Zhu saat itu sudah sampai di depan mereka. Ia kemudian menuju kearah Jondan dan bertanya. “Eh, yang tadi kau maksudkan, mereka jadian itu apa?” tanyanya sambil menunjuk Sofia dan Riko dengan dagunya.
Riko dan Sofia membelalakan kedua matanya. Seketika itu juga ia lalu memelototi si Jondan. Jondan lalu pandangi mereka berdua. Ia kemudian tertawa terpaksa. “He-he, maksudku, mereka akan aku beri jajan setelah kita selesai membawa Doni pulang. Ya, makanan ringan. Dan kau juga akan ku beri.” Sahutnya lalu tertawa terpaksa kembali, juga menggaruki pelipis kanannya.
Zhu hanya menatap Jondan seperti orang linglung. Ia bingung akan jawaban si lelaki kekar itu.
“Sudahlah!” potong Sofia yang lalu melangkah mendepani mereka. “Ayo kita cepat bergegas. Kita mencari bersama. Karena jika ketahuan, kita dapat saling membantu sehingga tidak terlalu kesulitan. Zhu di depan sendiri, lalu dibelakangku kau!” katanya lalu melirik Riko. Pemuda itu lalu mengangguk menuruti rencana gadis itu. “Dibelakangnya lalu Jondan, dan yang paling belakang aku sendiri. Zhu memiliki mata yang bagus, juga penciumannya tajam shingga aku taruh di depan sendiri. Dan aku pun memiliki hal tersebut yang tak kalah dari Zhu, maka bukannya aku sombong aku harus berada belakang sendiri. Karena aku bisa melesatkan senjata rahasia yang dapat melumpuhkan mereka. Oleh karena aku berada dibelakang, maka kemungkinan besar tidak akan ketahuan. Dan karena Kalian berdua manusia, maka kalian ditengah saja.”
Seandainya yang bicara bukan Sofia, tentunya Jondan sudah panas perutnya. Karena bagi dirinya, perkataan itu bermaksud mengejek manusia yang kepandaiannya dibawah mereka. Walaupun kenyataannya memang seperti itu.
“Jika kita ketahuan,” sambung Sofia. “Lakukan penyerangan sekuatnya. Dan jika ada kesempatan untuk lari, maka larilah!”
__ADS_1
“Lari?” Riko maju satu langkah dan mendirikan alis.
Sofia lalu menoleh. “Jika nyawamu hilang maka kapan lagi kau akan dapat menyelamatkan sahabatmu?” katanya. “Lebih baik mundur sejenak lalu berangkat kembali dari pada berangkat lalu gagal dan tidak bisa kembali lagi.”
Riko kemudian menatap tanah. Memang benar apa yang dikata Sofia. Kini ia menyerahkan pencarian Doni ini kepada gadis yang cerdik itu.
Mereka lalu berbaris sesuai dengan apa yang diperintah Sofia. Zhu berada didepan sendiri kemudian dibelakangnya ada Riko, Jondan, lalu dibelakang sendiri adalah Sofia. Mereka lalu menutup penutup helm masing-masing, sehingga kini mereka mirip dengan para penjaga pintu gerbang tadi.
“Buat apa kau diamkan manusia itu sampai hari ini?” terdengar suara lelaki dewasa yang berasal dari depan Doni. Lelaki ini bertubuh besar dan gempal. Kepalanya bertanduk dua di sisinya, hidungnya besar dan ada anting bundarnya. Dia berkepala banteng dan bertubuh manusia. Lelaki itu tengah duduk di sebuah kursi mirip tempat duduk raja. Namun ia tidak berdayang dan hanya ada seorang berkulit hitam yang gundul di sisi depannya.
“Aku ingin mengambil jantungnya, tuan.” Jawab lelaki berkulit hitam dan gundul serta berwajah buruk itu.
__ADS_1
“Hmm?” tuannya itu mendirikan alisnya. Kepalanya yang mirip sekali dengan banteng hitam itu terangkat. “Kenapa tidak dari kemarin kau mengambilnya, Pawmina?”
“Aku mempunyai rencana tersendiri, tuan.” Kata Pawmina itu. “Melihat ada juga manusia di dunia ini, aku sengaja untuk memancingnya kemari, dengan itu, aku juga akan dapat mengambil jantung mereka. Dan jika berhasil, maka ramuan itu akan berhasil dengan baik sekali. Peminumnya akan kebal selalu dan usianya akan abadi.”
Si kepala banteng itu berkerut kening seakan tertarik. “Oohh... jadi kau ingin membuat ramuan itu? Ha-ha-ha, bagus bagus. Kau akan kasih untuk siapa kah?”
Pawmina lalu tersenyum. “Tentu saja untuk kau, tuan ku. Agar bisa hidup abadi, dan menguasai istana Yuansu itu.”
“Ha-ha-ha!” si kepala banteng tertawa bergelak. “Bagus! Aku ingin cepat-cepat memenggal leher si Yuansu itu dan menikahi Dewi-dewinya, ha-ha-ha!”
Pawmina lalu tersenyum. Dalam hatinya, ia memaki tuannya itu. Enak saja, pikirnya. Jika ramuan itu berhasil, tidak sudi ia menyerahkan kepada tuannya itu. Dia juga mempunyai ambisi yang sama, yaitu ingin menguasai Istana Yuansu, bahkan seluruh dunia. Dengan ramuan yang salah satu bahannya adalah tiga jantung manusia, dia akan menjadi kebal dan abadi. Tidak mempan lagi dengan serangan lawan atau akan mati dengan serangan usia. Ia tersenyum megejek, tiba saatnya ia akan melawan tuannya itu. Yang pada dasarnya ia sudah sangat jemu mengabdi pada si kepala banteng itu.
__ADS_1