The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 30


__ADS_3

Tidak dekat ternyata menuju ke perkemahan bangsa monster hitam itu. Hari sudah panas memasuki siang hari, akan tetapi mereka belum sampai juga ke tempat tujuan. Kedua manusia itu kepanasan sekali, keringat sudah membasahi pakaian mereka. Akan tetapi bagi Sofia dan Zhu, mereka terlihat biasa-biasa saja. Seperti sedang tidak melakukan perjalanan begitu jauh.


“Ahhh... mana sih tempatnya!” Jondan mengomel sendirian sambil mengelap peluh di wajahnya.


Riko mengerutkan alis sambil menunduk. Ia kemudian menengok kebelakang untuk meminta jawaban Sofia. Gadis itu lalu mengedipkan kedua matanya. Ia merasa kikuk jika dipandang oleh kedua mata pemuda itu.


“Benar, nona. Kenapa belum sampai?” tanya Riko dengan wajah kelelahan.


Sofia lalu memalingkan wajah. Tidak mau dipandang oleh pemuda itu karena merasa dirinya malu. “Bu-bukankah aku sudah mengatakannya. Tempat tersebut ada berkilo-kilo jaraknya. Jika kita berjalan seperti ini, paling sedikit nanti malam kita akan sampai.”


“Hah?!” Jondan membelalakan kedua matanya. Seketika itu juga ia menoleh ke arah Sofia. “Yang benar saja!”


“Aku tidak berbohong!” sahut gadis itu mendirikan alis dan cemberut.


Riko lalu menunduk. Ia kembali menghadap kedepan dan melanjutkan perjalanannya dengan terus dipapah oleh Jondan. Dalam hatinya ia merasa berterima kasih sekali. Pemuda kekar ini ternyata tidak seburuk yang ia kira. Perlakuannya padanya ini, Riko sungguh merasa bahagia sekali.


  Setelah berjalan cukup lama, Jondan lalu meminta agar beristirahat dulu ditengah hutan. Sahabatnya setuju dan mereka lalu beristirahat dibawah pohon besar di tengah hutan yang cukup gelap.


“Ahhh...” Jondan mengeluh ketika melihat telapak kaki kanan Riko yang dibalut itu berdarah. Ia lalu melepas balutan itu dan dibuangnya ke semak-semak.

__ADS_1


“Hey! Kau pakai ini,” Zhu berseru. Ia lalu menyobek ujung lengan bajunya dan dilemparkannya ke arah Jondan. Pemuda kekar itu menerimanya dan ia lalu membalut kaki Riko dengan kain putih itu.


Riko lalu menoleh kearah Zhu. Ia melebarkan senyumannya untuk mengucapkan terima kasih. Pemuda jenaka itu pun lalu tersenyum lebar dan melingkarkan jempol dengan jari telunjuknya.


“Aduhh, lepas kembali balutannya..!” tegur Sofia mendirikan alis. Jondan lalu berhenti membalut dan ia lalu memandangi gadis itu yang sedang menuju kearahnya. Juga Riko ikut memandang dengan wajah keheranan karena kenapa Sofia menghentikan orang yang hendak membalut lukanya.


“Awas kau!” ketus Sofia lalu mendorong Jondan setelah sampai di hadapan Riko. Lantas yang didorong lalu melongo keheranan. Tak menduga sama sekali dirinya akan didorong dengan sewotnya.


Riko lalu mengawasi gadis yang berada dihadapannya sambil menunggu apa yang akan dilakukan olehnya. Gadis itu dengan wajah cemberut lalu melepas balutan baru Riko yang belum sepenuhnya terbalut. Lalu melemparkan balutan yang sedikit kena darah itu ke semak-semak. Ia kemudian menggantinya dengan menyobek ujung lengan jaket putihnya dengan pisau yang dikeluarkan dari dalam bajunya.


“Eh?” Riko hendak menghentikan gadis itu namun tak keburu. Setelah gadis itu meliriknya, ia lalu mengelurakan sebuah botol bambu yang kecil bentuknya. Di ujungnya ditutup oleh kain merah yang diikat dengan karet. Ia lalu buka tutup itu kemudian menaburkannya pada kain bekas ujung lengan jaketnya. Setelah ditaburkan, gadis itu lalu menyakukan kembali botol bambu yang berisi bubuk obat pengering luka itu kedalam bajunya. Ia tempelkan kain yang ada obat bubuknya kebagian luka telapak kaki pemuda itu, lalu di lingkarkannya ke punggung kaki baru kemudian dibalut.


Karena obat bubuk itu reaksinya tidak instan, maka Riko sedikit bingung mengenai apa yang tadi gadis itu taburkan pada kain itu. Namun setelah bubuk obat bereaksi, Riko lalu merasa perih yang amat perih sampai terasa ke sum-sumnya. “Aaaiihh... Ooaahhh...” keluhnya.


“Aaadiihh...” Riko nyengir lalu memegangi betisnya walaupun bukan bagian itu yang terkena luka. “Apa ini, nona? Kenapa perih sekali?” tanyanya dan ia lalu mengeluh kembali.


“Bubuk bunga pelangi.” Sahut Sofia. “Khasiatnya, beberapa jam lagi lukamu akan kering dengan sendirinya. Dan mengurangi rasa sakit dan juga menghilangkan infeksi.”


“Benarkah?” Riko kurang percaya sehingga menanya sambil nyengir.

__ADS_1


Sofia lalu mendirikan alis. Ia cemberut lalu secepatnya berdiri dan pergi meringankan badan entah kemana. Tubuhnya lenyap saat di atas pepohonan.


“Eh, dia mau kemana?” Riko lalu mengawasi pohon yang tadi dihinggapi gadis itu.


Jondan dan Zhu juga lalu mengikuti apa yang tengah Riko pandang. Oleh karena yang berada disitu Jondan lah yang senior dalam masalah wanita, maka ia lalu tersenyum sambil menyipitkan kedua matanya. “Hmmm... kawan, kau telah menyakitinya!” tegurnya kepada Riko.


“Ha?” Riko lalu mengangkat sebelah alisnya.


“Wanita itu tidak mau bicara dua kali. Apa lagi disuruh menjelaskan. Mereka ingin lelakinya yang lebih peka terhadapnya.” Sahut Jondan.


Riko lalu melirik keatas untuk memikirkan kata-kata Jondan.


“Wanita itu ingin lelakinya yang pengertian.”


“Pengertian?”


“Hm,” si kekar mengangguk. Ia lalu angkat tubuh Riko untuk dipapahnya.


“Tapi, kemanakah gadis itu pergi?” tanya Riko.

__ADS_1


Jondan lalu merangkulkan tangan kanan pemuda itu pada pundaknya, dan mulai memapahnya. “Tenang saja, dia hanya bersembunyi sejenak untuk menghilangkan rasa jengahnya. Sebentar lagi juga akan muncul.”


Riko sesaat mengawasi wajah pemapahnya itu. Ia lalu mengangguk-angguk kecil baru kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanannya ke arah barat. Dan benar saja yang dikata Jondan. Ketika hari sudah hampir gelap karena malam, terdengar langkah seorang gadis dibelakang mereka. Jondan dan Riko menoleh, ternyata Sofia sudah kembali dan ia sedang bercakap-cakap dengan Zhu. Terlihat telah melupakan kejadian siang tadi sama sekali.


__ADS_2