The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 32


__ADS_3

Begitulah, mereka lalu bermalam ditempat itu. Dengan dibuatnya api unggun ditengah mereka, tempat tersebut menjadi cukup terang dari pada tadi. Zhu, Jondan dan Riko tidur bersandar di bawah pohon masing-masing. Kebetulan pohon yang ditempati mereka melingkar ditempat itu. Sementara Sofia karena seorang gadis sendiri maka memisah diantara mereka. Ia tidur bersandar di atas pohon tempat Zhu tertidur.


Dalam lelapnya tidur mereka, tanpa mereka semua sadari, ada sosok yang tengah mengawasi mereka. Sosok ini adalah seorang kakek bermumur 60 tahunan. Tubuhnya pendek kurus sedikit dagingnya. Ia lalu tersenyum dan nampaklah taring gigi seperti kelelawar, lalu kakek ini melompat kearah sebuah pohon dan hilang disana!


***


Pagi harinya setelah mereka terbangun, mereka lalu melanjutkan perjalanannya kearah barat. Riko sudah tidak dipapah oleh Jondan lagi. Karena sekarang luka pada kakinya sungguh sudah tidak terasa lagi. Dalam hatinya pemuda itu merasa berterima kasih sekali kepada Sofia. Gadis itu mau menolongnya padahal baru beberapa hari saja mereka saling mengenal.


Sofia lalu berlari mendahului mereka. Setelah tiba di belakang semak-semak, ia lalu berhenti dan merundukan badan. Gadis itu menoleh kearah kawan-kawannya. Ia mengisyaratkan dengan tangan agar mereka semua menuju kearahnya. Setelah Jondan, Zhu dan Riko sampai, mereka juga ikut merunduk di belakang semak-semak. Mereka kini melihat di depannya ada sebuah gerbang terbuat dari bambu yang tengah terbuka lebar. Di depannya ada empat penjaga dengan memakai baju prajurit. Namun wajah dibalik helm terlihat hitam dan menakutkan.


“Inikah tempatnya?” tanya Riko berbisik kepada Sofia.


Sofia mengangguk tanpa menoleh. Ia lalu melirik kearah Zhu. Pemuda jenaka itu paham apa yang di isyaratkan sahabatnya. Maka ia lalu maju mendekati gadis itu. Sofia lalu berbisik sesuatu yang tidak didengar oleh Riko dan Jondan. Setelah selesai berbisik pemuda jenaka itu lalu mengangguk seakan paham apa yang dikata sahabatnya. Zhu lalu diselimuti oleh asap hitam tebal. Kini ia menjelma menjadi anjing hitam kembali. Setelah mendengkur, ia lalu berjalan perlahan setelah melompati semak-semak itu.


“Heh? Kenapa ada anjing ditempat ini?” tanya salah seorang penjaga diantara mereka setelah Zhu berada di depan mereka.


“Hrrgrroowl!” Zhu lalu melompat dan menggigit paha salah seorang penjaga sampai keluar darah hijau dibagian yang tergigit. Setelah itu ia lalu membalikan badan dan berlari ke arah semak-semak.


“Arrghh... anjing sialan!” maki penjaga yang mendapat luka. “Ayo cari binatang itu!” serunya lalu keempat penjaga itu berlarian mengikuti si siluman anjing.


Selagi keempat penjaga melewati semak-semak dimana rombongan Riko tadi bersembunyi, ternyata dengan taktik Sofia mereka sudah tidak ada ditempat itu lagi. Saat keempat penjaga itu berlarian, muncullah jarum-jarum yang melesat dari balik semak-semak yang lain. Jarum tersebut melesat lalu mengenai satu persatu paha para penjaga. Keempat penjaga itu lalu berhenti setelah saling mengaduh. Mereka dapati ternyata sebuah jarum menancap pada paha kanan mereka. Selagi hendak dicabut, tiba-tiba tubuh mereka merasa lemas sehingga bergantian meraka jatuh tengkurap diatas tanah. Jarum yang dilesatkan Sofia memang sudah dilumuri ramuan. Ramuan yang dapat membikin orang pening lalu jatuh pingsan jika mengenai aliran darahnya. Sofia lalu keluar dari balik semak-semak. Di ikuti oleh Jondan dan Riko. Juga Zhu kini menghampiri mereka dengan wujud pemuda jenaka.

__ADS_1


“Kita lucuti pakaian mereka! Lalu oleskan sedikit darah mereka ke bagian tubuh kita! Bangsa Monster Hitam dapat membedakan mana bangsanya lewat darah. Oleh karena itu, cara ini sangat berguna.” kata Sofia yang lalu menanggalkan pakaian besi mereka dengan dibantu oleh Zhu. Kemudian atas perintah Sofia Jondan mengiris sedikit kulit Monster itu untuk diambil darahnya. Merkea lalu mengolesi darah yang hijau itu ke lengan mereka. Setelah kesemua pakaian Monster itu terlepas, Sofia, Zhu, Jondan dan Riko lalu memakai pakaian itu atas perintah Sofia. Kesemuanya pas ditubuh Jondan, Zhu dan Riko. Hanya Sofia yang terlihat besar karena pakaian besinya kebesaran ditubuhnya.


“Pantas saja kau tidak segan menanggalkan pakaian mereka, Nona.” Kata Riko sambil memandangi tubuh keempat prajurit yang tengah menggeletak itu. Tubuh mereka hitam seperti arang dan tidak terlihat kelaminnya. Benar-benar bangsa monster karena hanya bentuk tubuhnya saja yang mirip dengan manusia. Kulitnya terlihat kasar karena disana sini menonjol seperti ada ribuan batu-batu kecil didalamnya. Wajahnya juga seperti kulitnya.


“Kau pikir aku wanita apa?!” ketus Sofia cemberut. Ia lalu memakai helm besinya.


Jondan dan Zhu sudah menutup penutup wajah pada helm yang dikenakannya. Mereka lalu menyeret keempat monster penjaga gerbang itu untuk dibawanya ketempat yang agak jauh dari tempat itu. Masing masing menyeret dua penjaga.


Setelah ditempat itu hanya ada Riko dan Sofia, Riko lalu mendekati gadis itu. “Selanjutnya, apa rencanamu, nona?”


Sofia lalu mengawasi wajah Riko itu. Kini dengan berkostum besi silver berukir, pemuda itu nampak gagah seperti kesatria saja dimatanya. Padahal baju itu adalah kostum penjaga dan prajurit biasa. Ia lalu memalingkan wajah dan menarik nafas. “Kita menyamar sëagai penjaga gerbang tempat itu, lalu memasukinya. Pakaian ini menutup semua bagian tubuh kita. Dan juga penutup wajah pada helm tidak akan menamapakan wajah kita, maka kita tidak akan ketahuan. Dan mudah dalam mencari sahabatmu.”


Riko lalu memandangi wajah yang putih dibalik helm itu. Ia kemudian menundukan kepala. “Kalian mau menolongku. Sebenarnya kenapa? Bukankah kita baru pertama kali saling mengenal. Apa kalian ingin kami berhutang budi terhadap kalian?”


Riko lalu terperanjat. Ia sama sekali tidak menduga gadis ini akan berkata demikian. Maka ia mengerutkan alisnya.


Sofia agaknya tahu akan pikiran pemuda itu. Maka ia lalu tertawa. “Ha-ha, kau jangan khawatir. Permintaanku ini tidak akan menyuruhmu untuk bunuh diri atau aku aku menyuruhmu melakukan kejahatan dan hal yang tidak terpuji,”


Legalah hati Riko mendengar perkataan itu. Maka kini ia tersenyum. “Asalkan, permintaanmu tidak menyuruhku untuk melakukan kejahatan dan hal tidak terpuji, maka aku tidak akan tidak menuruti permintaanmu itu, Nona.”


“Baguslah,” Sofia lalu tersenyum manis. “Dan ayo kita bejanji!”

__ADS_1


Riko berkerut kening karena tidak tahu. “Ba... cara bagaimana?” tanyanya.


“Hmmm!” Sofia mengangkat wajah lalu mengangkat tangan kanannya.


“Beginikah caranya?” tanya Riko lalu mengangkat tangan kanannya, meniru gerakan gadis itu.


“Benar!” Sofia lalu menepuk telapak tangan Riko dengan telapak tangannya. Setelah selesai ia lalu berkata. “Kini giliran kau,”


Riko lalu menepuk tangan Sofia yang halus itu dengan tangannya. Ia hendak bertanya siapa yang mengajarkan hal ini namun ia kurungkan niatnya. “Sudah?” tanya Riko mengangkat alis setelah selesai menepukan tangan.


“Sudah!” sahut Sofia tersenyum lebar lalu tertawa manis sekali. Membuat Riko juga ikut tersenyum dan tertawa bersamanya.


Selagi dua muda mudi itu tertawa, Zhu dan Jondan sudah ditempat itu kembali. Mereka berdua kini saling pandang karena melihat Sofia dan Riko saling tertawa.


“Sebentar lagi mereka pasti jadian!” kata Jondan yang lalu menuju kearah mereka berdua.


“Jadian apa?” tanya Zhu yang tak paham. Ia lalu berlari menyusul si kekar itu dengan pertanyaan tadi.


“Eh, Jondan. Kau sudah kembali?” tanya Sofia setelah memalingkan wajah dari Riko. Riko pun lalu menoleh dan membalikan badan.


“Hmmm...” Jondan mendekati mereka berdua sambil bertolak pinggang. Jalannya perlahan. Setelah di dekat mereka, ia lalu membuka penutup helmnya. “Kau benar-benar, ya, kalau sedang bahagia saja kau mau bertanya padaku!” katanya sambil menuding-nuding Sofia dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Merahlah kedua pipi Sofia. Memang tepat perkataan si kekar itu. Dan entah kenapa tiba-tiba saat Jondan mendekatinya, ia lalu bertanya padanya.


__ADS_2