The Tyrant Duke'S Naughty Fiancée

The Tyrant Duke'S Naughty Fiancée
Bab 21 Dewa Takdir Dan Mimpi


__ADS_3

Sebuah bangunan besar dengan warna emas dan coklat yang berpadu, jam besar dengan lonceng di atasnya serta penjaga yang menjaga pintu berbentuk angka-angka yang mirip dengan tulisan di jam besar di atas bangunan itu. Felix yang jiwanya dikirim ke tempat sang dewa sangat kebingungan dengan sebuah tempat yang sangat berbeda, dari bayangannya terutama bangunan di depannya.


'Ke tempat seperti apa nona Saint itu membawaku? Tidak terlihat seperti tempat para dewa,' ucap Felix di dalam hatinya memperhatikan sekitarnya kemudian dia menatap bangunan di depannya


Perlahan-lahan dibukanya pintu besar yang ada di depannya, dengan mudah tanpa kunci pintu itu terbuka. Satu langkah Felix berjalan masuk ke dalam ruangan yang besar dan luas itu, Felix langsung dibuat terpukau dengan ruangan tersebut, karena rak-rak besar itu bergerak dan berpindah searah dengan jarum jam. Satu langkah lagi Felix melangkah dapat dengan jelas dia melihat banyak buku-buku terdapat di dalam rak-rak besar yang bergerak, beberapa buku dan gulungan kertas itu juga beterbangan seperti ada sihir yang menggerakkannya.


Di depan Felix semakin jelas sebuah jam pasir dan roda-roda gigi jam saling mengisi gigi-gigi kosong untuk menggerakkan jam terlihat, pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya sangat aneh, tapi menakjubkan hingga tidak pernah di duga olehnya kalau dia berada di tempat seperti dongeng anak-anak yang di ceritakan.


Ketika Felix melangkah lagi hingga sampai di dekat sebuah tangga yang menuju ke jam pasir yang tepat berada di tengah-tengah tangga. Pada saat melangkah di salah satu tangga di sana tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyi roda-roda jam berdetik di tangga itu, Felix awalnya mengira kalau mungkin itu adalah jebakan, tetapi untungnya tidak terjadi sesuatu yang aneh pada saat Felix menginjak selangkah demi selangkah tangga di sana hingga akhirnya dia berada di lantai dua.


"Selamat datang di perpustakaan takdir,"


"Aku telah membaca tentang dirimu Felix Charleston seorang Duke tiran yang kejam,"


"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu, tapi keturunan keluarga itu sangat tidak terduga memberikan gulungannya kepada dirimu," ucap sesosok laki-laki dengan satu lensa kacamata dan rambut panjang yang diikat dengan sebuah tali, pakaian yang berjas dan sarung tangan putih digunakan oleh laki-laki itu


"Apakah kamu seorang dewa?" tanya Felix dengan tatapan dingin dan menyidik ke arah sosok yang ada di depannya


"Kamu sungguh blak-blakan dan tidak sopan ya, tentu saja aku seorang dewa,"


"Perkenalkan namaku adalah Ciel Idris Aryasatya Kawindra, aku dewa yang mengurus takdir dan mimpi atau lebih tepatnya yang dikenal manusia sebagai Dewa Penulis Takdir Dan Mimpi,"

__ADS_1


"Jadi, kenapa kamu ada di sini?" tanya Ciel dengan senyuman ramah kepada Felix yang berada di depannya


"Aku ingin memutar waktu ke masa lalu,"


"Ada seseorang yang aku buat menderita hanya karena keegoisanku tidak bisa menunjukkan cinta dengan baik tolong bantu aku," ucap Felix yang berlutut dan bersujud memohon di depan Ciel sang dewa yang mengurus waktu takdir seseorang itu


Ciel menatap Felix menyidik dari atas ke bawah melihat keseriusan dan ketulusannya dalam memohon tanpa adanya sedikitpun perasaan tinggi hati ataupun takut untuk merendah kepada sosok di depannya. Ciel yang menatap itu tidak sama sekali tergerak dengan Felix lakukan, karena dia adalah seorang dewa.


"Tidak bisa, aku tidak bisa melakukan itu,"


"Lagipula apa keuntungannya aku melakukannya untukmu? walaupun aku seorang dewa aku harus memiliki keuntungan karena baik dewa maupun iblis pasti akan ada resikonya dalam mengabulkan permintaan yang begitu berat,"


"Di masa lalu aku telah melakukannya sekali kepada seseorang gadis yang mendapat berkat dewa sebagai kontraknya dia membantu mengalahkan para iblis yang melanggar perjanjian,"


Felix yang di tatap merasa langsung gemetaran, karena tatapan dari sang dewa Ciel sangat berbeda dengan saat dia pertama kali berkenalan beberapa saat yang lalu, dia benar-benar menunjukkan kalau dia bukan dewa yang dapat di perlakukan sembarangan.


"Aku akan melakukan apapun bahkan jika jiwaku yang harus aku pertahrukan jadi tolong bantu aku,"


"Aku mohon padamu dewa takdir dan mimpi," ucap Felix dengan tatapan penuh keseriusan dan tulus


"Banyak juga orang yang mengatakan hal seperti itu, aku tentu menolak untuk melakukannya,"

__ADS_1


"Jadi pulanglah sana," ucap Ciel yang menggeleng-geleng pelan kepalanya tidak bisa melakukannya kemudian pergi meninggalkannya di tengah-tengah ruangan besar dan luas


Ciel berjalan meninggalkan Felix dan mulai mengerjakan pekerjaannya, tetapi, beberapa jam kemudian Ciel penasaran apakah laki-laki itu masih berada di aula perpustakaan bersujud memohon atau tidak. Pergi keluar ruangan dan melihatnya dari tangga lantai atas perpustakaan, dia terkejut kalau laki-laki itu bukan seorang tiran saja, tetapi orang yang cukup gila untuk memohon sesuatu.


"Xiang, menurutmu sebagai seseorang yang pernah menderita karena cinta apakah kamu akan menyesal jika kamu membunuh orang yang kamu cintai secara tidak langsung dengan alasan pada awalnya ingin menolongnya?" tanya Ciel kepada sesosok laki-laki berambut panjang, dan menggunakan pakaian berpakaian gaya timur dengan relung awan yang khas


"Guru, kenapa kamu selalu membawa masa lalu yang telah lama tidak ingin muridmu ingat?"


"Tapi, tentu saja jika aku berada di dalam posisinya tiba-tiba saja membaca sebuah isi dari buku diary tunanganku tentang dia telah merencanakan untuk meninggalkan aku,"


"Aku akan melakukan hal yang sama," ucap Xiang dengan tatapan dingin dan helaan nafas panjang


Ciel yang mendengarkan hanya mengangguk-angguk paham kepada yang di ucapkan oleh muridnya dan akhirnya turun ke tempat Felix berada. Suara langkah kaki dari Ciel membuat Felix tidak banyak berharap, tetapi dia tetap mengharapkan kalau permintaannya di dengar oleh sang dewa.


"Hah... Seorang duke yang tiran begitu keras kepala, tetapi juga bodoh dan kaku hingga ingin bersujud di tempat seperti ini selama berjam-jam,"


"Ini sedikit di luar dugaan, sekarang berdirilah," ucap Ciel sambil berjalan ke arah sosok laki-laki yang sedang bersujud di depannya dengan tatapan datar


Felix yang mendengarkan ucapan Ciel sama sekali tidak berdiri, dia bersikukuh untuk tetap bersujud karena dia berpikir dia akan langsung di usir dari tempat itu, membuat Ciel menghela nafas panjang dan memegang dahinya.


"Berdirilah aku tidak akan mengusir kamu, tetapi aku akan membuat pernjanjian denganmu,"

__ADS_1


"Mudah saja perjanjian kita, kamu tidak boleh mengucapkan tentang yang kamu yang berasal dari masa depan dan kamu harus membuat sebuah kuil besar dan banyak berbuat untuk rakyat-rakyat kecil tambahan kamu harus belajar tentang isi hati seseorang,"


"Apakah kamu setuju?"


__ADS_2