The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 15


__ADS_3

Zhani lalu menatap tajam pemuda itu. Nafasnya memburu karena kegusarannya. Ia kini telah sadar bahwa wajahnya begitu dekat dengan seorang pemuda. Ia lalu mengedipkan kedua matanya yang memerah lalu Cengkramannya perlahan mengendur. Nafasnya yang tadi terengah-engah karena mendongkol kini sedikit-sedikit dapat normal kembali. Ia kemudian membalikan tubuhnya dan mengerutkan alisnya. Pisau yang berada di tangannya yang mana tadi ia keluarkan dengan ilmu memanggil benda, kini hilang terbawa oleh debu putih.


“Sudahlah! Kenapa kau berada disini?!” tanya Zhani ketus.


“Aku dikejar oleh lelaki berbaju baja itu.” Sahut Riko cepat karena baru saja nafasnya tidak teratur karena tegangnya menyaksikan kegusaran gadis itu. “Aku lalu berlari dan tidak tahunya, malah berada di kamarmu ini, Nona. Namaku Riko Yayu, dan kalau Nona membolehkan, ijinkan aku dapat memperoleh namamu?”


Zhani lalu memeluk lengannya sendiri. Sempat terdiam sambil menghela nafas, baru kemudian menyahut. “Ang Zhani!” sahutnya sedikit ketus.


“Ang Zhani?” ulang Riko tersenyum sambil berpikir. “Wulan? Eh, Nama kalian ini mengingatkan kepada cerita dongeng tanah kelahiranku.”


Zhani lalu mengangkat wajah. Bibirnya sedikit terbuka. “Jadi kau kemari untuk Wulan?”


“Ya,” jawab Riko semangat. “Aku memang sedang mencarinya.”


Zhani memalingkan wajahnya. Ia lalu menghela nafas.


“Eh, kenapa?” tanya Riko heran. Pemuda ini lalu berjalan sampai berada di depan gadis itu. Sekarang mereka berhadapan dan terlihat jelaslah oleh Riko, betapa gadis bergaun putih ini memiliki wajah yang sangat cantik. Hidungnya kecil mancung, kedua matanya tajam penuh ketenangan. Kulitnya putih halus, dan tubuhnya ramping serta membentuk. Rambutnya hitam panjang disanggul dan sisanya terurai sampai melewati punggung. Di atas rambut terdapat tiara kecil berwarna perak. Gadis berumur 20 tahun ini membuat Riko terus memandanginya tanpa ia sadari.

__ADS_1


“Kau lihat apa?!” Zhani mendirikan alis dan tetap memandang tajam Riko.


Riko tersadar dari lamunannya. Ia malu sendiri bahwa ternyata tadi telah memandang gadis itu dengan tatapan yang tidak semestinya. Ia lalu tertawa gugup. “A... ha-ha, Tidak-tidak. Eh, kenapa kau tadi menghela nafas? Dimana Wulan?”


Zhani yang mempunyai mata tajam itu kali ini tidak dapat bertatap lama dengan mata Riko, maka ia lalu memalingkan wajah kesamping. “Kamarnya dibawah ruang ini!”


“Ohh...” Riko menundukan matanya. Ia lalu menghela nafas kemudian berjalan menuju kearah Ranjang.


“Eeehh...? kau mau apa?!” Zhani membelalakan kedua matanya.


Riko lalu duduk di ranjang tersebut. Ia kemudian memegangi punggung dan perutnya sambil nyengar-nyengir. Zhani mendirikan alis tanpa menuju kearahnya.


“Hmph!” Zhani mendengus lalu membalikan tubuhnya.


Melihat sikap gadis itu Riko lalu tersenyum kecut. Kali ini ia tahu bahwa gadis itu tidak suka bercanda dan sikapnya begitu dingin. “Sebenarnya kau ini sangat bijaksana, Nona.” Kata Riko lalu berdiri. “Mereka saja yang tidak ingin tahu kenapa kau bersikap begitu.”


Zhani diam saja. Hanya kadang memandang kebawah tanpa menggerakan kepalanya.

__ADS_1


“Nona Ang Zhani, bolehkah aku berteman denganmu?” Kata pemuda itu tersenyum. 


Zhani diam saja. Dan Riko kemudian melebarkan senyumannya. Ia lalu tertawa girang karena seorang gadis jika diam saja maka jawabannya adalah ‘iya’. Namun Jika tidak maka tentu akan membantah secepatnya.


“Kenapa kau tertawa?” Zhani menanya dengan ekspresi biasa tanpa menoleh.


“Aku... merasa senang saja, ha-ha-ha!” Riko tertawa. “Dapat berteman denganmu, Nona.”


Zhani kemudian tidak menyahut dan berjalan menuju ke arah pintu.


“Eh, kau mau kemana?” tanya Riko yang ikut berjalan dibelakangnya. Dan ia lalu mencium aroma yang harum dari gadis itu.


“Apa kau tidak ingin menemui Wulan?” sahut sang gadis tanpa berhenti berjalan.


“Y-ya tentu!” sahut Riko.


Setelah sampai di depan pintu kamar tersebut, Zhani lalu membalikan badan menghadap pemuda itu. “Jangan kau ceritakan apa yang telah kau dengar dan lihat tadi, mengerti?”

__ADS_1


“Tentu!” Riko meringis lebar. “Karena kau temanku.”


Zhani tersenyum sedikit lalu membalikan tubuhnya. Ia buka pintu kemudian menengok ke kanan dan kekiri. Setelah pasti bahwa tidak ada orang di tempat itu, Zhani lalu berjalan terlebih dahulu setelah memberi isyarat dengan jarinya.


__ADS_2