
Kedai di ibu kota kerajaan Eldorado.
Kedai hari ini tutup, karena insiden Callisto si pria kejam. Entah kenapa dia membunuh para pembeli yang ada di kedai.
" Seharusnya aku tidak menyia-nyiakan waktu, dan berdiam diri saja..." Aku bergumam karena memikirkan hal yang sudah terlanjur terjadi.
Sebenarnya ada hal yang harus aku urus di kedai ini. Kedai ini bukan sembarang kedai...
Dari luar memang seperti kedai biasa, tapi sebenarnya kedai ini menyimpan rahasia.
Ya, rahasia yang sudah di simpan cukup lama.
| Seharusnya Alvin tidak ada di kedai. | Pikirku.
Saat ini aku sedang berjalan menunju ruangan belakang. Ruangan belakang yang dulu pernah aku lewati untuk melarikan diri dari Callisto.
Ruangan ini memang kecil, tapi di balik lantai yang terbuat dari kayu ini, tersembunyi ruangan rahasia.
" Haruskah aku melakukannya hari ini? Jika bukan sekarang lalu kapan lagi? Lagi pula Callisto saat ini tidak mungkin memanggilku. Karena dirinya sedang sibuk mengatur tunangan masa kecilnya. "Gumamku pelan.
Mataku mulai beralih.
Saat itu aku tertuju pada karpet abu-abu yang berada di bawahku.
Benar sekali, jalan menuju ruangan rahasia tertutup karpet dan kayu. Aku menyingkirkan karpet tersebut, kemudian membuka kayu yang menghalangi jalan menuju ruangan yang ku maksud.
Setelah kayu itu di buka, maka nampaklah sebuah tangga. Tangga itu adalah jalan satu-satunya menuju ruangan yang kumaksud.
Lucu sekali bukan, ada sebuah jendela, padahal ruangan ini berada di bawah tanah.
" Entah apa yang di pikirkan pemilik sebelumnya. " Gumamku, seraya menuruni tangga satu persatu.
Setelah menuruni tangga yang berkelok-kelok, akhirnya aku sampai di ruangan yang ku maksud.
Ruangan yang berada di bawah tanah ini terbilang cukup luas dan mewah. Lebih terlihat seperti mansion di bawah tanah.
Mansion yang berada di bawah tanah, awalanya Alvin dan aku tidak menduga akan mendapat tempat seperti ini.
Kami mengira hanya rumah kayu biasa, tapi nyatanya tidak.
" Mungkin yang mulia tahu apa selera anak kecil yang nakal seperti kami...." Gumamku.
Aku berjalan lagi, menuju pintu ruangan khusus milikku.
" Terkadang aku bingung, kenapa rumahku banyak sekali......" Gumamku.
Sekarang aku tepat di depan pintu ruanganku, dan aku memegang gagang pintu yang sudah berdebu, hal yang wajar, karena tempat ini jarang aku masuki.
' Ceklek...' Pintu terbuka.
__ADS_1
" Gelap......" Ucapku masih berdiam diri.
Saat aku membuka pintu, penampakan ruangan ku sangat gelap, dan jelas berdebu. Segera aku menyalakan lilin sebagai penerangan.
Baru setelah itu terlihat jelas bagaimana ruanganku yang sudah lama terbengkalai. Banyak debu, sarang laba-laba, dan rayap.
Tentu, karena banyak sekali kertas.
" Aku seharusnya tidak menyimpan kertas ini sembarangan.....Tapi untungnya tidak semua di makan rayap. " Aku berbicara sembari mengambil kertas-kertas yang berada di atas meja.
Untungnya, kertas yang berisikan informasi penting itu tidak semua di makan rayap.
Sekarang aku harus fokus memikirkan cara agar bisa bertahan lebih lama lagi di sini.
' Kretek.....!
Saat aku bergumam sembari melihat kertas-kertas. Suara tiba-tiba terdengar, segera aku menoleh ke belakang dengan mata menyipit.
" Siapa? " Tegurku serius.
| Siapa yang masuk? Tikus? | Pikirku.
Aku berjalan ke arah luar ruanganku, untuk memastikan.
" Siapa sebenarnya?......" Saat aku bergumam, tiba-tiba.....
" Leria! " Seseorang mengagetkan ku dari belakang.
Suara itu milik lelaki yang kemarin babak belur oleh Callisto, siapa lagi jika bukan Alvin.
" Kau! " Ucapku sedikit kesal.
Alvin tanpa basa-basi melangkah masuk ke dalam ruangan ku, dan dia duduk di kursi dengan wajah yang sedikit serius.
" Kau sudah pulih? " Tanyaku.
Aku berdiri di depannya, dan bertanya lagi.
" Apa kau benar-benar sudah pulih? " Tanyaku sekali lagi.
Alvin pun mulai membuka mulutnya.
" Ya, itu hanya tinjuan yang kecil, dan goresan kecil. Tidak mungkin aku terbaring lama..." Ucap Alvin.
" Bagus...." Ucapku tegas.
" Bagaimana kau tahu aku berada di sini? " Tanya ku penasaran.
" Kau ceroboh!...." Mata Alvin sedikit menyipit.
" Ah...pintu masuk ruang bawah tanah. Aku lupa menutupnya. " Aku sadar, pintu menuju ruang bawah tanah tidak ku tutup.
" Kau menyadarinya...
" Tadinya aku hanya ingin melihat-lihat kedai, apakah bau darah dan sisa-sisa kemarin masih membekas. Tapi melihat pintu masuk ruang bawah tanah terbuka, aku langsung turun untuk mengeceknya, aku takut ada orang lain yang masuk selain kita. " Alvin menjelaskan kenapa dia masuk ke ruang bawah tanah.
" Lalu.....
__ADS_1
Alvin mulai serius kembali, dia menatapku lekat.
" Apa kau yakin, akan memulai rencana itu lagi? " Tanya Alvin penasaran dengan ekspresi seriusnya.
Aku terdiam sejenak merasa ragu.
" Jika tidak? Perjuangan kita sia-sia di sini. Kau tahu sejak kecil kita sudah berjuang, sampai harus mengorbankan masa kecil kita. " Ucapku.
" Aku tahu, kau harus menjadi anak dari orang tua yang menjijikan, dan aku harus menjadi pemilik kedai yang terkenal di ibu kota. " Ucap Alvin.
" Yang mulia meminta kita untuk tidak hidup seperti bangsawan, dia meminta kita untuk hidup layaknya rakyat biasa, agar tidak terlalu mencolok. Sialnya aku di adopsi oleh orang tua yang menjijikan. Pemabuk, dan pelacur..." Gumamku.
" Dan mempunyai banyak hutang. " Alvin menambahkan.
" Memiliki banyak uang pun tidak ada gunanya jika aku masih terdampar di sini. Mereka menggunakan koin emas, sedangkan kita, uang kertas. " Aku terus berbicara sampai lupa dengan tujuanku.
" Berhenti bicara, aku harus menyiapkan rencana yang lebih matang. " Ucapku.
Aku mengambil belati, lilin, dan juga kertas yang bergambar peta.
" Apa itu? " Alvin berdiri, dan bertanya.
" Peta..." Jawabku.
" Hmmm.....apa ini peta ruangan istana? " Tanya Alvin sekali lagi.
" Ya, sebelumnya aku pernah ke istana...itu sudah lama sekali, tepatnya ketika aku berusia 10tahun. " Jawabku.
" Ahhh, yang waktu itu....Kau kembali dengan luka yang ada di punggungmu..." Ucap Alvin, dia mengingat sesuatu.
" Dan luka itu masih ada sampai sekarang. " Ucapku.
Aku kembali melihat peta yang sudah ku gambar sejak dulu, untuk memastikan apakah ada yang berubah.
" ......Setelah aku telusuri bagian dalam istana sesuai dengan peta ini. Ternyata hanya satu yang berubah. " Ucapku.
" Apa yang berubah? " Tanya Alvin yang juga melihat peta.
" Ruangan obat...." Ucapku.
" Ruangan obat? Untuk apa kau menyelidiki ruangan itu? " Tanya Alvin penasaran.
" Ruangan itu bukan ruangan biasa, di dalamnya ada orang-orang hebat. Mereka pengabdi Callisto si pria kejam, dan dingin. Mereka berpikir aku tidak mengetahui identitas asli mereka, aku tahu mereka itu siapa....Sejak dulu keempat orang itu sudah aku tandai. " Ucapku seraya melirik Alvin.
Alvin pun berbicara, menanggapi ucapan ku.
" Apa mereka Hylos, si pedang abadi. Jimmy si ahli obat-obatan, tapi identitasnya si ahli racun. Kalein Lancester, atau Cester, si ahli sihir. Terakhir Ansel, bocah kematian. Dia pandai mengecoh, dan kejam sama seperti tuannya. " Alvin mengungkapkan apa yang dia tahu.
Tentu saja ungkapannya adalah fakta, dan sudah aku selidiki.
" Ya, kau benar. Tapi, yang harua kita waspadai adalah Hylos....Dia mudah curiga, tidak mudah membuatnya percaya. " Ucapku.
" Lagi pula, kita tidak berniat berperang atau membunuh. Niat kita cuma satu, yaitu batu sihir. " Ucap Alvin.
" .....Callisto, seharusnya kita bergerak saat dia masih tertidur. Haaaaahhh......Aku sial sekali....sekarang aku sendiri yang terjebak di sangkar yang dia buat. " Ucapku dengan sedikit helaan.
__ADS_1
...----------------...
BERSAMBUNG.....