
Sementara Callisto merasa bingung dengan perasaan nya, Eileria justru mengerti dengan apa yang di rasakan Callisto.
" Apa anda tertarik kepada saya? " Tanya Eileria dengan memasang wajah dingin.
" .... " Callisto diam, dia tidak tahu harus berkata apa.
" Jawab saya yang mulia. " Sekali lagi Eileria menuntut jawaban.
" Aku tidak tahu. Ini hal pertama yang kurasakan. " Jawab Callisto tegas, namun ada sedikit keraguan.
Seseorang yang tidak pernah merasakan cinta dari siapapun, wajar baginya untuk bingung dan tidak mengerti.
Jatungnya yang berdebar debar entah sejak kapan, dirinya pun tidak tahu, sejak kapan gejolak itu mulai datang dan mengisi hatinya.
Alih-alih membalas dendam karena sudah membangunkan dirinya yang sedang tidur, Callisto malah memiliki perasaan kepada Eileria.
| Apa ini? Siapa yang bisa menjelaskan perasaan yang tidak nyaman ini? | Batin Callisto bertanya-tanya.
" Pergilah....." Tiba-tiba Callisto melepaskan tangannya dari bahu Eileria.
Eileria hanya terdiam melihat wajah Callisto yang tidak biasa. Wajah yang kebingungan, dan wajah yang tampak kesal.
" Tolong buka pintunya. Sihir anda memblokir pintu keluarnya. " Pinta Eileria.
Dengan perlahan menatap pintu keluar, Callisto mengangkat tangannya dan membuka pintu itu dengan sihirnya.
" Keluarlah......" Dengan suara layu Callisto berbicara.
Segera Eileria keluar dari kamar Callisto, dan masuk ke dalam kamarnya sendiri yang tepat di samping Callisto.
Sementara Callisto yang di tinggalkan sendiri, dia menutup kembali pintu kamarnya dengan sihirnya.
...----------------...
__ADS_1
Wanita itu pergi seperti kata perintahku, dia hanya menuruti perintahku. Sejak kapan perasaan yang memuakkan ini muncul dan tumbuh?
Ah....
Saat itu, awal mulanya....
Ketika aku mengingat dirinya pada malam ketika kami bertemu, dan saat di mana aku bangun dari tidur panjangku.
Aku sudah tertarik dengannya.
Wanita dengan pupil mata berwarna Violet seperti ruby, dan permata namun lebih indah.
Rambutnya yang tergerai panjang di bawah kegelapan yang menyelimuti ruangan. Meski begitu warna rambutnya yang pirang, tidak pernah pudar ditelan kegelapan.
Pada saat aku bangun wanita itu sudah muncul, dengan wajah bingung dan terlihat takut akan diriku yang muncul tiba-tiba dari peti mati.
Tapi aku tahu itu hanya kebohongan. Mereka yang takut akan diriku, tubuhnya pasti gemetar, pupil mata mereka bergetar seperti akan menangis.
Seolah mereka melihat monster, dan iblis. Wanita itu.....
Setelah sekian lama dalam kehidupanku ada sebuah mainan yang dapat ku mainkan. Awalnya aku berpikir seperti itu.
Aku mengancamnya dengan mengatakan akan membunuhnya karena sudah membangunkan ku, menjadikan dia pelayan pribadiku agar aku dapat bermain sesukanya, lalu mengikat dia sebagai tunanganku, baru setelah aku bosan bermain, pasti mainan itu akan ku buang sampai tidak dapat ku lihat kembali.
" Sialan, itulah yang aku pikirkan. Namun aku sudah terikat dengannya sampai-sampai sulit bagiku untuk melepaskan ikatan ini. " Aku bergumam dengan nada yang seolah mengejek diriku sendiri.
Ya, aku tidak bisa membuangnya. Dirinya yang berpura pura polos, tidak bisa melakukan apapun selain membersihkan ruangan, dan memasak meskipun masakannya sederhana.
Tapi aku tahu, dia menyembunyikan kehebatannya. Aku hanya menunggu agar dia menunjukkannya sendiri kepadaku.
Aku tidak ingin bertanya kenapa dia berbohong, kenapa dia menyembunyikan semuanya dan berpura-pura di depanku.
Aku takut, saat aku bertanya, dia akan pergi meninggalkanku. Yang bisa ku lakukan hanya mengeluarkan amarahku sebagai bahan pelampiasan atas kebohongan nya.
__ADS_1
Meski bawahanku mengatakan bahwa dia adalah penyusup yang akan membunuhku, atau yang akan merugikan kerajaan. Aku masih mengelaknya, dan menutup telinga.
Jika dia membuat kekacauan, maka aku yang akan menyelesaikannya secara diam-diam. Namun jika dia benar-benar penyusup dari kerajaan asing, atau dari musuhku yang memang ingin membunuhku, maka aku harus apa?
" Setelah merenung, sepetinya aku paham dengan perasaanku. Aku menyukainya, aku ingin dia berulah di sisiku, dan aku yang membereskan semua kekacauan yang dia buat. Aku tidak mau dia menjauh dariku, bukan semata dendam karena telah membangunkanku, melainkan rasa kesepian dan kebosananku telah terisi olehnya, dan aku tidak mau perasaan itu hilang seperti buih. "
" Aku jatuh cinta...
" Diriku yang keras ini, sungguh merasakan cinta. "
...----------------...
Kamar Eileria.
" Putri, apa anda belum tidur? " Eileria yang sudah ganti pakaiam, dia berjalan menuju ranjangnya dan mencari orang yang dia panggil.
Ketika itu, di dalam selimut milik Eileria, putri Fiona muncul.
" Mmm....Kakak? Kaka sudah pulang. " Tanya Fiona, dia mengucek matanya karena baru bangun.
" Tidurlah lagi, maaf saya membangunkan anda. " Ucap Eileria.
" Kakak, wajah kakak memerah. Apa kakak sakit? " Tanya Fiona.
Ketika pertanyaan itu muncul, wajah Eileria semakin memerah, di pikiran nya terbayang bagaimana Callisto mencium punggung tangannya dan menjilat lengannya lembut.
| Ughh.....Kenapa bayangan itu terus muncul? Apa ini efek karena sudah lama tidak berpacaran? | Batin Eileria bertanya-tanya.
" Ti-tidak, tidak. Saya baik-baik saja, mungkin saat di pesta tadi saya terlalu banyak minum. " Eileria berusaha menyembunyikan nya.
" Baiklah. Kakak, cepat tidur dan peluk aku. " Ucap Fiona, dia bahkan melebarkan tangannya.
Segera Eileria memeluk putri kecil yang malang itu dan tidur.
__ADS_1
...----------------...
BERSAMBUNG.......