
" Ketempat yang menyenangkan, aku akan memberimu makanan enak, dan bermain denganmu semalaman ini. " Ucap Eileria ceria.
Eileria berusaha menghibur Fiona agar dia tidak sedih dan tidak merasa di inginkan.
" Anu—
" Kakak siapa? " Tanya Fiona gugup.
" Hmm....aku? " Tanya Eileria.
Fiona mengangguk lucu.
" Baiklah, aku akan memberi tahumu. Aku adalah Leria, tunangan yang mulia putra mahkota Callisto. Tapi ini rahasia di antara kita berdua. " Ucap Eileria dengan senyum ramahnya.
" Saya tidak tahu siapa Cal...Calito. Tapi saya akan menjaga rahasia anda...." Jawab Fiona girang.
" Kalau begitu, apa kau mau ikut denganku? " Tanya Eileria sekali lagi.
" Kakak baik!....saya akan ikut." Jawab Fiona dan dia dengan hangat menggenggam tangan Eileria.
Eileria cukup terkejut, dia merasakan kehangatan dari tangan Fiona. Seolah dia memiliki adik perempuan, Eileria dalam batinnya bertekad.
| Akan lebih baik jika seseorang menggenggam tangannya seperti ini. Anak sekecil dia memang seharusnya mendapat kasih sayang yang hangat dari orang tuanya, bukan terombang-ambing dalam perebutan tahtah yang membuat dia bingung dan frustasi. Mulai sekarang aku akan memperhatikamu. | Batin Eileria.
" Ayo, kita harus cepat sebelum tertangkap. " Ucap Eileria seraya menggendong Fiona.
" Em.." Fiona mengangguk patuh dan melingkari tangannya di leher Eileria.
__ADS_1
Mereka berdua pun pergi sesuai tujuan yang di tentukan oleh Eileria.
...----------------...
Sementara itu Adelia yang kalah hanya dengan kata-kata kecil Eileria, dia menangis di kamarnya.
" Kenapa Callisto tidak ingat? Dia bahkan ingin memotong tanganku. Kenapa? " Adelia menangis di depan cermin sambil bertanya mengapa Callisto tidak ingat akan dirinya, dan malah ingin memotong tangannya.
Dalam kesunyian malam itu, Adelia berpikir apakah dia benar-benar harus menyerah. Atau tidak.
Lalu saat pikiran-pikiran Adelia di penuhi oleh Callisto, tiba-tiba dia melirik satu surat yang di kirim dari ayahnya.
Seketika pikiran tentang Callisto buyar, Adelia mengambil surat itu, lalu kemudian membacanya.
' Adelia, ayah tidak tahu kau akan keras kepala seperti ini. Ayah tidak pernah menentang permintaan apapun.
Adelia, pulanglah ayah tidak mau kau menderita hanya karena cinta. Menjadi orang yang tidak di cintai oleh pasangan hidupmu sangat menyakitkan Adelia.
Carilah yang benar-benar mencintai mu, ayah tidak peduli mau itu bangsawan, anak tukang daging, pengemis atau apapun. Carilah yang tulus mencintai mu, dan rela bersamamu dalam keadaan apapun.
Kumohon kembali lah Adelia, sebelum kau menyesal. '
Surat itu di kirim dari ayahnya Adelia, dia ingin putrinya kembali sebelum menyesal pada akhirnya.
Adelia yang membaca surat dari ayahnya, dia pun terdiam sementara waktu, dan menatap lagi sosoknya di cermin.
" ..... "
__ADS_1
" Ayah.....sepertinya kau benar....dia bahkan ingin memotong tangan putrimu yang cantik, yang selama ini di rawat oleh uang yang ayah berikan. Mana mungkin aku rela hidup dengan lelaki seperti itu. " Pada akhirnya Adelia berbicara, dia mengatakan tidak rela hidup dengan lelaki seperti Callisto.
Itu artinya dia akan menyerah.
" Sudahi ini, aku harus mencari lelaki yang bisa menjaga wanitanya, bukan lelaki yang tidak mencintaiku dan ingin memotong tanganku sembarangan. " Ucap Adelia, sembari mengusap air mata yang tadinya membasahi pipi.
Itu jauh lebih baik, Adelia menyerah akan cintanya dari pada dia menderita dengan orang yang bahkan tidak sudi di pegang olehnya.
...----------------...
Di sisi lain, Callisto yang berjalan dengan piyama nya menuju ke kamar Eileria, dia tidak mengetahui bahwa tunangannya itu tidak ada di kamarnya.
" Yang mulia, anda ingin tidur dengan Pelayan itu? " Tanya Hylos, dia mengikuti Callisto.
" Iya, apa tidak boleh? Panggil dia putri! sekarang dia tunanganku. " Jawab Callisto ketus dengan peringatan.
" Baiklah, tapi soal tidur....Apa anda yakin? Andakan bukan menikah, hanya tunangan kontrak saja. " Ucap Hylos.
" Di kerajaan kan sudah tidak asing dengan hal itu, mau tunangan, atau tidak, mau menikah atau tidak, mau berpacaran atau tidak....hal itu di lakukan begitu saja kan. Apalagi untuk Raja, contoh saja ayahku. " Ucap Callisto ketus.
" Ituu....Tapi... Putri tidak mungkin mau. " Ucap Hylos.
" Tenanglah Hylos...Aku tidak akan melakukan apapun jika dia tidak mau. Lagi pula rasanya....." Callisto tiba-tiba berhenti berbicara, dia pun mulai mengingat rasa bibir Eileria tempo hari.
| Euh...sial....rasanya....tidak buruk, malah sebaliknya. | Batin Callisto.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG.....