Malam itu sekitar pukul delapan jika di dunia nyata. Jondan dan Doni masih berada di depan pintu gerbang. Mereka tengah tertidur disana karena menanti sahabatnya yang belum juga kunjung menemui mereka. Sampai sesaat, dua penjaga istana tengah berpatroli di tempat itu. Mereka berdua lalu membuka sebuah pintu kecil di sisi gerbang, lalu keluar untuk berjaga karena dua rekan yang menjaga pintu gerbang belum juga kembali. Melihat betapa ada seorang pemuda berusia 23 tahun dan seorang pemuda berusia 18 tahun tengah tertidur di depan pintu gerbang, terkejutlah kedua penjaga itu. Juga bagaimana mereka melihat dua penjaga gerbang menggeletak tak bernyawa dengan leher terkorek. Mereka menduga bahwa kedua pemuda itulah pembunuhnya. Karena kedua prajurit ini tahu bahwa tadi ada dua makhluk memasuki istana, mereka jadi menduga bahwa tentulah kedua pemuda itu adalah temannya dan yang telah membunuh kedua prajurit itu.
“Bangsa siluman! Kali ini kau tak akan lolos!” seru salah seorang penjaga yang berkulit kuning.
Kedua pemuda itu lalu tersentak kaget. Mereka lalu bangun sambil menggeliat dan mengucek matanya. Seperti layaknya seseorang bangun pagi-pagi.
“Ku bunuh kau! Hyaa!” penjaga berkulit kuning itu lalu meloloskan pedang dari pinggangnya kemudian menerjang ke arah Jondan dan Doni, lalu penjaga berkulit hitam ikut menerjang juga.
Melihat dua penjaga tengah berlari ke arah mereka, terkejutlah kedua pemuda itu. Mereka lalu cepat-cepat bangun kemudian berlari ke arah selatan yang mana adalah lerang yang mana telah mereka daki sore tadi.
“Kenapa kita bisa tertidur, sih?” Jondan si kekar itu berseru sambil masih berlarian. “Bisa-bisanya padahal di dekat kita ada dua mayat yang sudah bau amis!”
“Tanahnya terasa empuk!” sahut Doni ngaco karena baru bangun tidur. Mereka berlari menuruni lereng dengan tergesa-gesa. Karena lari turun gunung, langkah mereka menjadi sangat cepat, walaupun kadang menjadi terhuyung-huyung hendak terjatuh. Dengan bantuan sinar bulan purnama dan serta banyak bintang, tidak sukarlah mereka berdua untuk melihat jalanan.
__ADS_1
Setelah menuruni lereng, mereka lalu berlarian ke dalam hutan yang sangat asing bagi mereka. Dan ketika terasa cukup jauh, Jondan lalu menoleh kebelakang untuk melihat apakah kedua penjaga tadi masih mengejarnya.
“Woy! Berhenti kalian!” terdengar suara dari belakang mereka berdua. Ternyata dari tadi kedua penjaga itu dapat menyusul di belakang mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
“Ahh... kenapa mereka masih dapat menyusul kita!” ketus Jondan dengan nafas terengah-engah. Wajahnya sudah penuh dengan keringat.
“Entahlah!” ketus Doni pula yang nafasnya pun terengah-engah. Bajunya basah karena keringat. “Seandainya aku adalah Sonic..”
“So nice kali!” ketus Jondan sambil mendelik kearahnya. “Dalam situasi begini bicaramu malah ngaco!”
“Doni!” seru Jondan yang sudah berada di depannya. Ia kemudian berhenti lalu menghampiri pemuda keriting itu. Ia periksa dia ternyata sudah pingsan karena kelelahan.
“Ha-ha-ha!” kedua penjaga sudah berada di hadapan mereka. Mereka berhenti lalu mengeluarkan pedangnya masing-masing. “Pembunuh-pembunuh kok cepat loyo!”
__ADS_1
“Siapa yang pembunuh!” Jondan lalu mendelik ke arah mereka.
“Siapa lagi kalau bukan kalian!”
“Aku sama sekali tidak membunuhnya, tahu!”
“Masih saja tak mengaku?! Nyawa harus dibalas dengan nyawa!” seru kedua penjaga itu lalu si kulit kuning membacok kepala Jondan dengan pedangnya. Si lelaki kekar masih sempat menghindar. Ia lalu pondong tubuh Doni kemudian bergulingan ke samping kanan. “Dukk!” Namun kepala Jondan membentur sebuah batu yang cukup besar dan ia lalu pingsan setelah mengeluh saat itu juga.
“Ha-ha-ha, lemah sekali mereka ini!” si penjaga berkulit hitam tertawa dihidung. Mereka berdua lalu mendekati kedua pemuda yang pingsan itu. Setelah sampai, mereka berdua lalu angkat pedangnya tinggi-tinggi, siap mencobak-cabik isi perut kedua pemuda itu.
“Hyahh!” Mereka berseru dan membacokan pedangnya ke arah tubuh kedua pemuda itu. “Tang-tang!” dua buah kerikil menyambar ke arah kedua pedang. Dan pedang yang berada di genggaman kedua penjaga itu lantas terlepas seketika itu juga.
“Siapa disana?!” si kulit hitam berseru sambil mendirikan alisnya. Karena merasa kesenangannya itu terganggu oleh orang lain.
__ADS_1
“Keluarlah kau!” seru si kulit kuning pula. Mereka berdua lalu menengok kesegala arah di tengah hutan itu.