Matahari siang berubah menjadi kekuningan. Hari mulai gelap dan kelelawar mulai berterbangan.
Tiga pemuda terus berjalan dan kini tengah mendaki pegunungan. Pakaian mereka basah oleh keringat.
“Woy! Istirahat dulu, lah!” si lelaki kekar yang berada di belakang sendiri berseru. Ia lalu berhenti kemudian mengelap peluh di dahinya.
Riko dan Doni tidak menyahut. Mereka tetap mendaki pegunungan itu tanpa kenal lelah.
“Dasar bocah perjaka!” ketus si lelaki kekar. Ia lalu berlari dengan amat payah menyusul mereka berdua.
Ketika mereka selesai mendaki, Riko dan Doni kemudian jatuh terduduk kelelahan, sementara si lelaki kekar sudah jatuh tiduran sangat kelelahan.
“Sudah hampir dekat!” kata Riko dengan nafas terengah-engah.
“Emm-hmm!” Doni mengangguk-angguk sambil memandang istana besar yang sudah berada di dekat mereka. Kira-kira 200 meter lagi. Disana ada pintu gerbang yang panjang dan tinggi. Di depannya ada dua prajurit berseragam perang lengkap dengan senjata berikut tamengnya.
“Kita jalan melewati semak-semak,” Kata si kekar yang masih memburu nafasnya. “Kalau lewat sini nanti kita ketahuan.”
“Benar katamu.” Riko setuju. “Kita para manusia sebenarnya memang tidak boleh kedunia ini.”
“Ya!” si kekar mengangguk. “Oh iya! Aku belum memperkenalkan diri. Kalian bisa memanggilku Jondan,”
“Jondan?!” Riko menoleh lalu mengangguk sambil nyengir kelelahan.
__ADS_1
“Apa hubungannya kau dengan Bondan Prakoso?” Doni menoleh sambil nyengir kelelahan pula.
“Bukan waktunya bercanda!” si lelaki kekar yang bernama Jondan itu lalu berdiri. “Kita berangkat sekarang sebelum malam!”
Riko dan Doni lalu saling pandang. Kemudian ia berdiri lalu mengangguk. Mereka kemudian berjalan dengan langkah lebar melewati semak-semak. Setelah hampir sampai di gerbang istana, mereka lalu berjalan mengendap-endap kemudian bersembunyi di balik semak-semak yang berada di kanan gerbang.
“Siapa disana! Kami sudah melihatmu!” seru salah seorang penjaga gerbang. “Keluarlah!”
“Matilah kita..” Doni mengeluh. “Kita ketahuan..” bisiknya kepada Riko.
“Hmm..” Jondan menggeleng. “Kalian lihatlah!” bisiknya sambil menunjuk penjaga gerbang itu yang ternyata tidak memandang tempat mereka, namun memandang kearah semak-semak yang berada di sebelah kiri mereka.
Semak-semak tersebut bergoyang cepat, lalu keluarlah dua makhluk bertubuh hitam menerjang kedua penjaga itu. Tanpa dapat ditahan, dua penjaga gerbang langsung mati tergorek lehernya, tanpa menimbulkan jeritan kesakitan. Makhluk hitam tersebut lalu meloncati pintu gerbang lalu berlari memasuki istana.
“Sadis benar dia!” geram Jondan. Ia memeriksa leher kedua penjaga gerbang tersebut yang mana telah sobek keluar isinya.
“Mungkin mereka bangsa siluman ataupun monster yang kakek tuturkan!” Kata Riko sambil mengawasi gerbang yang masih tertutup rapat. “Bagaimana caranya kita masuk?”
Jondan lalu berdiri dan menghadap gerbang. Ia pandang gerbang besar yang lebar dan tinggi itu. Tertutup rapat. Di kanan kirinya pun ada benteng lebar yang berdiri tinggi juga memanjang ke kanan kiri. Cara bagaimana mereka akan masuk ke tempat tersebut. Mereka hanya manusia biasa, tidak sama dengan makhluk tadi yang mana dengan mudahnya dapat meloncat seperti katak.
“Kalian tunggu disini, aku akan cari jalan!” kata Riko tanpa menanti jawaban. Ia lalu berlari ke arah kanan meninggalkan mereka.
“Hey!” Jondan berseru memanggilnya.
__ADS_1
Doni lalu berlari mengikuti Riko dari belakang. Namun baru saja berlari, baju belakangnya sudah kena tarik oleh si lelaki kekar.
Riko terus berlari kejurusan timur. Ia pasang kedua matanya untuk mencari jalan masuk.
“Ah, ada pohon!” Riko berseru girang lalu menaiki pohon yang menjulang tinggi tersebut. Pohon itu lebih tinggi dari benteng istana, sehingga setelah sampai di puncak, ia lalu melompat dari pohon itu dan berhasil melompati benteng istana tersebut.
“Tap! Aughh...!” Riko berhasil melewati benteng namun ia melakukan pendaratan yang salah sehingga kakinya terasa kesleo. Ia lalu berjalan pincang menuju ke tempat yang gelap di sebelah kirinya agar tidak ketahuan oleh orang-orang istana.
“Bangsa monster!” seru seorang Perwira sambil menunding dua makhluk tertutup kain hitam. Riko mendengarnya, ia lalu intip ternyata di halaman istana telah berdiri dua makhluk hitam tadi dan seorang Perwira dewasa. Mereka saling berhadapan. Dan tidak lama kemudian puluhan prajurit datang mengelilingi makhluk tersebut.
“Apa yang membuatmu datang kemari, Monster!” sang perwira maju mendekati kedua makhluk itu.
“Aku ingin mengambil dewi kalian!” jawab kedua makhluk itu serentak. Dan suaranya sama.
“Ha-ha-ha...!” sang perwira tertawa bergelak. “Bagaimana kalian berdua dapat mengambilnya?!”
“Hmph!” kedua makhluk itu mendengus bersama dan dalam waktu sekejap mereka melesat lalu menyerang sang perwira dengan sebuah pukulan namun tangan makhluk tersebut sangatlah aneh. Tidak ada jarinya akan tetapi pisau besar yang melengkung. Seperti jari-jari mereka digantikan dengan senjata tersebut. Para prajurit tidak diam begitu saja. Melihat perwiranya diserang, serentak mereka lalu maju menyerang kedua makhluk itu dengan pedangnya. Terjadilah pertempuran seru di halaman tersebut yang mana pihak makhluk hitam unggul banyak karena berhasil mengorek leher para prajurit satu persatu dengan tangannya yang berbentuk pisau besar itu. Senjata para prajurit seperti tidak mempan oleh tubuh mereka. Sehingga makhluk hitam tersebut dapat dengan mudah menerjang lalu mengorek puluhan leher. Melihat betapa dengan entengnya kedua makhluk kembar itu membabat habis prajuritnya, sang perwira mundur kebelakang dengan kedua mata terbelalak. Ia sama sekali tidak menyangka betapa puluhan prajurit yang sudah dilatih selama bertahun-tahun itu, kini menghadapi serangan kedua makhluk tersebut menjadi sia-sia dan hanya mengantarkan nyawa saja.
“Ha-ha-ha!” kedua makhluk itu tertawa bergelak dan seperti setubuh saja karena jika berbicara selalu bersama. “Kau akan melindungi diri atau berserah diri?!” katanya sambil menunjuk sang perwira.
Perwira dewasa tersebut lalu dapat menahan rasa jerinya. Ia kemudian gertak rahang lalu menerjang sambil mencabut pedang di pinggangnya. “Mampuslah kalian!” serunya sambil mengayunkan pedangnya kearah kedua tubuh makhluk itu..
Makhluk tersebut mendengus. Lalu tubuh mereka hilang terbawa oleh asap hitam. Lantas tebasan pedang hanya mengenai udara kosong saja.
__ADS_1
Dengan kening berkeringat sang perwira menyekal pedangnya erat-erat. Ia dengar ternyata di belakangnya terdengar suara tawa si makhluk hitam tersebut. Ia lalu menebaskan pedang setelah membalikan badan namun tetap seperti tadi, tubuh makhluk tersebut hilang terbawa asap lalu menampakan diri kembali di belakang sang perwira. Perwira tersebut tahu bahwa lawannya akan berada di belakangnya kembali namun baru saja ia hendak membalikan tubuh dengan maksud menebas tubuh lawan, tubuhnya sudah kena tendang lalu pada saat tubuh sang perwira melesat, makhluk tersebut mengejarnya lalu di tebasnya leher sang perwira tersebut dengan tangannya yang mana berbentuk seperti pisau besar melengkung. Perwira tersebut lalu terjatuh tak bernyawa tanpa mengeluarkan jeritan. Lehernya putus seketika itu juga.