Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam

Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam
CHAPTER 21


__ADS_3

" Kau tidur! Bisa-bisanya kau tidur di saat sibuk-sibuknya..." Jimmy meneriaki Ansel.


Sontak hal itu membuat suara Jimmy bergema. Ansel menutup telinganya dengan selimut yang masih melilit tubuhnya.


" Cerewet sekali! Lagi pula aku sudah selesai merapihkan ramuan-ramuan itu...." Ucap Ansel.


" Bangun! " Jimmy menarik selimut Ansel, sehingga Ansel bangun, dan berteriak kesal.


" Ck!...


" Kenapa kau terus berteriak! Biarkan aku tidur sebentar lagi! " Teriak Ansel.


" Tidur, tidur. Kau tidak lihat kantong hitam di bawah mataku ini!! Aku saja jarang tidur sejak pria berambut arang itu bangun. Enak saja kau tidur, sedangkan aku terus bekerja! " Jimmy kesal.


Saat itu aku hanya diam melihat mereka berdua bertengkar pasal tidur, dan kantung mata.


" Ahkkkkhh.....sudalah! diam! " Ansel menutup kedua telinganya.


" Tunggu. Siapa wanita yang berdiri di belakangmu? " Tanya Ansel dengan alis mengerut.


" Aku hampir lupa. " Ucap Jimmy.


Jimmy menoleh ke arahku, dan dia mulai berbicara lagi.


" Dia.....Hmmmm, siapa dia? " Jimmy berpikir mengenai diriku.


" Kau belum menanyakan namanya? Keterlaluan. " Ucap Ansel seraya menggelengkan kepalanya.


Tentu saja, selama aku masuk, Jimmy hanya mengeluh, bercerita mengenai ramuan, dan orang-orang di sekitarnya.


Dia tidak bertanya siapa aku, dan namaku.


" Yang ku tahu dia pelayan pribadi pria berambut arang. Ahhh, maksduku Yang mulia putra mahkota. " Ucap Jimmy sekarang dia menggaruk alisnya.


" Hmmmm???......Benarkah? Pria itu mengambil pelayan wanita? bukannya kau bilang dia tidak membutuhkan pelayan wanita. " Ucap Ansel ragu.


" Itu Hylos yang bilang bukan aku. " Jawab Jimmy.


" Sssshhhhh....aku tidak menyangka pria itu mengambil lady ini sebagai pelayannya. " Ucap Ansel.


" Jadi, dia mau apa ke sini? " Tanya Ansel seraya melipatkan tangannya.


Dia bahkan menatapku dari bawah sampai atas.


" A-anu...." Aku gugup.


" Berhenti menatapnya seperti itu. " Jimmy tiba-tiba menutup mata Ansel dengan tangannya.


" Singkirkan tanganmu! " Ansel kesal.


" Kau masih berumur 17 tahun. Jangan menatap wanita sembarang. " Ucap Jimmy.


" Baiklah, sekarang singkirkan tanganmu. " Ucap Ansel.


Jimmy menyingkirkan tangannya segera.


" Siapa namamu Lady? " Tanya Ansel datar.


" Nama saya Eileria, panggil saja Leria. " Jawabku.


" Untuk apa kau kemari? " Tanya Ansel.


' Tak! '


" Aduh! Kenapa kau menyentil keningku! " Ansel marah, karena Jimmy tiba-tiba menyentil keningnya.


" Gunakan bahasa yang sopan! dia lebih tua darimu! " Tegur Jimmy.


" Masa bodo! " Ucap Ansel.


" Tidak apa, saya tidak masalah. " Ucapku.


Aku tidak masalah jika dia mau berbicara sopan atau tidak, karena aku sadar dia dan aku memiliki kedudukan yang berbeda.


" Maafkan dia Lady, dia memang anak yang tidak sopan. " Ucap Jimmy.


" Dia hanya pelayan, kenapa pula harus sopan. " Ucap Ansel dengan mata menyipit.


" Diam! " Jimmy menegurnya.


" Ck..." Ansel mendecakkan lidahnya.

__ADS_1


" Jadi, mau apa kau kemari? " Tanya Ansel.


" Saya membutuhkan ramuan untuk yang mulia. Beliau terluka di punggungnya. " Aku memberitahu tahu alasanku datang kemari.


" Kau kira ramuan yang ada di sini bisa di berikan begitu saja. " Ucap Ansel dengan suara tidak ramah.


" Saya tidak tahu, tapi ini perintah yang mulia. " Jawabku.


" Pria berambut arang itu tidak pernah meminta ramuan! " Ucap Ansel penuh peringatan.


" Sudahlah Sel, berikan saja ramuanya. Mungkin pria itu benar-benar terluka. " Jimmy menumpuk pundak Ansel, dan menyuruhnya agar memberikan ramuan yang aku minta.


" Haiissshh.....Jika ada masalah, kau sendiri yang harus menanggungnya. Aku tidak mau terbawa-bawa. " Ucap Ansel malas.


Aku tidak tahu seberapa mahalnya ramuan istana, hingga mereka enggan memberikannya.


" Baiklah aku akan memberikannya. Kau bilang ramuan untuk luka? " Tanya Ansel, dia berjalan melihat-lihat rak ramuan.


" Ya, luka gores saja. " Jawabku.


" Hmmmm, luka gores....." Ansel, terus memilih ramuan.


Akhirnya dia pun tertuju pada satu ramuan.


" Ini saja...." Ucap Ansel seraya menggambil ramuan biru.



" Ini cocok untuk kulit Putra mahkota. Berikan ini, dan pergilah. " Ucap Ansel seraya memberikan ramuan tersebut kepadaku.


" Ya, pakai saja ramuan itu. Tuang sedikit di atas kulit yang tergores nanti lukanya akan sembuh sendiri. Itu sangat ampuh. " Jimmy pun merekomendasikan ramuan tersebut.


" Ahh....baiklah terimakasih. " Ucapku.


" Nah, sekarang lebih baik kau pergi. " Ansel sudah tidak melihatku berada di ruangannya.


Dia mendorongku keluar, di sini Jimmy berbicara.


" Ayo Lady, Ansel memang tidak ramah. " Ucap Jimmy.


Jimmy mengantarku keluar dari ruangan, tentu saja dia mengantarku kembali keluar tempat di mana kedua penjaga pintu berada.


...----------------...


Eileria keluar dari ruangan dia di antar oleh Jimmy, tentu saja Kaleid juga ada, dia menggoda Eileria.


" Lady, hati-hati di jalan. " Ucap Kaleid.


" Berisik, lagi pula kenapa kau ikut mengantar lady ini. " Ucap Jimmy kasar.


" Memangnya tidak boleh! Lady ini saja tidak masalah. " Ucap Kaleid.


" Tutup mulutmu Kaleid. " Jimmy dengan suara kesalnya.


| Mereka berdua memang aneh, apalagi Ansel. | Pikir Eileria yang melihat tingkah dua pria di depannya.


" Saya permisi, yang mulia pasti sudah menunggu. " Eileria dengan cepat menunduk, dan pergi dari hadapan kedua pria tersebut.


Setelah Eileria pergi, Kaleid dan Jimmy melihat ke arah lorong yang di lalui Eileria.


" Pria berambut arang itu benar-benar mempermainkan wanita itu? " Tanya Jimmy.


" Mana ku tahu, lagi pula kenapa dia membangunkan singa yang tidur. " Jawab Kaleid.


" Dia hanya gadis polos. Semoga saja dia tidak terperangkap lebih lama di sangkar milik Callisto. " Gumam Jimmy.


" Jika dia terperangkap, suatu saat hatinya pasti akan terluka. " Kaleid menambahkan.


" Itu kau tahu. " Ucap Jimmy seraya masuk kembali ke dalam.


Kaleid masih berdiri di depan pintu.


" Ck, ck. Kalian berdua memang agak sedikit dungu. Kenapa kalian tidak membiarkan wanita itu masuk. " Kaleid berbicara kepada kedua penjaga yang berdiri di masing-masing sisi.


" ..... " Kedua penjaga itu diam.


" Membosankan, kalian tidak pernah menjawab jika aku marahi. " Ucap Kaleid.


" Kaleid! masuk! " Jimmy berteriak dari dalam.


" Baiklah...tunggu sebentar! " Sahut Kaleid seraya masuk, dan menutup pintu.

__ADS_1


...----------------...


Kembali ke kolam pemandian.



" Aku harap dia belum bangun. Tunggu! Berapa lama aku di ruang ramuan? Jangan-jangan dia sudah bangun. " Eileria berjalan ke arah kolam dengan panik.


Dia baru sadar sudah pergi terlalu lama, sampai lupa dengan Callisto.


Saat gadis itu mendekati kolam, dia akhirnya lega karena Callisto masih berada di kolam, dalam keadaan tidur.


" Fyuh.. untung saja dia belum bangun. " Baru saja Eileria menghela nafas lega, saat dia melihat ke arah Callisto.


' Blup, blup, blup....'


Tiba-tiba tubuh Callisto merosot hampir semuanya tenggelam.


" Astaga, dia malah merosot ke dalam. Tenggelam saja dia masih belum bangun?! " Ucap Eileria seraya berlari ke arah Callisto.


Eileria segera masuk ke dalam kolam untuk membantu Callisto. Saat Eileria masuk, dia melihat setengah wajah Callisto yang hampir tersedot air.


Matanya jelas masih tertutup, Eileria tidak menyangka, jika Callisto masih bisa tidur bahkan dalam keadaan seperti itu.


Jika Eileria belum kembali menggambil ramuan, mungkin saja Callisto sudah mati tenggelam.


" Pria aneh! Dalam keadaan seperti ini kau masih saja tidur! sebenarnya kau ini tidak niat hidup atau bagaimana?! " Eileria mengumpat keras.


Saat dia mencoba memegang tubuh Callisto, tiba-tiba mata Callisto terbuka.



" Sudah jelas, kau tidak sepolos itu....." Suara yang dingin dan datar terdengar di telinga Eileria.


Hal itu membuat gadis itu terkejut, Eileria mundur ke belakang dengan sulit.


" Ka-kau sudah bangun? " Tanya Eileria gugup.


" Hmmm....Teriakanmu terdengar sampai alam mimpi. " Ucap Callisto.


" Mana mungkin! " Bantah Eileria.


" Padahal telingaku terendam air kolam, tapi suaramu masih terdengar jelas. " Ucap Callisto serata bangun, dan dia berjalan ke arah dinding kolam.


" Jadi, selama ini anda tidak tidur? " Tanya Eileria.


" Untuk apa kau tahu itu? " Ucap Callisto datar.


" Apa yang kau pegang? " Tanya Callisto dingin, mata birunya tertuju pada ramuan yang di bawa oleh Eileria.


" Apa itu racun? " Tanya Callisto sekali lagi.


" Ti-tidak ini bukan apa-apa. " Jawab Eileria gugup.


" Jawab aku?! Apa itu racun?!! " Callisto meninggikan suaranya, dia terlihat marah.


Eileria diam, dia tida menjawab. Mulutnya seolah terkunci saat Callisto menaikkan nada bicaranya.


" Kau tidak mau menjawab, hah? " Ucap Callisto marah.


Callisto menghampiri Eileria, dan dia merangkul pinggang Eileria.


Tubuh mereka saling berdekatan, kedua mata mereka saling bertatapan. Mata Callisto yang terlihat marah, dan mata Eileria yang terlihat ketakutan.


" Le-lepaskan saya. " Ucap Eileria.


" Tidak. " Tegas Callisto.


Callisto menurunkan pandangannya ke arah ramuan yang di bawa oleh Eileria. Kemudian Callisto merebut ramuan tersebut dari tangan Eileria.


| Sial, ramuanya. Bagaimana jika dia tahu punggungnya terluka. | Pikir Eileria khawatir..


| Ramuan apa yang dia bawa? Racun? atau ramuan lainnya? | Pikir Callisto.


...----------------...


BERSAMBUNG....


" Beri aku makan dengan mulutmu, kau tidak lihat punggungku terluka karenamu! "


" Callisto! aku tunanganmu, apa kau tidak ingat? "

__ADS_1


__ADS_2