
" Kemana kamu pergi? " Callisto bertanya-tanya seraya memijit keningnya.
...----------------...
Istana selir pertama.
Malam hari yang dingin di ruangan selir pertama. Ruangan yang kacau, benda-beda yang tidak pada posisinya, dan serpihan kaca yang berserakan di lantai.
Wanita rambut hitam, yang tidak lain Sabrina selir pertama, dia terduduk di lantai dengan wajah buruk seakan di penuhi dendam dan emosi.
Dia mengatakan omong kosong, umpatan, dan kekesalan yang dia rasakan.
" Semua rencanaku tidak ada yang berhasil! Mulai dari anak itu, dan Callisto pria sialan! " Sabrina dengan kedua tangan mengepal erat berbicara dengan nada kesal.
Sabrina jatuh kedalam lubang emosi yang terus melanda dirinya, dia terus berteriak meluapkan emosinya.
" Seiring berjalannya waktu Ellios tidak peduli padaku, dia hanya fokus pada putranya. Kenapa Callisto pria sialan itu tidak mati saja. "
" Memang apa bagusnya dia? Lahir dari rahim seorang pelayan, bisa-bisanya dia diakui sebagai putra mahkota! Jika saja.......
" Jika saja aku melahirkan seorang pangeran, maka hidupku akan jauh lebih baik di banding sekarang! " Sabrina terus berbicara meluapkan emosinya, dan rasa menyesalnya.
Dia benci Callisto, yang menghalangi jalannya menuju tempat duduk tertinggi, putrinya yang tidak bersalah pun dia benci karena terlahir sebagai perempuan.
Tidak ada yang salah dengan anak-anak, mereka tidak tahu apapun. Tapi bagi Sabrina putrinya harus di salahkan karena terlahir sebagai perempuan.
" Zenon! Zenon! Datanglah kemari! " Tiba-tiba dia berteriak memanggil nama seseorang.
' Sraakk,-Tak— Seorang pria meloncat dari luar jendela, dan mendarat tepat di depan Sabrina.
" Yang mulia, anda memanggil saya. " Dia dengan lutut di tekuk layaknya kesatria bertanya.
" Ze-zenon....
" Bunuh...
" Bunuh orang yang menghalangi semua rencanaku....Kau mengerti maksud ku kan? " Sabrina merangkak ke arah orang uang di panggil Zenon, dia memegang pakaiannya dan meremasnya erat, seraya memohon.
" Yang mulia saya tidak bisa membunuh orang lain, selain Callisto. " Pria itu menjawab permohonan Sabrina.
Pria dengan pakaian hitam, dengan rambut hitam berwajah datar dan sangar, di atas hidungnya di tandai dengan tahi lalat.
" Ya, bunuh Callisto..." Ucap Sabrina setuju.
" Akan sulit untuk sementara waktu, saya akan merencanakan nya sendiri. Kebetulan, raja kerajaan asing merencanakan hal yang sama, kami akan bersekutu. " Ucap Zenon.
" Siapa? Kerajaan mana itu? " Tanya Sabrina.
__ADS_1
" Sebelum itu, tolong bekerja sama lah dengan saya. Biarkan dia masuk ke kerajaan ini, sebagai orang anda, agar dia mudah bersekutu dengan kita. " Pinta Zenon.
" Jangan-jangan Raja kerajaan Carvana. Apa aku benar? " Tanya Sabrina.
" Benar, musuh bebuyutan Callisto. " Ucap Zenon sudah pasti.
" Ya, aku akan bekerja sama dengannya. " Ucap Sabrina sedikit tenang.
...----------------...
Halaman istana callisto.
Penjaga dan para kesatria saat ini mereka sibuk ke sana kemari mencari Eileria. Suasana menjadi tegang dan serius di sekitar istana Callisto.
Para penjaga saling bertanya-tanya dengan nada hati-hati.
" Sebenarnya, yang mulia putri pergi kemana, belum satu hari beliau bertunangan dengan yang mulia, putri sudah menghilang. " Prajurit yang tidak di ketahui namanya berbicara.
" Sepertinya rumor tentangnya memang benar. Putri sebenarnya tidak mencintai yang mulia putra mahkota, atau mungkin dia hanya ingin memanfaatkan yang mulia. " Balas temannya.
" Itu tidak mungkin.Yang mulia kan orang yang kejam, dan bengis, dia pasti tidak akan tertipu dengan tipu muslihat perempuan seperti itu. " Prajurit itu tidak percaya Callisto bisa di tipu.
Saat mereka berdua asik berbincang, tanpa sadar orang yang dia bicarakan ada di depan mereka.
" Itu tidak benar, saya sangat mencintai yang mulia. " Suara wanita yang familliar terdengar di telinga para prajurit.
Sektika mereka menengok ke arah sumber suara dengan tegang.
' Sruk-, Mereka segera berlutu, dan berbicara gugup.
" Sa-salam putri mahkota Eileria, salam putri Fiona, kami memberi hormat. " Ucap mereka gugup, dan takut.
Benar, orang itu adalah Eileria dan putri Fiona yang masih dalam gendongan Eileria.
" Ya, bedirilah. " Titah Eileria, dia pun tanpa berlama-lama melewati prajurit itu dan masuk ke istana.
" Ba-bagaimana ini? Apa leher kita akan selamat? " Para prajurit yang di tinggalkan di belakang bertanya-tanya.
Sementara itu, Eileria yang sudah masuk ke dalam istana, dia bergumam rendah.
" Apa Callisto marah? Tidak peduli jika dia marah, yang lebih penting dia tidak curiga. " Gumam Eileria.
" Kakak....." Putri Fiona tiba-tiba memanggil.
" Ada apa? " Tanya Eileria lembut.
" Apa aku tidak apa-apa, tidur di kamar kakak? " Tanya Fiona dengan nada lembut.
" Hmmm, tidak masalah. Tidurlah selama yang anda mau. " Jawab Eileria lembut.
__ADS_1
" Dari mana saja kamu?! " Suara tegas, cemas, dan khawatir terdengar di belakang Eileria.
Eileria berbalik, dia sudah tahu siapa pemilik suara yang tegas itu.
" Yang mulia..?! " Panggil Eileria.
Callisto dengan langkah kaki cepat, segera menghampiri Eileria dan dia memegang kedua pundak Eileria dengan tangan gemetar.
" Kemana saja kamu! Apa kamu tahu aku mencari kemana-mana?!! " Callisto dengan nada tinggi.
" Saya keluar bermain bersama putri Fiona. " Jawab Eileria bingung.
" Haaa......Apa kau mengatakan kebenaran? " Tanya Callisto.
" Y-ya..." Jawab Eileria sedikit gugup.
Kegugupan Eileria membuat Callisto mengerutkan alisnya curiga.
" Apa kamu mau tahu apa hal yang paling aku benci selain dari pengkhianatan? " Tanya Callisti wajahnya lebih dingin dan telihat sedang menahan amarah.
" Ya? Apa? " Eileria semakin gugup.
" ......Kebohongan. Aku benci itu....
Callisto diam sebentar, tangan kanannya terulur ke arah rambut Eileria yang menghalangi wajahnya, dia merapikan rambut Eileria lembut, lalu melanjutkan perkataannya.
" Jadi, jangan pernah berbohong kepadaku Eileria. Jika kamu ingin berbohong, buat aku mencintaimu lebih, dan gila karenamu. Mungkin saja aku akan mengampunimu. " Dengan kata-kata yang ambigu, Callisto berbicara dingin.
Eileria terdiam, bulu-bulu halus di punggung nya terasa berdiri dingin. Untuk sesaat, Eileria tidak mengerti, tapi dia tahu apa artinya jika dia berbohong.
" Saya mengerti......" Jawab Eileria.
| Dia sangat menakutkan hari ini. Jika dia tahu apa yang aku lakukan. Mungkin hidupku tida akan selamat. Dari pada itu, kenapa dia berkata seperti itu? Seakan dia suka, padaku? Mana mungkin. | Batin Eileria.
" Anda, sebaiknya anda kembali, saya akan membawa putri Fiona tidur. Lihat, dia sudah tertidur. " Eileria memperlihatkan putri kecil itu pada Callisto.
Callisto memegang pelipisnya, lalu dia pun menjawab.
" Baiklah. Besok, kita berdua akan pergi menghadiri pesta. Jangan lupa peranmu. " Tegas Callisto.
" Pesta? Ahh, saya paham. " Jawab Eileria, entah kenapa dia merasa canggung.
" Apa kau tahu, siapa ibunya? " Tanya Callisto.
" Selir pertama Sabrina. " Jawab Eileria.
" Rupanya kau tahu, istirahatlah. " Ucap Callisto.
" Baik..." Eileria pergi dengan canggung meninggalkan Callisti di belakang.
__ADS_1
...----------------...