
| Aku mendengar kata tunangan? Apa Leria akan bertunangan dengan Putra mahkota Eldorado? | Hans dalan batinnya.
" Apa aku tidak salah dengar? Apa Leria akan tunangan dengan pria itu? " Tanya Hans serius.
" Aku pun tidak mengerti kenapa bisa jadi seperti ini.....Kita akan bertanya langsung kepada Leria nanti. " Bisik Alvin.
| Jangan sampai Leria jatuh terlalu dalam. | Batin Alvin.
Hylos dan Eileria pun pergi dari taman itu menuju pintu keluar istana. Tidak lama setelah mereka berdua pergi, Alvin dan Hans keluar dari semak-semak dan melanjutkan penyusupannya.
" Ayo cepat, kita ini penyusup. Bukan tamu! " Ucap Alvin seraya mengendap-ngendap.
" Aku tahu! " Jawab Hans.
Mereka berdua menyusup ke seluruh ruangan yang tidak ada penjagaan sesuai isi peta yang telah Eileria buat.
Ruangan, dan lorong mereka lewati, hingga sampailah di pintu ke satu menuju ruangan batu sihir.
" Jika melihat peta ini, ada 3 pintu yang harus kita lewati. Ini pintu pertama. " Ucap Alvin seraya melihat peta di tangannya.
" Seperti yang kau bicarakan, pintu pertama tidak di jaga oleh penjaga istana. " Ucap Hans dengan mata yang tertuju pada pintu besar berwarna emas di depannya.
" Ngomong-ngomong, jika kita congkel sedikit saja pintu emas ini, apakah akan ketahuan? " Tanya Alvin yang berbinar melihat pintu emas di depannya.
" Untuk apa kau mencongkel nya? " Tanya Hans dengan wajah mengerut bingung.
" Untuk menambah modal kedaiku...." Jawab Alvin yang masih menatap pintu di depannya.
" Apa kau benar-benar miskin di sini? " Tanya Hans.
" Kau tidak tahu seberapa sulitnya aku dan Leria tinggal di sini. Uang yang kita bawa tidak berguna di sini, jelas jika kita menggunakannya pasti akan langsung tertangkap. " Jelas Alvin dengan mata yang masih menatap pintu emas.
" Benar juga. Tunggu apa lagi, cepat kita masuk. Kau tidak bisa mencongkelnya tanpa adanya persiapan. " Ucap Hans.
" Aku tahu, nanti saja ku congkel pintu nya. " Ucap Alvin.
Mereka berdua membuka pintu itu tanpa adanya halangan.
...----------------...
Kembali ke ruangan Callisto.
Callisto yang masih di ruangannya, dia memeriksa beberapa dokumen. Namun, saat dia akan membaca dokumen lainnya, dia teringat akan satu hal.
" ...Sudah lama aku tidak melihat batu sihir. Apa aku melihatnya sekarang. " Gumam Callisto.
Jimmy yang masih bersama Callisto, dia pun bertanya.
" Apa anda ingin melihat batu sihir? " Tanya Jimmy.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Callisto malah berdiri dan meninggalkan tanpa sepatah kata pun.
| Jika dia tidak menjawab, itu pasti benar. | Pikir Jimmy, seraya mengikuti tuannya dari belakang.
...----------------...
Sementara itu.....
Alvin, dan Hans yang sudah melewati pintu pertama, saat keduanya masuk. Di dalam tidak ada siapapun hanya ruangan bernuansa klasik, dan beberapa Furniture.
" Tidak ada siapapun di sini? " Hans Bergumam rendah.
" Itu bagus..." Ucap Alvin seraya berjalan menuju pintu yang tidak jauh.
" Tunggu, apa kau yakin di dalam sana tidak ada yang menunggu kita? Ini terlalu mudah..." Ucap Hans ragu.
Mendengar keraguan sang kakak Alvin pun melakukan sesuatu.
" Kalau begitu, bagaimana jika kita melihat keadaan di dalam lewat beberapa celah yang ada di pintu. " Ucap Alvin.
" Celah? Apakah ada? " Tanya Hans serius.
" Pintu ini begitu besar dan tidak memiliki celah. " Ucap Hans.
Alvin tidak tidak menjawab, makanya dia pergi menuju meja yang ada di ruangan itu.
Hans yang lihatnya bingung, dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh adiknya.
Kemudian Alvin naik, dan menemukan celah berukuran kecil di tengah pintu walau sangat kecil, namun celah tetaplah celah.
" Celahnya kecil, tapi aku dapat melihat pintu ketiga yang berada di dalam. Sepertinya tidak ada siapapun di dalam. " Ucap Alvin yangmelihat ruangan dalam lewat celah kecil yang ada di pintu.
" Apa kau yakin?...." Tanya Hans.
" Kalau masih ragu kita pakai penutup kepala saja, untuk berjaga-jaga. " Ucapan Alvin seraya mengeluarkan penutup kepala dari ranselnya.
Mereka pun memakainya, kemudian Alvin dengan cepat memegang gagang pintu, dan membukanya.
Saat pintu terbuka nampak jelas dengan mata mereka masing-masing.
" Tidak ada siapapun? " Ucapan Hans yang melihat sekeliling.
" Ruangan ini kosong tidak ada siapapun..." Ucap Hans seperti tida percaya.
" Aku sudah bilang tidak ada siapapun " Ucap Alvin.
" Jadi di dalam pintu ini batu sihir itu berada? " Tanya Hans matanya menatap pintu lebar di depannya.
" Ya. Ini pintunya tidak ada penjagaan di sini. " Ucap Alvin.
__ADS_1
" Kalau begitu kita harus mencoba membubuhkannya. " Ucap Hans.
" Tidak kak, Leria belum mengatakan apapun tentang pintu ini untuk sekarang. Waktu itu pintu ini memang sulit terbuka, dan suasananya masih sama seperti ini. Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita memaksa untuk membukanya. Siapa tahu ada jebakan. " Jelas Alvin melarang kakaknya membuka pintu terakhir menuju Batu sihir.
" Lalu...Untuk apa kita datang ke sini? jika kita tidak mencobanya. " Ucap Hans.
| Resiko adanya jebakan memang tinggi. Mana mungkin benda sihir yang di incar oleh kerajaan musuh di simpan tanpa adanya penjagaan. | Pikir Hans.
" Ayo kita coba Alvin. Kita tidak tahu sebelum kita mencobanya. " Ucap Hans.
Alvin terdiam sejenak, lalu dia menjawab.
" Baiklah, mari kita coba. Jika sesuatu terjadi, kita harus keluar secepatnya. " Ucap Alvin.
Mereka pun memegang gagang pintu terakhir menuju batu sihir, dan mendorongnya.
" ....Tidak bisa..." Ucap Hans dan Alvin bersamaan.
Benar, mereka mencoba mendorong pintu itu agar terbuka, akan tetapi pintu itu terkunci.
" Sekali lagi..." Ucap Alvin seraya mendorong pintu itu kuat.
" Tidak bisa....Bahkan pintu ini tidak bergeming sedikitpun. " Ucap Hans.
Mereka masih memegang gagang pintu, saat mereka melepaskan gagang pintu itu, tiba-tiba suara sirine terdengar sangat keras.
' Niuuuuuungggggggg......
' Niuuuuuuuunggggg..'
Suara itu terdengar sangat keras, mereka berdua panik.
" Apa ini? Kenapa suara sirine ini keluar tiba-tiba. " Alvin bertanya-tanya panik.
" Jangan bicara omong kosong, lebih baik kita keluar sekarang dari sini. " Ucap Hans dengan cepat menarik Alvin untuk melarikan diri.
...----------------...
Suara sirine yang berasal dari ruangan batu sihir terdengar nyaring, hingga Raja dan seluruh isi istana mendengarnya.
" Sirine ini? " Jimmy terdiam dengan wajah mengerut memastikan.
" Ini sirine penyusup yang baru di buat oleh Kaleid. " Ucap Callisto.
| Ternyata benar, ada kecoa di istana. Haruskah aku bersenang-senang sekarang. | Pikir Callisto.
" Siapkan prajurit istana, sisanya aku yang urus. " Ucap Callisto seraya pergi dengan pedang di tangannya.
" Saya mengerti." Ucap Jimmy, dia pun pergi.
__ADS_1
...----------------...
BERSAMBUNG.