Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam

Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam
CHAPTER 54


__ADS_3


Di suatu mansion terpencil yang sederhana, dan jarang di lalui orang-orang, kereta kuda sederhana berhenti, tidak lama kemudian turun dua orang laki-laki, satu mengenakan jubah putih yang sangat tertutup, dan yang satunya jubah hitam.


Setelah dua pria itu turun, terakhir perempuan dengan rambut hitam dan wajah tegas keluar, dia di bantu oleh kusirnya.


" Silahkan, yang mulia. " Ucap kusir itu sopan, dengan uluran tangan.


Perempuan dengan rambut hitam seperti gagak turun, dan berbicara sambil menatap mansion di depannya.


" Ini tempat yang cocok untuknya. " Perempuan dengan rambut hitam yang berbicara saat ini adalah Sabrina.


" Saya rasa begitu. " Pria yang menjawab Sabrina jelas Zenon, orang kepercayaan Sabrina.


" Apa anda merasa cocok tinggal di sini untuk sementara waktu? " Zenon bertanya pada pria dengan jubah putih misterius.


Pria itu hanya mengangguk, dan berjalan masuk ke mansion.


Melihat pria itu masuk, Sabrina dan Zenon pun mengikutinya.



.


.


.


Di dalam Mansion, tepat nya di ruangan yang tertutup.



Ketiganya duduk di masing-masing tempat, ketika keheningan berlangsung untuk beberapa menit, Zenon bawahan Sabrina mulai membuka pembicaraan pertama, dan memecah keheningan di sekitar.


" Apa anda kesulitan datang ke kemari yang mulia? " Tanya Zenon, dia menatap pria jubah putih.


Bukan nya menjawab, pria itu malah melirik ke kanan dan ke kiri, seperti mencari sesuatu.


" Yang mulia? " Zenon sekali lagi bertanya.


Pria itu berhenti melirik, dan menatap Zenon serius. Tidak lama setelah itu, pria itu menjawab pertanyaan Zenon.


" Tidak ada kesulitan apapun. Mudah untukku datang kemari. " Suaranya terdengar berat, seperti laki-laki sejati.


" Anda memang hebat Yang mulia, dan tolong perkenalkan, beliau adalah selir pertama kerajaan Eldorado, Yang mulia Sabrina. " Zenon dengan ramah memperkenalkan Sabrina.


" Ah. Jadi wanita yang berani memegang pipiku sembarangan adalah selir pertama. Anda harus bersyukur karena anda selir kerajaan Eldorado, jika bukan tangan anda mungkin akan hilang satu. " Pria itu tersenyum di bawah jubahnya dengan perkataan yang menakutkan.


Sabrina mengerutkan alisnya tidak suka dengan perkataan pertama dari mulut pria di depannya.


" Sungguh tidak terduga, seorang selir mau bekerja sama dengan raja kerajaan asing. Saya, Fallen Carwid Carvana, raja kerajaan Carvana. " Seperti yang dia katakan, dia adalah Fallen, raja kerajaan Carvan.



*Ilustrasi


Fallen membuka jubahnya, wajahnya yang menawan dan tegas tidak di sembunyikan lagi. Ketika Sabrina melihat ketampanan Fallen, dia untuk sementara terpukau.


" Suatu kehormatan, saya Sabrina. Saat anda memakai jubah putih, pesona anda sudah terasa, dan saya sudah menduga di balik jubah itu adalah wajah yang memukau dan indah. " Sabrina dengan bibir manisnya menyanjung Fallen.


Saat itu Fallen yang menarik sudut bibirnya sedikit seolah itu hal yang biasa.


" Aku datang ke sini untuk tujuan. Jadi hentikan basa basinya. " Ucap Fallen serius.

__ADS_1


" Baiklah. Anda ingin membunuh putra mahkota Callisto, benar bukan? " Tanya Sabrina.


Fallen mengangguk serius, lalu Zenon berbicara.


" Kita tahu, Callisto pria itu kuat, dan kejam. Meski dia tertidur dengan waktu yang cukup lama, dia masih saja sama, dan malah semakin kuat. " Zenon mengerutkan keningnya ketika membahas Callisto.


" Orang yang kuat pasti mempunyai kelemahan. " Ucap Fallen.


" Lalu, apa rencana kita? " Tanya Zenon.


" Aku sudah menaruh orang-orang di sekitarnya. Aku akan menggunakan nya. " Ucap Fallen.


Ketika Fallen mengatakan itu, Zenon dan Sabrina menaruh wajah penasaran, dan Sabrina pun bertanya.


" Siapa orang-orang itu? " Tanya Sabrina serius.


" Itu rahasia. Ada pepatah yang mengatakan jangan mengatakan rahasia kepada orang yang baru kita kenal. Coba saja cari tahu sendiri. " Ucap Fallen.


" Baiklah. Anda sepertinya masih tidak percaya pada kami. " Ucap Zenon.


Fallen hanya diam, dengan mata menyipit, namun dalam pikirkannya dia hanya memikirkan seseorang.


| Leria, sudah cukup. Kini kau harus kembali kepadaku. |Batin Fallen.


...----------------...


Langkah kaki cepat, hembusan nafas yang kasar, dan luapan kemarahan menjadi satu, serta tergambar di sosok Callisto yang saat ini tengah menyeret Eileria di lorong menuju kamarnya.


" Pelan-pelan! Ada apa dengan mu? " Eileria yang kesulitan menyamakan langkah kakinya dengan Callisto protes.


" Diam! Saat ini aku masih bersikap layaknya manusia bukan iblis. " Ucap Callisto.


Lorong istana terus di lewati, tidak sedikit pelayan yang menyaksikan bagaimana Callisto menyeret Eileria dengan wajah marahnya.


" Ada apa ini? " Kebetulan, Gort ajudan Raja Ellios menyaksikan hal itu dan bertanya kepada pelayan lain.


Saat para pelayan sadar yang bertanya adalah ajudan sekaligus penasihat Raja Eillios mereka pun membungkuk dan menjawab gugup.


" Sa-saya tidak tahu tuan. Tapi, yang mulia terlihat marah ketika membawa Yang mulia Eileria bersamanya. " Jawab Pelayan itu gugup.


Pelayan lain di belakang mengangguk setuju dengan jawaban temannya.


" Baiklah, kembali ke tempat kalian masing-masing. " Ucap Gort, dia membubarkan pelayan-pelayan itu.


Para pelayan pun kembali bekerja, dan Gort pun dengan wajah aneh berbicara dalam batinnya.


| Padahal kemarin mereka mengadakan pertunangan dengan penuh kebahagiaan seperti seseorang yang sudah sejak lama jatuh cinta. Tapi apa ini? Aku harus memberitahu yang mulia raja Ellios. | Batin Gort curiga.


.


.


.


Eileria di bawa masuk ke dalam kamar Callisto, dan Callisto dengan cepat menutup pintunya rapat-rapat.


' Brak! ' Pintu di tutup, dia bahkan menggunakan sihirnya untuk memblokir pintu.


" Apa yang anda inginkan sampai harus seperti ini? " Eileria dengan wajah waspada bertanya.


Callisto yang masih memegang tangan Eileria, dia tidak menjawab dan segera menyudutkan tubuh Eileria ke dinding.


' Duk,- Suara tabrakan.

__ADS_1


" Kenapa kau tidak menjalankan peranmu dengan baik? " Callisto bertanya dengan wajah serius.


" Saya sudah memerankan peran yang anda inginkan. Saya sudah berjalan seperti alur yang anda buat sendiri. Tunangan yang di cintai, tunangan yang jahat, tunangan yang di campakan, dan tunangan yang sebentar lagi akan di buang. " Eileria menjawab dengan tegas, dan sorot mata berani.


" Apa kau benar-benar berpikir untuk terus mengikuti alur? " Tanya Callisto.


" Ya, itu sudah ketentuan kontrak yang kita sepakati. Anda membawa saya sebagai perempuan romantis, saya akan melakukannya, begitu pun peran tunangan lainnya. " Jawab Eileria.


" Karena itu kau melawan kata-kataku tadi, dan berdebat dengan ku. Lalu, kau menghampiri pria lain untuk membalasku? " Ucap Callisto.


" Saya tidak menghampiri pria itu, apa maksud anda? " Tanya Eileeia heran, dan bingung.


| Apa yang dia inginkan. Kita hanya pasangan kontrak, bukan pasangan sesungguhnya. Seharusnya dia tidak bersikaf seperti ini. | Batin Eileria.


" Dari pada itu, bagian mana yang pria itu sentuh, hah? " Tanya Callisto, dia mulai menelusuri setiap tubuh Eileria.


" Hentikan! Yang mulia! " Teriak Eileria.


Callisto yang sudah mengelusi tubuh Eileria dia pun mengingat bagian mana yang di sentuh oleh Hersin.


" Tangan..." Callisto berlutut dan meraih tangan Eileria.


" Di sini dia menyentuhmu. " Callisto dengan lembut mencium punggung tangan Eileria.


" ....?! " Eileria kaget dengan kecupan hangat yang tiba-tiba itu.


Callisto yang masih di bawah, dia menatap ke Eileria dengan wajah serius yang seolah hanya ada Eileria seorang di matanya.


" Tidak cukup. " Ucap Callisto, setelah kata-katanya itu, hal yang tidak terbayang di pikiran Eileria terjadi.


Callisto dengan wajah nakalnya menatap punggung tangan Eileria, lalu lidahnya keluar dan dengan lembut menjilat punggung tangan Eileria.


" Mmmh...Apa,-


" Kenapa anda melakukan itu? "Eileria yang merasa geli bertanya dan menatap wajah pria yang ada di bawahnya.


" Aku tidak suka bau pria lain ada di tubuhmu. " Jawab Callisto.


Callisto yang sudah menjilat punggung tangan Eileria, dia pun mengakhirnya dengan mencium lembut punggung tangan Eileria.


" Hentikan yang mulia. Ini tidak seperti anda. " Ucap Eileria.


" Bangun, yang mulia. " Eileria meminta Callisto bangun, dia malu melihat Callisto dari atas.


Callisto bangun, lalu dia memeluk Eileria.


" Hah....


Callisto membenamkan wajahnya di leher Eileria, dan sesekali menghela nafas berat. Kemudian dia melanjutkan dengan suara yang terdengar kesal.


" Aku berusaha untuk tidak termakan emosi, dan kemarahan. Aku tidak tahu kenapa..


" Emosi yang meluap-luap, rasa kekalahan, dan rasa yang memenuhi perasaanku.


" Aku tidak tahu ini apa. Ketika aku melihat pria itu mendatangimu dan mencium punggung tanganmu, darahku mendidih pada tingkat tertentu, pembuluh darahku seakan meledak, dan aku ingin sekali menebas kepalanya saat itu juga. "


" Jika saja saat itu pedangku ada di sebelahku, aku pasti akan menerjang leher pria bajingan itu. Beraninya dia menginginkan milikku. " Callisto dengan suara marahnya mengadu pada Eileria.


Eileria hanya berpikir, kenapa lelaki yang bersembunyi di leher nya mengatakan hal itu. Padahal hubungan dia dengannya hanya sekedar kontrak yang sebentar lagi terputus.


" Anda tidak berhak seperti ini. Kita berdua hanya berada dalam hubungan kontrak. " Ucap Eileria.


" kontrak sialan apalah itu! Aku sangat ingin menghancurkannya. " Dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar Callisto bergumam.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2