Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam

Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam
CHAPTER 56


__ADS_3

Dua hari kemudian, pada malam hari yang sunyi di kedai ibu kota.


Beberapa pria dengan pakaian hitam seperti ninja bersembunyi di sudut-sudut tembok seperti mengintai sesuatu.


Mereka saling memberi kode satu sama lain, ketika saat itu pemilik toko yang tidak lain adalah Alvin keluar dari dalam kedai bersama dengan Hans kakaknya.


" Kakak situasi sepertinya cukup aman, kita harus meninggalkan tempat ini. " Alvin berbisik kepada kakaknya dan melihat sekeliling.


Hans yang saat itu sudah peka ada seseorang yang mengintainya, dia pun berbisik kembali.


" Alvin, sebaiknya kita masuk dulu ke dalam, mereka ada di sini. " Ucap Hans serius.


Mengetahui situasi, Hans pun berbicara lantang seolah itu adalah bagian rencananya.


" Sepertinya persediaan kita sudah cukup. Para pelanggan akan datang semakin banyak. Ayo cepat kita bawa masuk semua barang ini. " Ucap Hans.


Alvin pun mengerti dia segera membawa kembali barang bawaannya. Hans dan Alvin masuk kembali ke dalam.


Di sisi lain, orang-orang yang mengintai mereka saat ini sedang berdiskusi.


" Kaleid, sepertinya kau harus menggunakan sihir bodohmu itu. "


" Hei! Jangan meremehkan sihirku bajingan! "


" Orang dewasa yang seperti anak kecil. "


" Ansel! Berhenti menyebut kami anak kecil, kau yang anak kecil! Dasar bodoh! "


Nama yang keluar dari mulut mereka masing-masing, sudah jelas bahwa itu adalah Ansel, Jimmy, dan Kaleid.


Mereka pasti di perintahkan oleh Callisto untuk mengawasi Alvin dan Hans.


" Kenapa pria itu tidak menyuruh kita untuk membunuh mereka langsung? " Tanya Ansel kesal.


" Kau, apa punggungmu sudah sembuh? Kau demam selama 2 hari karena hukuman itu. " Jimmy bertanya seolah mengkhawatirkan Ansel.


Dengan tatapan sinis, Ansel menjawab.


" Apa itu penting sekarang? " Jawab Ansel tidak peduli.


' Tung!...,- Tiba-tiba kepala Ansel di pukul.


" Dasar bocah sombong! " Jimmy memukul Ansel karena kesal.


" Kenapa dua manusia ini bisa menjadi timku. " Kaleid menggelengkan kepalanya heran.


" Berhentilah bersikaf seperti anak yang berusia 4 tahun. Seriuslah, jangan sampai kita gagal mengawasi mereka. " Kaleid berbicara sekali lagi.


" Kau sudah lihatkan tadi, mereka berdua masuk lagi ke dalam kedai itu. Selain itu kedai itu mempunyai ruangan bawah tanah. Kita tidak bisa masuk, karena ruangan itu cukup rumit. " Ucap Ansel.


" Rasanya aku ingin segera meledakkan kedai itu dengan bom yang sudah aku buat. " Ansel sekali lagi menggerutu.


" Bukannya kau bilang mudah masuk ke sana. Kalian berdua kan sudah lama mengintai mereka. " Ucap Jimmy.


" Diam. Anggota baru tidak akan tahu apapun. " Ucap Ansel.


Saat mereka berbicara, dari kejauhan pria berjubah putih datang dan berdiri sedikit lebih lama menatap ke arah pintu kedai.


" Hentikan bicaranya, coba kalian lihat, siapa itu? " Ansel berbisik kepada kedua rekannya.


Jimmy dan Kaleid seketika fokus dan memperhatikan pria berjubah putih yang berdiri di depan pintu kedai.


" Mencurigakan. Setelah dia masuk kita harus melakukan sesuatu. " Ucap Jimmy.

__ADS_1


" Kaleid gunakan sihirmu, kau bisa menggunakan sihir transparan bukan? " Tanya Jimmy.


" Jika untuk tiga orang, akan sulit karena mana yang di butuhkan cukup besar. " Ucap Kaleid.


" Mungkin hanya bertahan sebentar saja. " Sekali lagi Kaleid menjelaskan.


" Ya, tidak masalah. Berapa waktunya? " Tanya Ansel.


" Hanya 20 menit. " Ucap Kaleid.


" Itu cukup untuk kita masuk ke dalam kedai dan mengikuti mereka. " Ucap Jimmy.


Ketika mereka terus menyusu rencana, pria jubah putih itu pun masuk ke dalam kedai, hal itu di saksikan oleh Ansel.


" Hei, hei. Pria itu sudah masuk. " Ucap Ansel.


" Kalau begitu ayo, tunggu apa lagi. " Ucap Jimmy.


Segera setalah itu, Kaleid memejamkan matanya, dan membaca mantra. Pada saat bersamaan lingkaran sihir tergambar di bawah kaki mereka.



" Berhasil? " Tanya Jimmy.


" Kau tidak lihat perubahannya? Apa kau buta? " Tanya Ansel.


" Aku hanya bertanya! " Jawab Jimmy kesal.


Mereka saat ini berhasil menggunakan sihir yang di buat oleh Kaleid, tubuh mereka transparan, dan tidak terlihat oleh orang lain.


" Berhenti membuang waktu, cepat sebelum sihirnya hilang. " Ucap Kaleid.


Mereka bertiga segera mengikuti pria berjubah putih dari belakang.


" Memang benar ini adalah kedai itu? Tapi di mana pemiliknya? " Pria jubah putih itu bergumam sedikit.


" Apa pria itu hanya pelanggan? " Ucap Ansel.


" Eh?! Tunggu, apa suaraku tidak akan terdengar? " Tanya Ansel.


" Tidak, kau tenang saja. " jawab Kaleid.


Saat mereka terus merasa dekat dengan pria berjubah putih, tiba-tiba saja sesuatu terjadi.


" Ugh....Apa? Ada apa dengan tubuhku. " Pria berjubah putih itu merosot ke lantai dengan tangan yang memegang dadanya seolah dia kesakitan.


" Eh? Kenapa dengan pria itu? " Tanya Jimmy.


" Sepertinya dia tidak kuat dengan sihir. Tunggu..? Ini aneh. " Ucap Kaleid dia mengerutkan keningnya.


" Apa? Ada apa? " Tanya Jimmy tidak sabar.


" Tidak, ini hanya dugaanku saja. Ketika kita kembali ke istana, aku akan mengatakannya. " Ucap Kaleid.


Pria berjubah putih itu pun bangun kembali dengan kesulitan. Mau tidak mau, Ansel, Kaleid, dan Jimmy harus menjauh dari pria itu jika mereka ingin menyelesaikan urusan mereka.


Langkah demi langkah, sepuluh menit pun sudah berlalu, sisa sepuluh menit lagi dari sihir transparan.


" Ugh, aku muak terus berjalan. Sebenarnya mau kemana pria ini? " Tanya Ansel.


" Kita ikuti saja dia. Setidaknya kita tahu bahwa ruang bawah tanah ini cukup besar. " Benar, mereka saat ini sudah berada di ruang bawah tanah.


" Yah, kenapa tidak dari dulu kita gunakan sihir ini. " Ucap Ansel.

__ADS_1


" Sihir ini baru aku kembang kan, mana tahu gagal. " Ucap Kaleid.


Ketika mereka terus mengikuti pria jubah putih, tiba-tiba langkah mereka terhenti bersamaan dengan pria jubah putih.


" Siapa kamu? Bagaimana bisa kamu masuk ke dalam ruangan ini?! " Suara itu adalah milik Alvin.


Dia muncul tiba-tiba dan menghadang pria jubah putih dengan pedangnya.


" Lama tidak bertemu...." Tiba-tiba pria itu tersenyum dan berbicara seolah saling mengenal.


" Apa yang dia katakan? " Jimmy masih belum memahami situasi.


" Seperti, kita tidak salah mengikuti orang. " Ansel berbicara.


" Dia pasti salah satu komplotan lainnya. " ucapan Kaleid.


" Mari kita bersembunyi di ruangan itu, kita jaga-jaga busa saja sihirnya tiba-tiba hilang saat di tengah obrolan mereka. " Ucap Kaleid.


Mereka bertiga segera menyingkir, dan mendengar kan dari jauh.


Percakapan kedua pria itu berlanjut.


Alvin tidak tahu siapa pria jubah putih itu yang berkata seolah kenal dengannya. Ingin memastikan, Alvin pun bertanya dengan wajah sangarnya.


" Siapa kamu? Apa maksudnya lama tidak bertemu? " Tanya Alvin.


" Apa kau bersenang-senang dalam beberapa tahun bersamanya? " Pria jubah putih itu lagi-lagi mengatakan hal yang tidak di mengerti oleh Alvin.


" Apa sih yang kau katakan? " Alvin kesal.


" Kau benar-benar kejam, bisa-bisanya melupakan teman yang berharga sepertiku. " Pria jubah putih itu menyeringai seram dengan kata-katanya yang seolah terdengar manis, namun berbeda dengan ekspresi wajahnya.


" Siapa? " Hans pun muncul.


" Tunggu, apa itu anda? " Hans seperti menyadari sesuatu.


" Oh, hai. Sepertinya kau berhasil. " Ucap Pria jubah putih itu.


" Mari, kita bicara di tempat yang lebih tertutup. " Ucap Hans dengan sopan.


" Kakak, apa maksudnya ini?! Siapa dia? Kita tidak bisa memasukkan orang lain begitu saja. " Alvin marah.


" Diam, aku akan menjelaskan nya nanti, kau juga akan tahu nanti. Percaya saja kepadaku. " Ucap Hans.


" Ugh....kakak, kau...! " Alvin menahan emosinya.


" Mari, kita harus berbicara. " Sekali lagi Hans berbicara sopan.


" Ya, lagi pula di sini memang tidak aman. Ada beberapa tikus yang ikut denganku. Entah meraka ada di sisi mana. " Pria itu menatap ke tempat di mana ketiga orang itu bersembunyi, dia sedikit menyeringai.


" Ya, apa maksud anda. " Tanya Hans.


" Tidak. Mari. " Ucap pria jubah putih.


Mereka pergi, dan tiga orang yang saat ini sudah habis sihirnya pun merasa aneh.


" Dia menyadari keberadaan kita? " Jimmy berbicara.


" Ya, sihirnya pun sudah habis. Sebaiknya kita segera keluar dari sini, dan kembali ke istana. " Ucap Kaleid.


" Benar, tidak ada gunanya kita mengikuti mereka. Mereka pasti memasang perangkap. " Ucap Ansel.


" Ayo, kita harus melaporkan hal ini. Setidaknya kita mendapatkan beberapa bahan untuk melapor. " Ucap Jimmy.

__ADS_1


...----------------...


BERSAMBUNG.....


__ADS_2