Sementara di kamar para dewi, terdengar mereka berbicara kepada seorang temannya. Dimana mereka membicarakan bahwa manusia itu ternyata sudah pergi dari tempat tersebut, dan ketua mereka kini tengah menghadap Ayah handa mereka, karena ketahuan sudah membawa manusia ke tempat itu.
Mia saat itu lalu menuju ke kamar sahabatnya, Wulan. Tanpa mengetuk pintu, ia kemudian menerobos lalu menghampiri sahabatnya tersebut. “Wulan, ternyata tadi benar-benar ada manusia kemari.” Katanya. Ia lalu menghadap Wulan. Mia lalu terheran karena wajah sahabatnya itu murung.
“Aku tahu..” kata Wulan lesu. “Dialah manusia yang aku ceritakan, Mia.”
“Ah?” Mia lalu berseru terkejut. “Ternyata dia? Eh, bagaimana, apakah selendangmu sudah dikembalikan?”
Wulan lalu menggeleng kepala. “Ketika berjumpa dengannya, aku lalu lupa sama sekali.”
“Aihh...” dewi berselendang hitam itu lalu mengeluh. “Kalian ini...”
“Bagaimana dengannya...” keluh Wulan. “Dia di kejar-kejar banyak prajurit, itu semua kesalahanku.”
Mia lalu menggeleng kepala. “Tidak usah cemas, Wulan. Sekarang Zhani tengah menghadap Ayah handa. Ayah handa kira dialah yang membawa manusia itu kemari.” Katanya tersenyum senang.
Namun Wulan malah murung. Dia merasa bersalah.
“Eh? Kenapa kau tidak senang, Wulan?” tanya Mia keheranan. “Biarlah dia mendapat hukaman dari Ayah handa. Dia memang pantas mendapatkannya!”
__ADS_1
“Tidak!” bantah Wulan. “Ini semua kesalahanku, aku harus berterus terang kepada Ayah handa.” Katanya yang lalu cepat berlari meninggalkan ruangan itu.
“Wulan!” panggil Mia. “Aiaahh...” keluhnya dan ia lalu mengejar sahabatnya itu.
Di sebuah ruangan yang besar dan megah, sang Raja yang berusia setengah abad itu duduk dengan kedua mata memerah di sebuah kursi merah yang megah. Di kedua sisinya ada empat wanita berpakaian hijau yang tengah mengipasi dirinya. Di depan kanannya, berdiri seorang lelaki berumur 30 tahunan yang mana adalah ketua para Dewa. Ketua para Dewa ini adalah seorang lelaki yang gagah rupanya. Tubuhnya tegap, rambutnya gondorong berwarna emas, sama dengan pakaiannya. Ia berdiri sambil memeluk pedang panjangnya. Wajahnya memandang kearah Zhani.
Sementara zhani sendiri terus berlutut di hadapan Ayah Handanya.
“Yang kau perbuat itu sungguh membuatku sangat gusar!” geram sang Raja. “Peraturan yang kami buat, sekarang dilanggar oleh anak kesayanganku sendiri?!”
Zhani diam saja dan masih menunduk tenang. Oleh karena sifatnya yang memang selalu tenang dan pandai menyembunyikan perasaan sebenarnya. Ketua para Dewa itu pun kini menundukan kepala.
“Siapa dia? Apa hubangannya denganmu!” bentak sang Raja dengan nada keras di akhir kalimat.
“Kau selalu taat dengan peraturan ini, akan tetapi mengapa sekarang kau melanggarnya? Kau ingin mengkhianati bangsa kami dan mengekang peraturan para leluhur Moon Air?!” kata Raja Yuansu dengan kedua mata yang mulai memerah. “Generasi ini sungguh memalukan! Ini semua gara-gara kau! Wajah apa yang akan aku pasang untuk menghadap para leluhur nanti! Peraturan yang sudah di taati beratus tahun ini sekarang di kacaukan oleh kau, oleh anak kesayanganku sendiri..!” sang Raja bergetar wajahnya saat mengucapkan kata yang terakhir. Tergetar karena kemarahannya.
Zhani masih menunduk dan tidak bersuara. Ketua para Dewa itu hanya semakin menunduk karena menyaksikan kegusaran Ayah handanya.
Sang raja lalu menarik nafas kegusaran. Ia kemudian bersandar pada kursinya yang lebar. Ia lalu berkata kepada ketua para dewa itu tanpa memandangnya. “Bawa dia ke tempat yang seharusnya!” perintahnya.
“Baik,” sahut ketua para dewa itu yang berbaju warna emas. Ia kemudian menuju ke tempat dimana Zhani masih menunduk, kemudian membangunkan dewi itu.
__ADS_1
“Ayah handa!” terengar seruan dari pintu istana. Yang berada di tempat itu lalu menoleh ke arah suara tersebut. Wulan lalu berjalan perlahan menuju ke Ayah handanya. Di ikuti oleh Mia yang juga berjalan sambil menundukan wajah dibelakang sahabatnya.
Sang Raja yang tengah bersandar sambil mengepal tangannya itu lalu mengawasi Wulan dan Mia. Ia tidak tau kenapa dewi tak berselendang dan dewi selendang hitam ini kemari.
Setelah berada di samping Zhani dan lelaki berbaju emas, Wulan lalu memandang sesaat ke arah Zhani yang juga tengah memandang dengan wajah penuh pertanyaan ke arahnya, baru kemudian menghadap ke arah sang Ayah handanya.
Wulan lalu berlutut. “Ayah handa, masalah manusia itu kemari, itu semua karena aku.”
Semua yang berada di tempat itu lalu memandang ke arahnya. Zhani lalu terkejut mendengar pengakuan gadis itu. Sementara sang raja lalu mendirikan alisnya yang seperti elang. Ia tidak bersandar pada telapak tangannya lagi dan ia lalu duduk tegak sambil mengawasi Wulan dengan penuh perhatian.
“Ayah handa,” kata Wulan perlahan. “Aku lah yang membawa manusia itu kemari. Saat itu, tanpa sengaja aku memasuki dunia mereka. Dan tanpa sengaja pula aku bertemu dengannya. Pertemuan itu sangat singkat, maka saat kami berpisah, aku sangat berat sekali untuk berpisah dengannya. Maka aku tinggalkan selendangku untuknya, agar suatu saat dia kemari atau saja dapat mengenangku dengan selendang itu. Dan sekarang, ternyata ia benar-benar kemari, dan bertemu denganku. Aku sungguh bahagia sekali, dapat bertemu dengannya lagi.” Jelasnya yang mana kalimat terakhir itu di ucapkan dengan suara parau dan nampak berlinang air matanya.
Zhani memandang Wulan dengan penuh perhatian. Mulutnya sedikit terbuka. Dalam hatinya ia sama sekali tidak menduga Wulan akan berani berterus terang seperti ini. Bukankah ia sama sekali seperti hendak ingin bunuh diri. Dengan pengakuan seperti ini tentunya sang Raja tidak akan dapat mengampuninya lagi.
“Kau jangan menghukumnya, Ayah handa.” Kata Wulan yang lalu memandang wajah sang Raja yang terus mengawasinya dengan tatapan biasa namun dalam hatinya sangat gusar sekali. “Ketua tidak bersalah, dia hanya ingin membantunya untuk keluar dari tempat ini. Aku yang memintanya.”
Zhani lalu tercengang mendengar perkataan Wulan. Dirinya telah dibela oleh gadis itu. Dewi yang tidak menyukainya, sama halnya dengan para dewi yang lainnya. Kini malah Wulan berbohong bahwa dia lah yang meminta dirinya untuk membawa Riko. Ia tak menduga sama sekali dan di dalam hatinya lalu terasa iba kepada gadis itu.
“Ha-ha-ha...!” sang Raja lalu tertawa bergelak. “Bagus, bagus! Rupanya kau mencintai seorang manusia, ya? Hahaha... Tak tahu diri!” ia lalu membentak. “Tadi aku hendak menghukum Zhani selama dua bulan dan sekarang aku hukum kau seumur hidup tinggal di pulau itu sampai air laut menenggelamkan dirimu!”
Zhani lalu menelan ludah dan nafasnya terengah-engah. Sang Raja sudah sangat merah wajahnya dan sekarang kedua matanya yang memerah itu ada sedikit air mata yang keluar.
__ADS_1
“Hugo, bawa dia!” perintah sang raja yang lalu menjatuhkan tubuhnya bersandar pada kursinya. Ia terus menghela nafas untuk memudarkan kegusarannya.
Setelah mengedipkan kedua matanya, ketua para Dewa yang bernama Hugo itu mengangguk kemudian mendekati Wulan. Setelah berada di dekatnya Hugo lalu menaruh telapak tangannya pada pundak gadis itu. Dengan munculnya ilusi api yang membakar kaki mereka, perlahan mereka lalu hilang terbawa oleh api yang menjalar-jalar.