“Siapa yang berani mengacau ke tempat kami!” terdengar seruan di depan sana dan munculah lelaki 25 tahunan dengan memakai pakaian warna emas yang gagah. Di belakangnya ada delapan lelaki berumur 18-25 dengan memakai pakaian besi gagah dengan terselip pedang di punggung. Sembilan Dewa tersebut meringankan badan lalu satu persatu menyerang makhluk hitam tersebut setelah sampai di depan mereka. Satu per satu mata pedang menusuk ke arah dada makhluk tersebut namun mereka berdua dapat menghindarkan diri dengan mudah sekali. Terjadilah pertarungan yang sangat seru karena makhluk tersebut tiba-tiba menjadi sembilan sehingga satu persatu dewa mendapatkan lawannya masing-masing. Mengeroyok dua makhluk saja sudah kewalahan, apalagi sekarang mendapat sepuluh makhluk. Lantas lama kelamaan para dewa berada di bawah angin dan satu-dua dewa sudah roboh tak berdaya. 7 dewa yang masih bertarung mengerahkan kepandaian sepenuhnya. Mereka terbang kesana kemari beradu senjata dengan lawannya. Sebilah pedang, melawan sepasang tangan yang berbentuk pisau melengkung. Namun ternyata kesepuluh makhluk hitam tersebut bukanlah lawan mereka, dalam hitungan 100 serangan, 7 dewa sudah jatuh sambil mengeluh kesakitan. Makhluk tersebut ternyata hanya melukai bagian tubuh para dewa, tidak mengorek leher mereka seperti yang telah dilakukannya terhadap korbannya sebelumnya.
“Whusshh...!” baru saja kesepuluh makhluk hitam itu bertolak pinggang sambil tersenyum senang, di depan mereka tiba-tiba datang segumpalan api besar melesat ke arah mereka. Lantas mereka terbelalak lalu bergulingan kesamping untuk menghindarkan diri, akan tetapi gumpalan api tersebut terlalu besar sehingga 7 diantara mereka tidak sempat menghindarkan diri dan terkena serangan lalu hangus terbakar seketika itu juga. Terdengar suara api menggulung-gulung membakar 7 makhluk tersebut. Lalu terdengar pula jeritan ngeri sampai akhirnya mereka menggeletak di lantai halaman dan berubah menjadi serpihan arang bercampur dengan api.
Dari depan sana 19 dewi dengan penutup tubuh menuju ke tempat tersebut dengan meringankan badan. Mia juga berada di sana namun Wulan tidak ada karena dia sudah tidak punya kekuatan Dewi lagi.
“Ha-ha-ha! Bagus, akhirnya kalian datang!” seru si makhluk hitam senang.
“Bangsa monster buruk rupa! Angin apa yang membuatmu kemari!” Hanmei si dewi berselendang Hijau yang berada di depan sendiri berseru. Wajahnya yang cantik dan putih memerah karena melihat puluhan prajurit menggeletak mati beserta seorang perwiranya, dan sembilan dewa yang roboh tak berdaya.
“Ha-ha-ha! Aku mencari dia!” sahut si makhluk lantang. “Dimana ketua kalian?!”
__ADS_1
“Buat apa kau cari ketua kami?!”
“Aku ingin bertemu sesaat,”
“Yang kau cari disini!” terdengar seruan lembut di atas istana dan turunlah dewi berselendang biru langit dengan anggun sekali meringankan badannya. Selendangnya yang panjang dan penutup tubuhnya yang lebar berkibar tertiup angin lalu mendarat di depan ke 19 dewi.
“Ketua!” para Dewi lalu berlari mengejar Ang Zhani yang merupakan ketua mereka. Terkecuali dua dewi berselendang jambon dan nila yang hanya berjalan biasa dengan wajah tak suka.
“Hmph!” makhluk tersebut lalu mendengus. “Si ******* tua Yuansu itu mana bisa kami takuti. Dia hanya bisa mengandalkan para anjingnya yang tak berguna, dan para dewa dewinya yang kepandaiannya sangat ringan seperti kapas!”
“Kau berani menyebut nama ayah handa kami sembarangan!” Hanmei hendak menerjang maju dan diikuti oleh kawan-kawannya namun di hentikan oleh Zhani dengan isyarat tangan.
__ADS_1
Ang Zhani lalu menghela nafas menahan kegusarannya. Ia lalu mengangkat wajahnya yang anggun kemudian berkata, “Kalian baru pertama masuk ke tempat kami kenapa sangat congkak begitu? Kami para Dewi adalah yang terdepan di tempat kami! Apa karena kami kaum wanita sehingga kalian begitu menganggap remehnya?!”
“Ha-ha-ha!” makhluk tersebut tertawa bergelak. “Ayo! Kami ingin mencicipi kepandaian kalian ini. Dan kau, nona Ang Zhani, kau harus menjadi selirku setelah permainan ini selesai!”
“Mimpi!” Ang Zhani lalu menerjang dan mengirim serangan dengan kakinya yang mulus ke arah kedua makhluk tersebut dengan cara melompat. Para Dewi yang ada di belakang pun lalu membantu dan bergiliran melancarkan serangan-serangan yang kadang mengeluarkan jurus andalan mereka, yaitu dapat melesatkan elemen-elemen seperti api, sambaran angin, kayu, air dan tanah. Terjadilah pertempuran yang sangat seru yang mana kedua makhluk hitam itu melawan belasan Dewi yang cantik rupanya namun kekuatannya seperti singa betina. Tak ampun ke lawan dan sesekali mengirim serangan yang hampir membuat makhluk tersebut rontok isi perutnya.
Riko sedari tadi yang masih duduk di balik ruangan yang gelap mengamati jalannya pertarungan dengan wajah melongo. Menentukan percaya atau tidaknya kejadian yang tidak pernah ia lihat selama hidupnya. Para perempuan dengan kekuatan sihir yang begitu ganas, melawan dua makhluk hitam yang aneh bentuknya. Sungguh ia sama sekali tidak merasa terkejut karena ia masih berpikir apakah yang ada di depan matanya itu nyata ataukah tidak. Ia lalu memandang para Dewi yang berada disana. Ia pandang satu persatu yang tengah bertarung. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, dan ia lalu mengawasi tempat tersebut lebih teliti. Dimana Wulan, pikirnya. Kenapa ia tidak berada disitu?
Pertarungan terus berlanjut sampai ratusan serangan telah dilancarkan oleh para Dewi. Dan kini, agaknya pihak lawan yang cukup terdesak. Setelah Ang Zhani melesatkan tendangan yang di dampingi oleh angin besar dan tepat mengenai perut makhluk tersebut, makhluk aneh itu lalu memekik dan melesat sangat jauh dengan begitu cepatnya. Tubuhnya sampai membentur benteng istana dan benteng tersebut retak sampai berlubang. Makhluk itu sesaat menempel pada benteng baru kemudian melorot jatuh kebawah.
Melihat kawannya telah roboh kehilangan nyawa, makhluk hitam yang hanya tinggal seorang lalu berseru gusar menerjang ke arah Zhani. Ia berubah menjadi asap hitam lalu setelah muncul di belakang gadis tersebut, ia lalu membacokan tangan pisaunya dengan maksud hendak menebas leher lawannya. Dewi berselendang biru langit itu seperti biasa wajahnya selalu tenang. Walaupun tahu dirinya sedang diserang, dengan sikap tenang ia lalu menggeser tubuh kesamping dan kini berada di belakang makhluk tersebut. Serangan makhluk itu hanya membacok udara. Dan Zhani yang sudah dapat menghindarkan diri lalu balas menyerang dengan mengangkat tubuhnya sendiri lalu kedua kakinya terangakat, menendang punggung makhluk tersebut dan yang terkena tendangan tidak sempat menghindarkan diri lagi. Makhluk tersebut terkena tendangan dan tubuhnya bengkok kebelakang melesat cepat ke depan. Selagi makhluk hitam itu melesat di atas udara, tangan kanan Zhani lalu mengeluarkan api yang kecil, kemudian berputar dan menjadi besar seperti bola tendang. Ia lemparkan gumpalan api tersebut ke arah makhluk itu, diikuti oleh suara api yang melesat lalu membentur mengenai punggung sasaran. “Blaammm...!” Tubuh makhluk tersebut kini semakin melesat terbawa oleh gumpalan api sehingga ia menjerit kesakitan karena gumpalan api tersebut semakin memakan tubuhnya. Jeritannya itu amat keras sampai menggema di sekitar halaman dan juga angin mendesir-desir lebat meniup pepohonan dan rambut para dewi. Riko yang berada disana lalu mendirikan alisnya sambil menekan kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya kerena jeritan makhluk tersebut amatlah keras. Sampai sesaat jeritan itu digantikan oleh suara ledakan yang besar dan angin kemudian menyambar ke arah mereka yang berada di halaman! Para dewi lalu menutupi kedua matanya dengan punggung lengannya sementara Riko lalu menyembunyikan wajahnya di atas tanah. Angin hebat itu perlahan mengecil dan rambut para dewi perlahan berhenti berkibar. Dari atas sana, jatuh serpihan arang yang amat kecil bekas tubuh makhluk hitam tadi. Makhluk tersebut telah hancur lebur terkena serangan hebat dari ketua mereka!
__ADS_1