The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 29


__ADS_3

Setelah makan minum dan beristirahat sejenak, Riko dan kawan-kawan lalu berjalan. Riko dituntun oleh Jondan si lelaki kekar. Perjalanannya itu bertujuan hendak ke perkemahan bangsa siluman yang berada di hutan pelangi. Sebelum berjalan jauh, Jondan mengajak mereka semua untuk berhenti. Ia ingin membasuh wajah sahabatnya, Riko. Sofia dan Zhu menanti sambil mencuci tangan dan kaki mereka. Kadang mereka pun melirik ke arah Riko yang tengah membasuh wajah dengan dibantu oleh Jondan.


“Nah, ayo kita jalan lagi.” Kata Jondan yang lalu memapah tubuh kawannya.


Sofia kini melihat wajah Riko yang sebenarnya. Pemuda yang tampan, berkulit kuning tidak terlalu putih atau hitam. Hidungnya mancung, kedua matanya menampakan kebaikan dan keramahan. Tanpa terasa ada getaran aneh didadanya. Maka ia lalu memalingkan wajah tidak memandang Riko lagi karena wajahnya kini agak memerah. Entah kenapa.


Mereka lalu melanjutkan perjalanannya. Melewati tengah hutan, sungai-sungai kecil, dan setelah berada ditikungan, Zhu melihat sebuah benda di atas tanah. Pemuda jenaka itu berlari lalu mendekati benda itu. Setelah sampai, ia ambil benda tersebut dan diamatinya. Sebuah sepatu bot cokelat yang agak berlumpur.


“Apa itu, Zhu?” tanya Sofia yang lalu mendekati pemuda tersebut.


Jondan dan Riko juga mengawasinya. Mereka berdua lalu menuju ke arahnya.


“Sepertinya ini sepatu.” Kata Zhu yang lalu mencium benda tersebut. Setelah mencium ia lalu mengernyitkan bibir dan menutupi hidung karena tercium aroma sepatu yang spesial. “Tidak salah lagi, ini sepatu bot!” katanya dengan suara bendeng.


“Mengapa tidak kau makan sekalian!” ketus Jondan dengan wajah sebal karena ketololan pemuda jenaka itu.


“Ah!” Riko tiba-tiba berseru. “Itu milik Doni!”


Semua orang yang berada disitu lalu memandangi Riko.


“Tidak salah lagi!” sambung Riko. “Aku sudah kenal betul sepatu kesukaannya itu.”


“Lalu... dimana adanya Doni?” Jondan kemudian memutar otak. “Saat itu dia pergi ingin mencarimu, Riko. Kami mengejarnya namun kami kehilangan jejak.”

__ADS_1


Riko lalu berkerut kening seraya berpikir. Dan setelah beberapa saat ia lalu menoleh ke arah Sofia. “Nona, ini tempat apa? Apakah ada suatu bangsa atau perkemahan di tempat ini?”


Gadis itu lalu mengangguk. “Memang ada. Tempat ini adalah hutan Zandola. Jika kita berjalan beberapa kilo ke arah barat, kita akan menemukan perkemahan bangsa Monster hitam.”


“Monster hitam?” Riko mendirikan alis dan teringat saat dua makhluk hitam menyerang istana Moon Air.


“Bangsa Monster ada banyak jenisnya.” Sahut Sofia. “Dan salah satunya adalah penghuni hutan Zandola ini. Para monster berkulit hitam.”


“Doni berada disana!” kata Riko.


“Kenapa kau begitu yakin?” menanya Sofia.


“Doni tidak akan melepas sepatunya itu. Karena ia anggap sebagai kedua kakinya sendiri!”


“Ayo kita ke perkemahan mereka!” usul Riko.


Sofia dan Zhu terdiam. Seketika mereka menunduk karena mereka berdua tahu akan sepak terjang tempat tersebut. Yang mana cukup membuat gentar bangsa mereka.


“Kenapa?” menanya Riko.


“Itu sangat berbahaya.” Sahut Sofia perlahan. “Mereka itu adalah musuh kami. Seandainya kami ketahuan, mereka tidak akan tinggal diam begitu saja. Dan saat kami bertarung, sungguhpun kami tidak akan bisa menang darinya.”


“Sekuat itukah?” Riko menyipitkan alisnya. “Kenapa para Dewi di Moon air berhasil mengalahkan salah satu dari mereka dengan begitu mudah?”

__ADS_1


Sofia lalu mendirikan alis. “Kau melihatnya?” sahutnya.


“Aku melihatnya langsung.”


“Hmm!” Sofia mendengus, lalu menarik nafas. “Tidak ingin aku akui, tapi memang para dewi dan semua yang berada di istana Moon Air adalah yang tertinggi dari semua di dunia ini. Kalau begitu wajarlah seandainya mereka dapat mengalahkan salah seorang Monster Hitam diantara mereka.”


Riko lalu terdiam. Setelah muncul suatu pikiran, ia lalu bertanya dengan wajah serius. “Kalian... apa kalian juga memusuhi Moon Air?” tanyanya.


“Tentu saja!” sahut Sofia cepat.


“Eh, kenapa?”


“Panjang ceritanya. Dan aku tidak ingin membahasnya.”


Riko sebenarnya ingin tahu akan hal tersebut. Namun ia kurungkan niatnya dan sekarang ia lalu membalikan badan, berjalan sendirian ke arah barat, menuju ke perkemahan monster hitam dengan perlahan sekali, karena kakinya masih terasa sakit.


“Hey!” Jondan hendak menghentikan sahabatnya yang sudah pergi cukup jauh. Ia menghela nafas dan mengejarnya. Setelah berada didekatnya Jondan lalu memapah pemuda itu agar mudah dalam berjalan.


“Sofia?” panggil Zhu untuk meminta keputusan sahabatnya, apakah ikut dengan kedua manusia itu ataukah tidak.


Sofia memejamkan kedua matanya, lalu menghela nafas. Setelah itu ia lalu berlari menyusul kedua manusia itu.


“Eh, tunggu!” Zhu lalu menyusul dan berlari mengikuti mereka

__ADS_1


__ADS_2