
" Apa anda yakin? " Tanya Hylos ragu.
" Sudahlah, jangan khawatir tentang perasaanku pada wanita itu. " Jawab Callisto acuh.
Callisto yang sudah ada di depan pintu kamar Eileria, tanpa pemberitahuan apapun, dia segera membuka pintu itu, dan masuk.
Bagi seorang putra mahkota, masuk ke dalam ruangan yang ada di istana tidak membutuhkan izin apapun kecuali ruangan raja, maka dari itu Callisto langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Baru beberapa langkah Callisto berjalan, dia merasakan ada keanehan. Dia merasakan hawa sepi, dan tidak ada tanda-tanda nafas seseorang.
" Sepi....Tirai ranjangnya tertutup. Aku tidak merasakan tanda-tanda seseorang bernafas di sini. " Ucap Callisto merasa aneh.
Hylos berjalan-jalan, dan melirik kanan, kiri.
" Tidak mungkin wanita itu tidur saat ini. Dia sangat berenergi, dan ini belum terlalu malam menurutku. " Ucap Callisto, dia saat ini berdiri di depan ranjang yang tertutup tirai merah.
" Yang mulia, anda yakin akan mengganggu beliau? " Tanya Hylos.
" Lalu? untuk apa aku ke sini? " Tanya Callisto sinis.
Callisto mengulurkan tangannya bersiap membuka tirai yang terpasang di atas ranjang.
' Srarakkkkkk....' Tirai pun di buka.
Saat itu pula ekspresi wajah Callisto mengerut dan mengeras marah. Ranjang itu kosong, tidak ada seorang pun yang tidur di atas nya.
" Kemana......
Callisto bergumam renda seperti menahan marah.
" Kemana dia! " Tegas Callisto.
" Tidak ada? mungkin beliau sedang berjalan-jalan di luar istana. " Ucap Hylos positif.
" Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku jika ingin pergi berjalan-jalan. " Ucap Callisto kesal.
" Mungkin karena anda tidak ada untuk waktu yang lama, dan anda sibuk dengan urusan anda. " Ucap Hylos.
" Omong kosong. " Ucap Callisto dingin seraya berbalik pergi.
| Kenapa yang mulia sangat kesal. Padahal tidak perlu cemas, gadis itu tidak mungkin dalam masalah jika hanya berjalan-jalan. | Batin Hylos heran.
Hylos mengikuti Callisto pergi keluar dari ruangan itu, di lorong tidak jauh dari ruangan Eileria, Callisto berhenti sebentar dan berbicara.
" Cari dia Hylos. Kita tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh selir pertama dan wanita itu...." Ucap Callisto, yang di maksud wanita itu adalah Adelia.
" Baik Yang mulia. " Jawab Hylos.
...----------------...
Pasar ibu kota malam hari.
__ADS_1
Saat ini aku berada di pasar menuju kedai tempat bersembunyian ku. Tentu saja anak selir pertama yaitu putri Fiona, dia masih bersamaku.
" Kakak, apa tidak masalah membeli banyak makanan seperti ini? " Fiona gadis manis itu bertanya.
" Tentu saja tidak masalah..." Jawabku di sertai tawa kecil.
Aku tidak menyangka wanita iblis seperti Sabrina bisa melahirkan anak seimut dan semanis ini, itulah yang aku pikirkan.
Tapi selain imut, dan manis. Fiona ternyata anak yang selalu meminta izin, dan berhati-hati, serta anak yang waspada dengan gerak gerik seseorang.
Itu terlihat sejak tadi, saat itu aku hendak mengelus pipinya yang gembul, dia dengan cepat memejamkan mata dengan tubuh gemetar takut.
Aku tidak tahu jika mentalnya sudah rusak sampai seperti ini. Anak ini bahkan tidak pernah merasakan manisnya gula-gula, dan indah nya dunia luar.
" Kakak, apa rumah kakak masih jauh. " Dia bertanya dengan hati-hati.
Tentu saja aku menjawab dengan nada lembut.
" Sebentar lagi kita akan tiba. " Jawabku.
Gadis itu mengangguk patuh dalam pangkuanku. Aku terus berjalan menggendongnya, sejak tadi.
Setelah beberapa waktu terlewat, akhirnya aku tiba di depan kedai. Namun, seseorang dengan wajah tidak asing terlihat.
Dia menatap ke arahku tajam dan menusuk, bibirnya maju ke depan, dan tangannya di tekuk di pinggang.
" Leriaaa!! " Suara pria yang konyol memanggil namaku, dia adalah Alvin.
Segera aku menghampirinya, dan membawanya masuk kedalam kedai.
Setiba di dalam kedai, aku di kejutkan dengan satu pria lagi.
" Lama tidak bertemu, Leria. " Pria itu berambut putih, dan suaranya jelas aku mengenalinya walau berbeda.
" .....Ini pasti mimpi. " Ucapku tidak percaya.
" Kak Hans? Apa ini benar? " Tanyaku.
" Benar, ini aku. " Jawabnya.
Aku bertanya-tanya bagaimana dia bisa masuk ke kerajaan Eldorado, padahal keamanan nya sangat ketat sekarang.
" Bagaimana kakak bisa masuk? " Tanyaku penasaran.
" Tentu saja penyamaran. " Jawabnya bangga.
" Ngomong-ngomong, siapa yang kau bawa? " Tanya kak Hans mengerut.
" Dia putri Fiona. Ibunya selir pertama Sabrina " Jawabku langsung.
Saat itu pun wajah mereka berdua mengeras dan merasa tidak suka.
__ADS_1
" Kenapa kau membawa nya? " Tanya Alvin.
" Dia adalah putri selir jahat itu. " Ucap Hans.
Aku segera memberi kode lewat kedipan mata, agar mereka berhenti bicara. Sesekali aku melihat ekspresi wajah Fiona, dan dia terlihat biasa saja.
" Putri, maafkan bawahan saya. "Ucapku menyesal.
" Tidak apa kak, ini hal yang wajar. " Jawab nya sedikit rendah.
" Hei, nak. Kenapa kau menempel dengannya? " Alvin bertanya matanya sesekali melirik ke arah arahku.
Dengan kepala menunduk malu, Fiona gadis itu menjawab.
" Itu......Maaf. Saya hanya ingin ikut, dan kakak juga mengajak saya.....
" Saya sendirian..... " Ucapnya lemah.
Aku tidak menyangka Alvin akan memberikan reaksi seperti itu, namun ketika aku melihat Hans dia hanya memperhatikan Fiona dengan tatapan lembut.
" Kak Hans? Ada apa? " Tanyaku.
" Dia terlihat lemah, sebaiknya kau bawa dia masuk keruang bawah tanah, lagi pula tempat ini sudah tidak aman. " Jawab Kak Hans, kata-kata terakhirnya membuatku penasaran, dan segera ingin tahu kenapa tempat ini sudah tidak aman.
" ....Tidak aman, aku ingin mendengar semuanya. Mari masuk ke bawah. " Ucapku.
Kami semua masuk menuju ruangan bawah tanah, sementara Alvin, dia terus menatap ke belakang sebelum memasuki ruangan bawah tanah.
Seberapa tidak amannya Kedai tempat persembunyian kita, sampai Alvin dan kak Hans berekspresi waspada.
...----------------...
Ruang bawah tanah tempat persembunyian.
Eileria, Alvin, dan Hans berkumpul di satu ruangan yang paling dalam. Mereka membicarakan semua yang harus mereka diskusikan, dan selesaikan.
Pembicaraan di mulai dengan Eileria.
" Kak Hans, sudah berapa lama anda tiba di sini? " Tanya Eileria serius.
Hans menjawab singkat.
" Mungkin sudah 3 hari. " Jawab Hans.
" Dari pada itu aku ingin bertanya Leria. Kau bertunangan dengan putra mahkota Callisto? " Tanya Hans matanya menatap wajah Eileria tanpa berkedip.
" Benar—
" Kenapa kau harus terikat lebih erat dengan bajingan itu?! " Sebelum Eileria menyelesaikan perkataannya, Alvin sudah berteriak menanyakan alasannya.
...----------------...
__ADS_1