Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam

Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam
CHAPTER 25


__ADS_3

Kamar Callisto.


Padahal hari itu sudah pagi, tapi kamar Callisto masih tetap gelap. Dia bahkan menggunakan lampu api biru, lampu itu di buat khusus oleh penyihir istana, siapa lagi jika bukan Kalein.



Gunanya hanya untuk membuat ruangan menjadi kedap suara. Jika ada penyusup yang masuk, dan terbunuh di tangan Callisto, suara jeritan atau pertarungan lainnya tidak akan terdengar sampai ke luar.


' Brak! 'Pintu masuk kamar Callisto tiba-tiba di buka keras.


" Dia masih tidur. " Gumam seorang gadis yang datang membawa makanan.


Siapa lagi jika bukan Eileria.


" .....Kita lihat sampai mana dia akan tidur! " Gumam Eileria.


Melihat Callisto yang masih tidur tengkurap, dengan tubuh setengah telanjang tertutup selimut, Eileria dengan cepat berjalan ke arah jendela milik Callisto, Eileria membuka tirai jendela selebar mungkin.


Agar cahaya matahari tersorot ke arah Callisto.


' Sraaaakkk.....' Tirai di buka lebar.


" Ugh.....! Silau sekali....." Erangan kecil terdengar.


" ....Yang mulia....tolong bangun. " Ucap Eileria.


" Kau ingin mati! berani sekali mengganggu tidurku! " Dengan mata yang masih terpejam Callisto mengancam.


" Yang mulia! Tolong bangun sekarang! " Eileria dengan suara tegas.


" Pergi! " Teriak Callisto.


" Apa? Pergi? Anda meminta saya pergi? Apa benar? " Mendengar teriakan Callisto yang menyuruhnya pergi, Eileria malah senang.


" Hmmm...Pergilah." Ucap Callisto, dia belum sadar jika itu Eileria.


" Sungguh, kali ini anda benar-benar murah hati. Kalau begitu saya permisi. Tidurlah lebih lama yang mulia, hari ini cuacanya mendung dan tidak baik. " Ucap Eileria.


| Tunggu, suara perempuan?........Enak saja! | Callisto mulai sadar.


Saat Eileria bersiap membuka pintu keluar, tiba-tiba suara tegas, dan serak terdengar di belakang Eileria.


" Mau kemana kau? Kembali cepat! " Callisto dengan suaranya yang baru bangun menghentikan langkah Eileria.


" ...." Eileria terdiam.


| Tadi dia menyuruh ku pergi, sekarang dia meminta ku kembali. Dia ini benar-benar. | Pikir Eileria.

__ADS_1


" Cepat kembali! " Teriak Callisto.


Eileria berbalik, saat itu posisi Callisto sedang duduk dengan tangan terangkat menghalangi sinar matahari.



Kini Eileria sudah terbiasa melihat otot perut Callisto.


" Mana makananku? " Tanya Callisto serius.


" .....Di atas meja. " Jawab Eileria ketus.


" Kemari kau! " Perintah Callisto.


" Untuk apa? " Tanya Eileria ketus.


" Memangnya karena siapa aku tidak bisa bangun? Ini semua karenamu! Beraninya kau merusak punggungku! " Callisto dengan alis mengerut dan nada sedikit tinggi.


" Lemah! " Cela Eileria kesal.


" Apa kau bilang? " Tanya Callisto.


" Tidak, tadi ada lebah. " Ucap Eileria.


" .....Kau pikir aku bodoh? " Tanya Callisto.


Tapi, tiba-tiba Eileria berhenti sejenak.


" Kenapa berhenti? " Tanya Callisto dengan kerutan alisnya.


" Anda pakai ****** ***** kan? " Tanya Eileria dengan wajah datar.


" Kenapa? " Tanya Callisto.


" Jawab saja Ya, atau tidak. Jika tidak saya akan menyiapkan mata saya, agar saya tidak kaget melihat benda itu. " Ucap Eileria.


" ....Ehem....." Callisto terlihat aneh, wajahnya merah seperti malu.


Tapi hal itu tidak mungkin.


" Aku memakainya, jadi kau tidak usah tegang. " Ucap Callisto.


" ...Hmmm. bagus. " Jawab Eileria.


Eileria membantu Callisto. Sebenarnya Callisto hanya berpura-pura, dia tidak sakit sama sekali, hanya saja dia ingin membuat Eileria bekerja lebih banyak lagi.


" Ini....Apa kau yang memasaknya? " Tanya Callisto, matanya menatap ke meja yang di atasnya tersedia banyak makanan.

__ADS_1


Makanan itu terdiri dari, daging sapi yang di olah dengan kuah semur. Makanan penutup mulut, seperti buah, kue dan minuman.




" Ya..." Jawab Eileria.


" ....Hmmmm.....Apa kau memasukkan racun ke dalamnya? " Tanya Callisto.


Tanpa basa basi, Eileria mengambil garpu, dan pisau. Dia memotong daging dan menusuknya dengan garpu, setelah itu dia memasukkan daging tersebut kemulutnya.


" K-kau? " Callisto dengan bola mata membulat menatap Eileria.


" Apwah? Apa? " Tanya Eileria yang masih mengunyah daging di mulutnya.


" .....Sudah percaya, lagi pula saya masih sayang nyawa. " Ucap Eileria.


" Heh...." Callisto menggelengkan kepalanya pelan.


" Kalau begitu, beri aku makan dengan mulutmu! " Tanpa tahu malu Callisto minta hal itu.


' Tak! ' Eileria menaruh sendok, dan garpu beserta pisau di depan mata Callisto.


" GUNAKAN INI! " Tegas Eileria.


" Kau tidak lihat punggungku terluka! aku tida bisa menggerakkan tanganku. " Ucap Callsto.


" Yang luka itu punggung anda bukan tangan anda! " Ucap Eileria kesal.


" Tapi—


" CEPAT MAKAN JANGAN BANYAK BICARA! " Eileria dengan cepat mengambil potongan daging dengan garpu, dan memasukkannya ke dalam mulut Callisto.


" Uhuk! " Callisto sampai batuk karena makanan yang tiba-tiba masuk begitu saja.


" Banyak sekali komentar anda! Mulut saya bukan centong sayur, ataupun garpu! Makan saja sendiri! " Tegas Eileria.


" Berani—


" Berisik sekali! Makan ya makan, jangan banyak bicara, tidak baik bagi tenggorokan anda. " Ucap Eileria sekali lagi memotong Callisto.


" Habiskan, saya akan pergi. " Ucap Eileria seraya lari dari ruangan."


Callisto yang melihatnya, dia terdiam kaku dengan daging yang masih dalam mulitnya.


----------------

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2