“Heh...! kawan...!” terdengar suara dibelakang mereka.
“Ya ampun...” Sofia mengeluh karena dapat menduga siapa yang memanggilnya itu. Tentu bukan lain kenalan barunya. Hongki dan Sasung.
Hongki dan Sasung berlari menuju ke arah mereka. Sofia dan yang lain memang sudah berhenti ketika mereka dipanggil oleh kedua kenalan barunya itu.
“Kalian ini...” kata Hongki sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Benar-benar mencurigakan!”
Sofia sedikit membelalakan kedua matanya. Apa mereka tahu penyamaran mereka?
“Ayo jawab! Kenapa kalian tidak ke gerbang?! Malah keluyuran di sini.” Kata Hongki bertolak pinggang.
Zhu dan Jondan sudah bersiap jika penyamaran mereka ketahuan. Mereka berdua siap melawan jika Sofia memang hendak melawan. Sementara Riko hanya melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Sobat Hongki dan Sasung...” kata Sofia menangkap ide. “Mungkin dugaan kalian memang benar...”
“Ah!” Hongki dan Sasung menyuarakan terkejut.
“Sebenarnya kami...” sambung Sofia. “Kami ingin tahu dimana keberadaan Manusia itu. Kami tidak sabar... kami tidak sabar... kami ingin... Ah, sangat memalukan sekali.”
“Sudahlah!” sahut Hongki. “Aku tahu apa maksud kalian! Kalian sangat ngiler ingin memiliki manusia itu, bukan?”
“Y-ya...” jawab Sofia ragu-ragu.
“Hmph!” Hongki mendengus. “Dasar curang!”
__ADS_1
Sofia dan semuanya terdiam. Mereka menantikan apa yang akan dikata oleh Monster ini.
“Kenapa kalian tak ajak kami! Apakah kalian serakus itu?!” ketus Hongki mendelik. Temannya pun ikut mendelik menyatakan setuju.
Di dalam hati Sofia ia menghela nafas. Maka dengan tersenyum lega ia lalu berkata. “Kalau begitu, mau bagaimana lagi. Baiklah, mulai sekarang kita bekerja sama!”
“Ha! Itu baru bagus!” kata Hongki girang. “Cepatlah, kau yang di depan!”
Sofia lalu memasang wajah ragu. Sambil tampak bingung ia berkata. “Sebenarnya, kami tidak tahu dimana manusia itu.”
“Ha-ha-ha-hah...” Hongki tertawa bergelak. “Ceroboh sekali kalian ini, tidak tahu jalan kok main bertindak sendiri. Kenapa tidak dari awal ajak kami?”
Sofia lalu menoleh ke teman-temannya. Mereka saling pandang. “Aku tidak tahu bahwa kalian seperti kami. Kalau tahu begini, memang seharusnya dari tadi.”
“Hmm...” Hongki mengangguk. “Ayoh! Besar kemungkinan mereka di tempat tuan Pawmina!”
“Apakah kita sudah sampai, sobat?” tanya Sofia sambil memandangi tenda yang berada di depannya.
“Benar.” Sahut Hongki sambil menunjuk tenda berbahan kulit didepannya dengan jarak 30 meteran. “Itu tempat tuan Pawmina. Sudah pasti mereka berada disana.”
“Apa kau yakin?” tanya Sofia memastikan.
“Emm!” Hongki dan Sasung mengangguk. “Yang membawanya adalah anak buah Tuan Pawmina. Tentunya sekarang manusia itu ada disni.”
“Ah...” Sofia pura-pura mengeluh. “Kalau begitu manusia itu sudah dimakannya...”
__ADS_1
“Belum tentu,” Hongki menggeleng. “Makannya ayo lekas kesana!”
“Emm!” Sofia mengangguk. Namun ia tidak mengikuti kedua Monster itu yang sudah siap menuju ke tenda itu. Namun Ia memberi isyarat ke arah Zhu dengan gerakan alisnya yang indah.
“Wushh!!!” secepat kilat tubuh Sofia dan Zhu melayang ke arah kedua Monster itu. Mereka berhasil menotoknya dan lemaslah lalu jatuh kedua Monster itu tanpa menimbulkan suara.
“Eh, apa yang kalian lakukan?” tanya Jondan. Riko pun memasang wajah bertanya.
Sofia menyeret tubuh Hongki, Zhu menyeret tubuh Sasung. Mereka berdua membawa Monster itu ke arah semak-semak.
“Crakk! Crakk!” terdengar bunyi seperti itu dibalik semak-semak. Sofia dan Zhu memotong kepala kedua Monster itu dengan Kapak yang berada di punggung mereka.
Riko dan Jondan saling pandang. Sampai sesaat ketika Zhu dan Sofia muncul dari balik semak-semak. Terlihat oleh mereka. Bagaimana mereka berdua tengah membersihkan darah hijau yang ada di tubuh kostum mereka. Ada yang sampai bagian depan helm. Ada juga yang di depan dada.
“Kalian habis ngapaian?” menanya Jondan keheranan.
“Mereka berdua sengaja memancing kita kemari.” Sahut Sofia. “Tapi aku tidak peduli. Yang penting kita sudah tahu tempatnya.”
“Hhhh...” Jondan mengeluh. “Apa maksudmu, sih?”
“Mereka tahu penyamaran kita.”
“Loh?” terkejut Jondan. “Bukankah kau bilang jika kita oleskan darah maka mereka mengenali kita sebagai bangsanya?”
“Memang benar.” Sahut Sofia. “Tapi tidak untuk kedua Monster itu. Kupikir mereka Monster yang cukup tinggi tingkatannya. Sehingga penciumannya lebih tinggi dari Monster-monster yang lain. Sekarang kita harus melawan! Tidak ada jalan lain! Kita sudah ketahuan!”
__ADS_1
“Ketahuan gimana? Tidak ada orang lain di sini!” kata Jondan.
“Lihatlah kesekelilingmu!” sahut Sofia sambil melepas kostum bajanya. Begitu pula dengan Zhu. Memang baju baja itu terasa mengganggu pergerakan mereka, sehingga mereka kini melepaskannya. Agar lebih gesit dan lincah dalam melakukan gerakan.