
Hylos pergi dari ruangan Callisto, tinggal Callisto sendiri yang berada di ruangan tersebut.
" ...Ck...
" Bisa-bisanya perempuan itu melukai punggungku...
Callisto bergumam mengenai luka di punggungnya. Setelah itu, dia pun duduk di atas tempat tidurnya.
" Aku tidak sabar menunggu hari esok. " Gumam Callisto.
Callisto berbaring, dengan tubuh setengah telanjang, karena dia membuka jubahnya.
Mata Callisto yang berwarna biru menatap langit-langit ruangan miliknya, hingga dia tertidur.
Mudah baginya untuk tidur, karena itu memang salah satu keinginan Callisto.
...----------------...
Keesokan harinya.
Di suatu desa, dengan rumah kayu kecil. Ruangan yang sederhana dengan furniture serba kayu.
Di situ Eileria tinggal.
Saat itu Eileria sedang bersiap-siap untuk pergi ke istana, dia tidak mau terlambat dan diamuk Callisto.
" Huh.....jika bukan karena itu, mungkin aku tidak akan seperti ini. " Gumam Eileria pelan.
| Seharusnya Alvin baik-baik saja, jangan sampai hal buruk lainnya menimpa kami. Sampai hal itu selesai, kita berdua harus baik-baik saja. | Pikir Eileria.
Entah apa yang dimaksud dirinya, tapi yang jelas, ada sesuatu yang belum kita ketahui dari Eileria dan Alvin.
" Sungguh, ini membuatku terbebani. Jika saja dia tidak berulah, mungkin aku tidak akan melanjutkan hal itu. Pria dingin itu benar-benar merubah rencanaku. " Gumam Eileria sekali lagi.
Eileria berdiri dari duduknya, dia pun melangkah keluar dari ruangan tersebut.
...----------------...
Ruangan sihir, milik Kalein.
" Kael, bagaimana? Apa kau tahu siapa Leria? " Tanya pria rambut kuning dengan wajah penasaran.
Siapa lagi jika bukan Hylos, dia meminta Kalein mencari tahu identitas asli Eileria menggunakan bola sihir.
Hylos masih tidak percaya jika Eileria hanya pelayan biasa, atau rakyat biasa.
" ....Hmmmm....seperti nya aku tidak mendapatkan apa-apa. Dia benar-benar wanita biasa. Sebenarnya kenapa kau waspada terhadapnya? " Tanya Kalein.
Hylos dengan tangan melipat terus berpikir, tanpa menjawab pertanyaan temannya.
| Ada yang aneh, dari yang ku dapat dia memang wanita biasa, tidak mempunyai keluarga. Tapi, bagaimana dia tahu ruangan sihir, dan ruangan obat? Pelayan manapun tidak tahu di mana ruangan obat, dan ruangan sihir. | Pikir Hylos.
" Ekhem! " Kalein berdehem, untuk menyadarkan Hylos.
" Euu, jadi? " Tanya Kalein.
" Ck..Aku pergi dulu. " Hylos pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Kalein yang penasaran.
" Dia malah pergi, sebenarnya ada apa dengan pelayan pribadi Yang mulia Callisto? " Gumam Kalein.
...----------------...
__ADS_1
Dapur istana kerajaan.
" Cepat bersihkan daun bawangnya! Jangan lupa daging sapinya! " Teriak kepala koki.
Seperti biasa, dapur istana di penuhi oleh pelayan, dan juru masak. Mereka setiap hari memasak untuk keluarga kerajaan, dan pekerja istana.
" Leria! sedang apa kau di sana? " Tanya kepala koki.
Kepala koki itu bernama Gaston, dia sudah berada di istana sejak masih kecil, maka dari itu juga dia menjadi kepala koki di istana.
Gasto memanggil Eileria, saat itu gerak-gerik Eileria tidak seperti biasanya.
" Leria! " Gaston menghampiri Eileria yang tak kunjung menjawab.
" Apa yang kau lakukan? " Tanya Gaston sekali lagi.
Eileria akhirnya berbalik dan menjawab pertanyaan Gaston.
" Saya sedang menyiapkan makanan untuk yang mulia pangeran. " Jawab Eileria, saat itu tangannya sedang sibuk memotong daging sapi.
" Apa?!!!......" Kepala koki terkejut mendengar jawaban Eileria.
" Kenapa? Ada apa? " Tanya Eileria.
" Kau menyiapkan makanan untuk Yang mulia pangeran?...." Kepala koki bicara dengan nada keras sehingga semua pelayan yang ada di sana mendengarnya.
" ?...."
"?...."
Sontak hal itu membuat mereka terdiam, dan melirik ke arah Eileria dengan wajah kaget sekaligus tidak percaya.
" Sttttthhhhhh!!..." Eileria menyimpan telunjuk di bibirnya.
" ......Maaf, aku kaget dengan jawabanmu itu... " Jawab Gaston dengan nada pelannya.
Gaston melirik sekitar, dan dia menyadari bahwa bawahannya melirik ke arah mereka.
" Ekehm....! Kenapa kalian berdiam diri! Cepat lanjutkan pekerjaan kalian! " Gaston dengan cepat mengembalikan suasana.
Mereka akhirnya kembali mengerjakan pekerjaan mereka.
" ....Leria..? " Gaston berbicara pelan.
" Ada apa? " Tanya Eileria.
" Apa kau benar-benar memasak untuk yang mulia pangeran? " Tanya Gaston dengan suara kecil.
Eileria dengan cepat menjawab.
" Ya....seperti itulah. " Jawab Eileria.
" Kau harus bertahan! " Reaksi Gaston terhadap jawaban Eileria terlihat suram.
" Kenapa? " Tanya Eileria.
" Yang mulia sangat pemilih dalam makanan, sejak kecil dan di akui sebagai pangeran beliau selalu memilih-milih makanan. Jika dia tidak suka, dia akan melemparkan makanan yang tidak dia sukai. Kadang kala meja makanan pun, dia gulingkan. " Ucap Kepala koki.
Mungkin itu pengalaman Gaston, makanya dia berbicara seperti itu.
" Beliau memang seperti itu, kelakuannya memang sudah buruk sejak kecil. " Gumam Eileria.
" Kalau begitu kau harus sabar Leria, aku harus pergi, sekarang. Banyak pekerjaan yang menantiku. " Ucap Gaston.
__ADS_1
" Tunggu! " Leria menghentikan Gaston untuk pergi.
" Ada apa? " Tanya Gaston.
" Yang mulia alergi makanan apa? " Tanya Eileria.
| Niat hati ingin membuatnya mati, tapi aku sadar dia keluarga kerajaan. Aku harus melindungi kepalaku sampai rencanaku selesai. | Pikir Eileria.
" Yang mulia alergi kacang. " Jawab Gaston.
" Kacang...? "
" Ya, gejalannya sesak nafas, pusing, batuk-batuk, pingsan. Bahkan bisa mengancam jiwa. Kau harus berhati-hati. " Ucap Gaston.
" Saya mengerti, terimakasih sudah memberitahu saya. " Ucap Eileria.
" Tidak masalah. Kalau begitu aku pergi. " Ucap Gaston.
" Silahkan. " Jawab Eileria.
Gaston pergi ke tempatnya semula, masakannya Eileria, dia kembali meneruskan masakannya.
...----------------...
Ruang tamu kerajaan.
Di ruangan tersebut, Ellios sedang bertemu dengan tamunya. Dia mengundang Lady, dari keluarga Marquess.
Yang di sebut sebagai tunangan masa kecil Callisto.
" Sungguh suatu kehormatan bagi saya, di undangan langsung oleh anda yang mulia raja Ellios. " Lady dengan rambut silver dan mata silvernya berbicara dengan anggun dan sopan.
Wanita cantik itu bernama Adelia Huber, putri pertama Marquess Huber.
Adelia Huber di kenal dengan kecantikan, dan juga kepintaran nya.
" Aku yang sangat senang dengan kedatangan mu, kau tidak menolak undanganku Adelia. " Ucap Ellios.
Seperti biasa, Ellios di dampingi oleh Gort.
" Mana berani saya menolak undangan dari anda yang mulia, apalagi mengenai putra anda. " Jawab Adelia.
" Hohoho....kau benar-benar masih mengingat anak itu. " Ucap Ellios dengan tawanya.
" Bagaimana mungkin, dia adalah tunangan saya. Bahkan anda menjanjikan kursi ratu kepada saya. " Adelia dengan berani mengatakan hal itu.
" ....Ya, kau benar. Maka dari itu, berusahalah untuk mengenal kembali Callisto. " Ucap Ellios.
Dia sama sekali tidak terganggu.
" Saya tidak akan menolak. " Jawab Adelia.
" Alangkah baiknya jika kau menjadi menantuku. Kau pintar, terpelajar, anggun dan cantik. " Ucap Ellios.
" Cepatlah, kau temui tunangan lamamu. Dan tebarkan pesonamu Adelia. Aku sangat berharap kau bisa mengambil lagi hati putraku. " Ucap Ellios mendukung.
" Kalau begitu saya akan menemui yang mulia Callisto. " Ucap Adelia.
" Silahkan. Gort antar putri Adelia menemui Callisto, saat ini dia pasti masih tertidur pulas di istananya. " Ucap Ellios di sertai perintah.
" Saya mengerti. " Jawab Gort.
__ADS_1
" Mari Lady, saya akan menuntun anda. " Ucap Gort sopan.
...----------------...