
Malam hari setelah pertunangan Eileria.
Para pelayan membawa Eileria ke kamarnya, mereka melayani Eileria layaknya tunangan putra mahkota.
" Ya ampun, Yang mulia. Kulit anda benar-benar lembut. " Pelayan wanita bernama Anne memuji tubuh Eileria.
" Terima kasih Anne. " Ucap Eileria.
Mereka saat ini sedang memandikan Eileria, ada 4 pelayan yang melayani Eileria.
Anne, Merry, Hesti, dan Loili.
Merry teman dekat Eileria saat dia menjadi pelayan. Sedangkan 3 lainnya, mereka pelayan baru.
" Saya benar-benar tidak menduga, anda akan menjadi tunangan putra mahkota. Saya sekarang memanggil anda dengan sebutan Yang mulia putri mahkota, itu sungguh luar biasa. " Merry yang sibuk dengan rambut Eileria, dia berbicara takjub.
" Yah, aku sendiri pun tidak menyangka. " Ucap Eileria tenang.
" Apa yang membuat yang mulia begitu tertarik dengan anda? " Loili bertanya.
" Aku tidak tahu...." Jawab Eileria.
" Mungkin senyum anda begitu manis. " Ucap Loili dengan senyum ramah di bibirnya.
" Itu karena Lady sangat pintar dan kuat. " Hesti yang kaku berbicara.
" Mana mungkin, entahlah aku tidak tahu apa yang dia lihat dariku. " Gumam Eileria.
| Kalau kalian tahu apa alasannya, kalian pasti akan terkejut. | Batin Eileria, dia sendiri tahu apa yang menjadi alasan dari pertunangan ini.
...----------------...
Sementara saat ini, Callisto sedang rapat dengan orang kepercayaannya. Mereka membahasa penyusup yang masuk waktu itu.
" Kalein, bagaimana dengan tugasmu? " Tanya Callisto.
Lelaki dengan rambut panjang putih, memakai kacamata, berdiri dan menjawab.
" Kedai di ibu kota tempat persembunyian penyusup itu Yang mulia. " Jawaban yabg sudah di duga oleh Callisto keluar dari mulut Kalein.
" Jadi benar itu tempatnya. " Gumam Hylos serius.
" Aku sudah menduga itu, instingku tidak mungkin salah. Mulai dari panah yang berlambang sama dengan kedai itu dan penyusup yang mudah masuk begitu saja ke dalam istana. " Callisto menyeringai seram.
" Lalu? Apalagi? " Tanya Callisto.
" Ansel bisa menjelaskan lebih jelas dari saya. " Jawab Kalein.
" Ansel, jawab cepat! " Tanya Callisto tidak sabar.
Ansel anak laki-laki yang berwajah datar itu menjawab.
" Hmmm, mereka seperti badut di depanku...." Ansel dengan senyum kematiannya menjawab.
Callisto mengerutkan wajahnya, dan kembali bertanya.
__ADS_1
" Jawablah dengan benar jika tidak lidahmu akan ku potong! " Teriak Callisto kesal.
" Ansel, cepat! Aku tidak mau melihat darah. " Bisik Jimmy.
" Iya, iya. Mereka mengincar batu sihir cukup lama, aku melihat lambang kerajaan Carvana di kedai itu, dan mereka memiliki ruang tersembunyi di bawah tanah. Kami tidak bisa masuk karena ruangan itu cukup rumit. " Jawab Ansel.
" Mau lanjutan? Tapi lanjutannya tidak ada...heheh." Ansel tersenyum sinis.
" Hanya itu? " Tanya Callisto.
" Lalu apa lagi, haruskah saya membawa kepala kedua orang itu? " Tanya Ansel dengan mata berkilat seram.
" Ansel..! Kau tidak patuh! " Teriak Callisto sembari menghunuskan pedang ke arah Ansel.
" Wow! Tenanglah yang mulia, saya hanya bercanda. " Ucap Ansel.
" Seret anak itu dan cambuk 30 cambukan! Sekarang! " Teriak Callisto menyuruh prajurit menghukum Ansel.
" Saya jadinya di hukumkan...." Ucap Ansel yang masih bisa tersenyum.
" Anak itu memang lumayan gila. " Ucap Kaleid.
" Ya, itu sudah biasa. " Jimmy pun berkomentar.
" Yang mulia, sepertinya anda harus pergi ke kamar tunangan anda, itu supaya raja tidak curiga. " Tiba-tiba Hylos berbicara tentang tunangan Callisto.
" Baiklah, untuk sekarang awasi mereka dan pastikan kita menangkap yang lainnya. " Titah Callisto.
" Saya mengerti. " Jawab mereka.
...----------------...
Kamar Eileria.
" Yang mulia, anda boleh tidur sekarang. Jika anda membutuhkan sesuatu anda bisa menarik tali ini, atau membunyikan lonceng. " Ucap Merry sembari menunjukkan tali dan satu lonceng emas.
Eileria yang sudah mengenakan piyama, dia pun menjawab.
" Aku mengerti Merry, terima kasih sudah melayaniku dengan baik. " Jawab Eileria dengan senyum merekah.
" Anda tidak perlu sungkan yang mulia itu sudah kewajiban saya melayani anda. Jika tidak ada yang di butuhkan saya pamit pergi, yang mulia. " Jawab Merry ramah, dan sopan.
" Ahh, aku lupa. Apa tas ku sudah di bawa ke sini? " Tanya Eileria.
" Sudah, ada di sebelah sana. " Jawab Merry seraya menunjukkan di mana letak tas yang di maksud Eileria.
" Baiklah Merry kau boleh pergi. " Jawab Eileria.
Merry pun pergi, dan menutup pintu perlahan. Setelah Merry pergi, kini hanya tersisa Eileria di kamar yang sangat besar dan mewah itu. Eileria pun berdiri dari duduknya, dan berjalan ke arah tas yang tersimpan dekat dengan lemari.
" Untung aku membawa ini, jadi akan mudah keluar dari sini tanpa ketahuan. " Gumam Eileria sembari membuka tas, dan mengeluarkan jubah merah.
Eileria memakai jubah mereh panjang yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya saja.
__ADS_1
Setelah itu, dia menuju ke jendela yang tertutup gorden putih, Eileria membuka jendela itu dan menatap ke bawah sambil mengatakan.
" Tunangan ku tidak akan mampir, kan? Jika tidak, aku harus menemui Alvin sekarang. " Gumam Eileria yang menatap jauh ke bawah dari jendela.
" Ini lantai 4, tidak terlalu tinggi. " Sekali lagi Eileria bergumam.
Eileria berencana meloncat dari jendela untuk keluar dan menemui Alvin. Sudah berapa lama Eileria tidak menemui Alvin, dia ingin membicarakan soal rencana dan tunangan yang tiba-tiba dia lakukan.
" Baiklah, mari lihat sekeliling.....Hmmm? Siapa anak kecil itu? " Saat Eileria mengawasi suasana istana dari atas jendela, dia melihat anak kecil.
...----------------...
Dibawah jendela telat Eileria melihat anak kecil.
" Ughh....hikss—
" Sa-sakit...." Isak tangis anak kecil yang seolah sedang menahan sakit.
" Ibu, kenapa ibu tidak menyukaiku? Apa salahku? " Tangisan dan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar putus asa.
" Apa seharusnya aku tidak lahir saja? Lalu kenapa ibu melahirkanku jika dia tidak menyayangi ku dan menginginkanku?....." Anak kecil berambut putih perak itu terus bertanya sendu, tanpa jawaban.
Eileria yang memandang dari atas jendela dia pun merasa iba, dan segera turun dari atas menghampiri anak yang tengah menangis itu.
' Tap..... ' Eileria turun dan mendarat dengan sempurna di depan anak yang sedang menangis.
" Si-siapa?...." Anak itu nampak tidak terkejut, dia bahkan menatap Eileria takjub.
Jubah merah Eileria berkibar di tengah hembusan angin malam yang ringan, matanya yang ungu berkilau seperti kristal, tatapan matanya serius, namun menenangkan.
Itulah yang di lihat anak itu.
" Hei nak, kenapa menangis? " Tanya Eileria seraya berjongkok.
" Emmm.....Sa-saya...
" Ibunda tidak menginginkan saya....Saya tidak mengerti kenapa. " Jawab anak itu gugup.
" Siapa ibunda yang kau maksud? " Tanya Eileria.
" Ibunda.....Sa-sabrina...itu nama ibunda yang saya tahu dari pengasuh. " Jawab anak itu ragu.
Ketika mendengar itu, Eileria langsung mengerti, dalam batinnya Eileria berkata.
| Ahh....dia rupanya putri Fiona. Aku tahu bagaimana dia hidup, sudah jelas putri ini bernasib malang. Sabrina tidak menginginkan nya karena dia bukan laki-laki. Yang terparah, sepertinya Calllisto tidak akan membiarkannya hidup. | Batin Eileria.
" Kau terluka...." Eileria menyadari seluruh badannya di penuhi memar.
" Ini...bukan apa-apa. " Jawab Putri Fiona malu.
" Apa kau ingin ikut denganku? " Tanya Eileria.
" Kemana? " Tanya Fiona penasaran.
...----------------...
__ADS_1