The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 18


__ADS_3

Sementara di luar kamar ke19 dewi tersebut masih terus mengeroyok Zhani dengan serangan tubuh mereka. Dewi berselendang biru langit itu kali ini terdesak karena menghadapi banyak lawan. Ia lalu kena totok oleh Hanmei dan kini tubuhnya tidak dapat bergerak dan berbicara. Hanya dapat bernafas dan menggerakan kedua matanya.


Melihat Zhani yang sudah lumpuh terkena totokan, para dewi lalu menghentikan serangan mereka. Mereka lalu memasuki kamar ketua mereka itu setelah memandangi sang ketua yang mana terus mengawasi mereka dengan kedua matanya yang tajam.


“Dimana dia?”


“Kok tidak ada, sih?”


“Jelas-jelas tadi aku melihat dia menuju ketempat ini!”


“Apa kita salah lihat?”


Begitulah suara mereka saat mencari-cari Riko yang tidak juga mereka temui dimana adanya. Karena sudah 10 menit mereka mencari kesana kemari di dalam kamar itu, namun tidak menemukan apa yang mereka cari. Hanmei lalu mengajak mereka semua untuk keluar meninggalkan kamar tersebut.


Setelah berada di luar Hanmei lalu mendekati ketua mereka yang masih berdiri lumpuh kemudian menotoknya kembali, untuk membebaskan totokannya. Zhani lalu melepas nafas dan tubuhnya sekita itu terhuyung tiga langkah kebelakang sambil memegangi dada. Ia mengerutkan kening dan nafasnya terengah-engah.


“Maafkan kami, ketua.” Kata Hanmei menunduk. “Bukannya kami lancang akan tetapi kami hanya ingin memastikan. Dan Ternyata, kami telah salah sangka.”


Para dewi selain si selendang jambon dan nila lalu menunduk dan berkata. “Maafkan kami, ketua!”


Wulan lalu menganggukan kepala. Dan para dewi lalu meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ketempatnya masing-masing. Setelah di depan kamar tidak ada lagi orang, Zhani lalu cepat-cepat memasuki kamarnya. Ia tutup pintu tersebut cepat-cepat lalu berlari menuju ke almari dimana tadi Riko bersembunyi. Ternyata pemuda itu tidak berada di tempat tersebut. Zhani lalu mencarinya kesana-kemari namun tetap saja tidak melihat batang hidung Riko.


Riko lalu memegangi punggungnya sambil meringis kesakitan. Karena pada saat tubuhnya terjatuh ia melakukan pendaratan dengan punggungnya itu. Kini ia merasa semakin encok saja. Ia lalu berdiri dari duduknya. Mengawasi tempat tersebut. Ternyata adalah sebuah ruangan bawah tanah yang dindingnya terbuat dari bebatuan. Tanahnya banyak pasir dan langit-langitnya seperti di dalam goa. Pemuda ini lalu mendongakan kepala. Ia lihat ternyata jarak antara lantai dan langit-langit cukup tinggi. “Bagaimana caranya aku keluar?” keluh Riko lalu berdiri, menanti langit-langit tersebut terbuka kembali.


“Kreekk...” setelah menunggu sekian menit akhirnya langit-langit tersebut terbuka. Riko lalu meringis girang dan cepat ia berseru. “Hey...! aku disni!” serunya sambil melambai-lambaikan tangan.

__ADS_1


Di atas terlihat Dewi berselendang biru langit. Ia acuh dengan seruan pemuda itu.


“Bagaimana caranya aku naik keatas kembali?” tanya Riko sedikit berseru. Suaranya menggema di ruang bawah tanah itu.


“Sreett...” baru saja bertanya sebuah selendang lebar berkelebat ke arahnya. Riko lalu mengawasi selendang itu sesaat, lalu mendongakan kepala memandang ke arah pemilik selendang. Ia tidak tahu apa maksudnya itu.


“Naiklah!” perintah Zhani bernada datar.


Riko lalu mengawasi selendang warna biru langit itu kembali. Ia sedikit ragu apakah gadis itu dapat menarik tubuhnya yang berbobot 59 kg dengan menggunakan selendang. Melihat raut pemuda itu yang tampak ragu, Zhani lalu sedikit menarik selendang itu kembali.


“E-eh! Tunggu!” Riko lalu mengejar selendang yang keatas itu dan melompat kemudian hinggap pada selendang yang ternyata kokoh itu. Perlahan tubuhnya terangkat ke atas dan sekarang ia sudah menginjakan kakinya di lantai kamar Zhani. Ketika mendarat tubuhnya tidak dapat seimbang sehingga ia langsung jatuh terduduk.


Melihat bagaimana pemuda itu saat memegang selendang nampak konyol sekali dan juga jatuh, dalam hati Dewi berselendang biru langit itu menjadi geli juga.


“Nona, terima kasih. Kau memang hebat sekali,” kata Riko sambil tersenyum lebar.


Gadis tersebut tidak menyahut. Ia pandangi lantai dimana tadi Riko keluar itu. Dalam kepalanya ia berpikir, mengapa ada hal tersebut di kamarnya. Ia kemudian membalikan badan dan berjalan meninggalkan tempat tersebut, yang mana berada di balik almari. Riko lalu melepas senyuman karena mendapat perilaku yang dingin itu, akan tetapi ia lalu berjalan menyusulnya.


“Kau kenapa kemari?” tanya Zhani singkat tanpa menoleh kepada pemuda itu setelah mereka berada di samping meja.


Riko lalu berhenti di belakang gadis itu. “Sebenarnya... aku memang sengaja ingin bertemu denganmu.”


“Untuk apa?” sahut Zhani tanpa menoleh kembali.


“Aku... ingin meminta bantuanmu.”

__ADS_1


Zhani lalu membalikan badan, berhadapan dengan pemuda itu. Wajahnya bertanya namun tidak mengucapkan kata.


“Antar aku untuk keluar dari istana ini.” Kata Riko sedikit sungkan. “Temanku, masih diluar dan aku ingin menemuinya. Apa kau bisa mengantarku?”


Zhani tidak menjawab. Lumayan lama ia memandang wajah Riko baru kemudian ia duduk di depan meja tempat bercerminnya. “Tengah malam para Dewi, dewa dan semuanya terkecuali penjaga sudah tidur. Pada saat itu kuantar kau keluar.” Katanya setalah duduk dan menghela nafas.


Mendengar ini Riko menjadi girang sekali. Ia lalu melebarkan senyumannya. “Terimakasih, Ang Zhani.” Katanya. “Ee, maksudku Nona Ang Zhani.”


Zhani tidak berkata apa-apa. Hanya mengedipkan kedua matanya yang penuh ketenangan.


“Kalau begitu, aku tunggu kau diluar untuk nanti malam.” Kata Riko. “Aku mohon pamit,”


Pemuda ini lalu berjalan meninggalkan kamar tersebut. Namun baru saja hendak membuka pintu, Ang Zhani lalu berseru. “Tunggu!”


Riko berhenti dan tidak jadi membuka pintu. Ia menoleh ke arah gadis tersebut.


“Kau akan ketahuan kalau berkeliaran. Sebaiknya kau tunggu saja dikamar ini.” Kata Zhani bernada datar.


“Eh? Apa tidak apa-apa?” Riko kemudian membalikan badan dan menghadap gadis itu. “Seorang lelaki dan perempuan, berdua di dalam kamar...” katanya ragu-ragu.


Zhani lalu berdiri memutus perkataan Riko. Ia lalu berjalan menuju kearahnya. “Kau tunggu saja di tempat ini. Jangan berkeliaran. Aku akan menemuimu nanti malam.”


Riko lalu tersenyum pahit kepadanya. Ia lalu mengangguk.


Ang Zhani lalu menarik nafas panjang. Ia kemudian berjalan dan keluar dari kamarnya. Sementara Riko pun lalu menghela nafas di dalam kamar tersebut. Sikap gadis tersebut ternyata masih tetap dingin kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2