Hari sudah malam. Dengan perjalanan yang menghabiskan 8 kali istirahat itu akhirnya mereka telah berada disebuah hutan yang berbeda dari yang lain. Rerumputannya tinggi-tinggi dan besar. Pepohonannya besar hitam menakutkan. Kabut yang cukup tebal menambah petangnya malam itu. Apalagi dilangit hanya ada bulan sabit dan beberapa bintang saja.
“Apa kita sudah sampai?” bisik Jondan kepada kedua siluman itu. Ia tidak ingin manakala suaranya yang kencang dapat mengundang penghuni hutan itu.
Sofia tidak menyahut. Ia hanya menengok kesana kesini sambil hidungnya kembang kempis. Kedua matanya mencorong seperti rubah. Begitu pula dengan Zhu. Pemuda jenaka itu pun mengendusi tanah seperti anjing saja.
Riko terheran melihat kelakuan dua orang itu. Maka ia sedikit menggaruk rambut pelipisnya. Akan tetapi bagi Jondan lain halnya. Ia sudah tahu bahwa kedua orang itu adalah siluman. Yang wanita siluman rubah dan yang lelaki jenaka siluman anjing. Ia tahu manakala kedua orang itu sedang mencari sesuatu atau saja mendapati sesuatu. Maka ia diam saja sambil mengawasi mereka berdua.
“Sniff,” setelah Sofia mengendus ia lalu berkata. “Tidak ada monster di sekitar sini. Setidaknya aman jika kita melangkah beberapa meter lagi.” Katanya sambil menoleh ke segala arah.
“Sniff-sniff..” Zhu lalu berdiri. “Pemilik sepatu jelek itu juga pernah melewati tanah ini.” Katanya sambil memegangi dagu.
“Bagus!” seru Jondan. “Tidak salah lagi pasti Doni berada diperkemahan mereka itu!”
Riko tidak mau menahan rasa penasarannya lagi. Dari tadi ia penasaran siapakah adanya kedua orang itu sehingga seakan-akan dapat merasakan sesuatu seperti binatang saja. Maka ia lalu bertanya. “Kalian ini, sebenarnya siapa?”
__ADS_1
Zhu dan Sofia lalu mengawasi wajah pemuda itu.
“Kenapa, kalian seakan-akan bisa melacak sesuatu. Dan itu sungguh aneh sekali.”
“Khaaahh...” Zhu lalu menghela nafas. “Ternyata kau belum tahu juga, sobat?” katanya yang lalu seketika tubuhnya diselimuti oleh asap hitam. “Lihatlah!”
Riko membelalakan kedua matanya. Apa yang ia lihat? Setelah asap itu hilang, terlihatlah olehnya betapa seekor anjing hitam dengan ukuran dua kali lipat dari anjing biasa mengeluarkan taringnya yang tajam. Kedua matanya mencorong berwarna merah. keningnya berkerut dan tajam sekali.
“S-siluman?” Riko memandanginya dengan kedua mata terbelalak lebar. Ia tidak menduga sama sekali bahwa pemuda jenaka itu adalah seorang siluman yang seram wujudnya.
“Ha-ha-ha!” Jondan tertawa. “Perubahanmu sungguh tak pas dengan dirimu, sobat!”
Anjing tersebut lalu menoleh ke arah si kekar sambil mendengkur. Ia menggeram di dalam mulutnya.
“Siapa yang sangka pemuda konyol sepertimu dapat menjelma menjadi makhluk yang sangat ganas itu. Aku sendiripun tak akan percaya manakala tidak melihatnya secara langsung,” kata Jondan lalu tertawa.
“Wusshh...” asap hitam tiba-tiba menyelimuti tubuh anjing tersebut. Dan setelah reda tampaklah wajah pemuda jenaka tengah bertolak pinggang sambil tersenyum dengan bangganya.
__ADS_1
Riko lalu berdiri cepat-cepat. Ia kemudian berlari ke arah Zhu dan Sofia. Ia lalu menuding dengan jari telunjuknya. “K-kalian ini, siluman semua?”
“Tentu!” sahut Zhu semangat.
Sofia memandangi pemuda itu. Ia lalu menoleh kearah kedua kaki Riko.
Riko lalu mengedipkan matanya. Kenapa gadis itu memandangi kakinya? Maka ia lalu lihat kedua kakinya sendiri. Ia coba gerakan. Di angkat-angkat dan diputar-putar. “Aku... merasa seperti semula lagi?” katanya perlahan. Ia lalu membalikan badan, berlari kebelakang, dan kembali lagi menghadap ke arah gadis itu. “Aku sudah sembuh! aku sudah sembuh!” serunya girang. Sambil meringis, ia lalu memegangi kedua tangan Sofia. “Terima kasih, Nona!”
Sofia sedikit membuka bibirnya. Wajahnya yang putih itu menjadi kemerahan karena dipandang oleh pemuda itu. Juga lengannya dipegang olehnya. Maka untuk menyembunyikan rasa malu, ia lalu melepas dari pegangan tangan Riko kemudian membalikan badan.
“Eh? Maaf, maaf,” kata Riko yang kini sadar bahwa tanpa sengaja tadi telah memegang kedua tangan Sofia karena bahagia.
Sofia terlihat sedikit salah tingkah. Maka ia lalu menuju ke arah Zhu. “Kita istirahat disini. Selain aman, juga berbahaya jika kita menuju ke perkemahan dalam keadaan gelap. Kita tunggu sampai besok pagi saja.” Katanya lalu menoleh kearah Jondan.
“Betul yang dikata kau, Nona!” Jondan membenarkan. “Malam ini langit tidak terlalu cerah, juga hutan ini sangatlah gelap. Jika kita melanjutkan ke sarang mereka, maka akan sangat kesulitan sekali.” Katanya lalu menuju kearah Riko. “Kita tunggu sampai pagi saja. Lagi pula, tentunya kita merasa lelah karena telah melakukan perjalan berkilo-kilo. Sebaiknya kita bermalam ditempat ini.”
Riko lalu mengangguk. Karena benar apa yang dikata pemuda kekar itu. Tunggu saja besok. Lagi pula tidak akan terlamabat untuk menyelamatkan sahabatnya, pikirnya.
__ADS_1