya itu berlari mendekatinya. Setelah sampai mereka lalu berpegangan tangan.


“Kau ini darimana saja, sih?” Mia menanya sambil mengerutkan keningnya.


“Tidak perlu dibahas,” sahut Wulan tersenyum.


Mia lalu memandang sahabatnya. Ia amati gaun sutera putih dibalik penutup tubuh yang berwarna biru itu kemudian setelah beberapa saat, ia membelalakan kedua matanya seakan terkejut. “Eh, dimana selendangmu?” bisiknya.


Wulan menggeleng kepala dan sedikit murung.


“Maksudmu?”

__ADS_1


“Nanti akan aku ceritakan!”


__ADS_2