The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 9


__ADS_3

Terdengar lonceng memukul lalu serentak semua yang berada di halaman berlarian menuju ketempat dimana tadi berdiri. Kini semua yang berada di halaman berbaris rapi lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh suara pakaian besi para lelaki yang membentur lantai, menanti seorang yang akan datang ke tempat itu. Di depan sana muncul dari pintu yang sangat tinggi seorang lelaki setengah abad berpenampilan Raja yang di dampingi oleh dua orang dayang memegang kipas bulu merak yang lebar. Di belakangnya ada sepuluh pelayan wanita berpakaian emas. Di depan pelayan ada seorang gadis cantik bergaun sutera dengan kain penutup tubuh berwarna putih. Selendangnya lebar berwarna biru langit dan panjangnya sampai menyentuh lantai. Gadis ini adalah Dewi kesayangan sang Raja yang mana sudah dianggap sebagai anak kesayangannya. Pantaslah ia tidak berbaris di halaman namun mendampingi sang Raja sampai singgah di kursi emas yang besar di depan orang-orang di halaman. Sang Raja duduk dengan santainya sambil mengelus jenggot yang hitam panjang sementara kedua dayangnya sudah mengipasinya. Gadis berselendang biru langit lalu berdiri di samping sang raja secara anggun.


Lonceng berhenti memukul lalu serentak semua para dewa dan dewi menyerukan. “Hormat kepada ayah handa!” sedangkan di barisan belakang sampai ujung menyerukan. “Hormat kepada paduka Raja!”


Sang Raja lalu tersenyum sambil menganggukan kepalanya dan mengelus jenggotnya. Ia kemudian berkata. “Anak-anakku, bagaimana keadaan kalian?”


“Sangat baik, ayah handa!” sahut para dewa dan dewi serentak.


“Hmm.. mmm..” Sang Raja memeramkan matanya. Ia kemudian membuka mata, menoleh ke arah gadis berpenutup tubuh putih dan berkata dengan suara berwibawa. “Ang Zhani...”


“Baik, ayah handa..” Gadis berselendang biru yang bernama Ang Zhani menunduk anggun lalu berjalan ke barisan para dewi. Ia menghampiri mereka yang berjumlah 20 itu satu persatu. Ketika mendekati salah seorang dewi, Zhani lalu membangunkannya dan memeriksa pakaiannya. Setelah pasti bahwa seorang dewi itu berselendang, maka Zhani memerintahkan untuk berlutut kembali. Begitulah ia melakukan itu semua sampai akhirnya Dewi yang terakhir, Wulan. Zhani lalu mendekatinya kemudian berkata halus. “Bangunlah..” terdengar suaranya yang sedikit serak basah.


Wulan diam saja. Ia masih berlutut dan alisnya mengerut. Suasana menjadi sunyi dan orang-orang yang berada di situ menatapnya. Begitupun sang raja.


“Bangunlah!” perintah Ang Zhani sedikit bernada tinggi.


Wulan menunduk sesaat. Ia kemudian berdiri menghadap Zhani dengan alis mengerut. Zhani memeriksa penutup tubuh gadis itu. Dari atas sampai bawah sampai akhirnya ia dapatkan Wulan tidak mengenakan selendang.


“Dimana selendangmu?” Zhani menegur namun tatapannya tenang.


Wulan diam saja dan tidak menyahut.


“Kenapa kau tidak mengenakannya?”

__ADS_1


Wulan menggeleng kepala lalu menunduk.


sang Raja tiba-tiba mendirikan alis dan berseru. “Zhani! Bawa dia!”


Semua orang yang berada di halaman tersentak hatinya lalu kemudian lebih menundukan kepala. Tidak berani membantah. Tadi adalah kata-kata sang Raja. Yang mana Wulan tentu akan dihukum karena tak mengenakan selendang.


Ang Zhani lalu menunduk halus menandakan setuju. Ia kemudian mencekal lengan Wulan lalu ia sedikit menundukan wajahnya. Perlahan tubuh mereka berdua hilang terbawa oleh dedaunan yang terbawa angin. Gadis berselendang biru langit itu ternyata menggunakan ilmu memindahkan diri yang hanya dimiliki oleh orang-orang tinggi di tempat tersebut.


“Anak-anakku,” Sang Raja menyapu para dewi dengan kedua matanya yang tajam. “selendang kalian adalah kekuatan kalian. Jangan sampai kalian tidak mengenakannya atau aku akan sangat murka. Jika kalian menghilangkannya, maka kalian akan menjadi makhluk biasa! Kekuatan dewi kalian akan hilang begitu saja! Ingatlah, bangsa monster dan siluman hari-hari ini telah berani memasuki tempat ini. Mereka ingin memperisteri kalian! Dan juga ingin menguasai tempat ini! Jika kalian tidak mempunyai selendang, bagaimana kau akan mampu untuk melawan dan membela tempat kelahiran kalian ini, sementara kalian telah aku besarkan belasan tahun dengan kehidupan enak dan mewah?! Apa kalian tidak akan membalasnya?”


Para dewi terdiam dan hanya menunduk.


“Aku sedang tidak enak hati.” Kata sang raja yang lalu mengencangkan rahang. “Pertemuan hari ini aku cukupkan.”


Sementara di sebuah kamar yang cukup besar dan indah, Zhani dan Wulan berdiri berhadapan. Zhani itu adalah gadis yang sangat cantik. Usianya 20 tahun. Tubuhnya ramping dan membentuk layaknya seorang gadis tulen. Itu semua terlihat di kain penutup tubuhnya yang tipis. Rambutnya terurai hitam sekali sebatas punggung dan di atasnya terdapat tiara kecil terbuat dari perak. ( Tiara adalah mahkota bersusun tiga, hiasan kepala bertahtakan mahkota ). Wajahnya putih, hidungnya kecil mancung, bibirnya merah muda mengkilat, dan yang membuat ia disegani oleh banyak orang yaitu karena dia mempunyai sepasang mata tajam yang penuh daya tarik. Serta ekspresi wajah yang penuh ketenangan.


“Kenapa kau membawaku kemari?” Wulan menanya dengan nada datar dan parau. “Bukankah ayah handa menyuruhmu untuk menghukumku?”


“Kenapa kau tak berselendang?” Zhani balas menanya dengan sedikit senyuman tenang.


“Kau hukum saja aku!”


“Aku tidak menghukummu.” Potong Zhani. “Aku hanya bertanya kenapa kau tidak mengenakan selendang,”

__ADS_1


Wulan menunduk. Ia kemudian mengerutkan alis.


“Kau adalah yang paling rajin dan disiplin diantara semua dewi.” Kata Zhani menatap Wulan. “Kenapa hari ini kau begitu ceroboh melakukan kesalah besar?”


Wulan kembali menunduk dan sedikit menggigit bibirnya.


“Kau menyembunyikan apa dari kami? Ceritakanlah, yang sebenarnya.”


“Aku tidak akan bercerita!” Wulan mengangkat kepala memberanikan diri bertatap mata dengan Zhani. Walaupun akhirnya ia menunduk karena tidak kuat menatap mata yang begitu tajam dan tenang itu.


“Apa kau sengaja meninggalkannya?”


Wulan mengangkat wajah. “Maksudmu?”


“Kau ke dunia manusia, lalu meninggalkan selendangmu agar manusia itu kemari untuk bertemu denganmu.”


Wulan sedikit mundur kebelakang. Kedua matanya sedikit terbelalak. Ia lalu menunduk dan berseru. “Hukum saja aku! Bukankah kau selalu menaati perintah ayah handa?!”


Ang Zhani menghela nafas. Ia kemudian mendekati Wulan. “Bukankah aku sudah bilang aku tidak akan menghukummu.”


“Kenapa?!”


Zhani terdiam lalu membalikan badan. Tidak menyahut dan ia kemudian menoleh ke arah Wulan sesaat baru kemudian menghilang terbawa dedaunan meninggalkannya. Hilang dari tempat itu meninggalkan suara tiupan udara.

__ADS_1


Wulan mengerutkan alis. Melepas penutup tubuhnya, dan terlihatlah gaun putihnya. Ia kemudian duduk di ranjangnya. Tempat itu adalah kamarnya sendiri.


__ADS_2