Ketika celana si gendut hendak di lepaskan, kontan Doni dan Jondan lalu membuka kedua matanya. Mereka langsung berdiri.
“Kami sudah bangun, kami sudah bangun!” seru Jondan.
“Eh, kalian hanya pura-pura pingsan?” Regit lalu memandang mereka dengan alis terangkat.
“Sebenarnya tidak.” Jondan menyahut. “Ketika masuk keperkemahan ini, aku sudah sadar namun memeramkan mata kembali.”
“Ha-ha-ha!” si raja harimau itu tertawa. “Kenapa aku yang memiliki hidung tajam ini tidak dapat menduganya, ya?”
“Ha! Karena kami tidak lemah!” sahut Jondan lalu tertawa, bertolak pinggang sambil melirik ke arah Eagla untuk menyindirnya. Ia tadi mendengarkan betapa pemuda itu mengejek manusia maka kini ia melampiaskan kemendongkolannya. Eagla pun lalu menatap tajam si lelaki kekar sampai pemuda kekar itu tidak kuat menatapnya.
“Kau benar-benar manusia, kan?” tanya si gendut meringis ke arah Jondan.
“Tentu!” sahut Jondan semangat. “Eh, kalian ini pastinya bangsa siluman. Kau siluman apa, ndut?”
“Emm,” si gendut mengangguk dan terlihat girang. “Aku siluman kerbau!”
“Ha-ha-ha!” Jondan lalu tertawa bergelak. “Pantas, pantas sekali dengan badanmu.”
Si gendut bukannya mendongkol di ejek seperti itu, malah kini tertawa kegirangan.
“Dan kau?” tanya Jondan kepada si kurus kering.
“Aku siluman Kambing.” Sahut Eno sambil meringis menunjukan giginya yang telah hilang satu.
“Hey, sobat!” Zhu lalu menepuk Doni yang sedari tadi menggigil. Karena kaget tiba-tiba pundaknya di tepuk, Doni lalu menyuarakan suara kaget sambil hampir meloncat tubuhnya. Memang sejak berjumpa dengan mereka ini, Doni sudah gentar ketakutan sekali karena ia pernah membaca di sebuah buku, bahwa siluman itu makhluk yang jahat, suka darah, dan tidak segannya melepas nyawa orang.
__ADS_1
“Ha-ha, santai saja.” Zhu lalu tersenyum simpul kepada pemuda keriting itu.
“Kenapa kalian bisa di dunia ini?” tanya Sofia dengan sedikit senyuman.
Jondan lalu menoleh dan melihat siapa yang bertanya. Ia lalu membuka mulutnya karena melihat seorang gadis yang sangat cantik, berkulit putih seperti salju, dan bibirnya merah seperti darah.
“Kenapa?” tanya gadis itu keheranan.
“Sungguh seorang dewi...” Jondan lalu maju mendekati gadis itu dengan senyuman.
“Enak saja! Aku ini siluman!” ketus gadis itu.
“Eh?” Jondan lalu berhenti. Ia tercengeng mendengar ketusan gadis tersebut. Bukannya bangga di puji sebagai dewi, malah bangga dengan status silumannya. Namun ia kemudian mendekati lagi sambil tersenyum. “Nona yang cantik, siapa namamu dan kau siluman apah?”
“Maju satu langkah lagi maka ku cabik wajahmu!” bentak Eagla dari kanan sana. Kedua matanya menatap tajam ke arah Jondan dengan alis berdiri. Lantas Jondan lalu berhenti dari berjalannya.
“Santailah, Eagla, dia hanya ingin berkenalan.” Sahut Regit yang masih duduk di depan api unggun.
Jondan lalu tertawa terpaksa. Karena sedikit ngeri dan sedikit senang pula. Ngeri karena mereka ini siluman, dan senang karena ada juga siluman yang cantik rupanya. “Ha-ha-ha, bagus-bagus. Untung saja kau bukan siluman anjing.”
“Lalu kenapa kalau dia siluman anjing?” Zhu lalu maju satu langkah dan bertolak pinggang. “Aku siluman anjing!”
Kembali Jondan lalu tertawa terpaksa. “Ha-ha, kebetulan sekali, aku suka dengan anjing. Suka sekali.”
Zhu menyahut dengan kernyitan bibir.
“Eh, kau belum jawab pertanyaanku!” Pinta Sofia.
__ADS_1
Jondan lalu membalikan badan menghadap ke arah gadis itu. “E... yang mana,ya?”
“Apa manusia memang pelupa!” Sofia kemudian mendirikan alis.
“Ee, aku benar-benar lupa.” Sahut Jondan yang kemudian tertawa terpaksa sambil menggaruk kepala.
“Ha-ha!” Regit lalu tertawa. “Begini, kami ingin tahu kenapa kalian bangsa manusia berada di duna ini.”
Ke empat kawannya lalu mengangguk setuju terkecuali pemuda angkuh itu.
Jondan lalu menceritakan kepada mereka bagaimana mereka bisa menuju kesini dengan memasuki sebuah terowongan yang menuju ke dunia ini. Bagaimana mereka bertiga hendak kedunia ini untuk menemani Riko mengembalikan selendang milik Wulan. Sampai bagaimana mereka di kejar oleh penjaga istana hingga dapat memasuki hutan tersebut.
“Ooh,” Regit lalu mengangguk tanda mengerti. Ke empat sahabatnya pun mengangguk paham.
“Lalu bagaimana dengan kawanmu itu?” tanya Sofia.
“Entahlah, mungkin dia sudah berhasil masuk ke istana.” Sahut Jondan sedikit menunduk.
“Ah!” seru Zhu. “Kalau begitu kawanmu dalam bahaya, sobat! Istana Moon air tidak mengijinkan bangsa siluman, monster, dan manusia memasuki tempat mereka!”
“Benar yang dikata Zhu.” Sambung Bafali, si gendut.
“Lalu bagaimana kalau Riko ketahuan?” tanya Doni panik.
“Entahlah.” Sahut Zhu. “Akan tetapi banyak bangsa siluman dan monster yang kesana dan mereka semua tewas oleh kekejaman pemerintah Raja Yuansu.”
“Aduh..” Jondan lalu menepuk jidatnya. “Kalau begini gawat.”
__ADS_1
“Aku harus menolong sahabatku!” kata Doni yang lalu membalikan badan berlari meninggalkan tempat tersebut.
“Doni!” teriak Jondan memangil pemuda keriting itu. Namun ia sudah berlari cukup jauh dan tidak peduli dengan teriakannya. Ia lalu menghadap si raja Harimau. “Saudara Regit, terima kasih atas bantuanmu. Aku mohon pamit!” katanya lalu berlari mengejar sahabatnya itu.