Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam

Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam
CHAPTER 37


__ADS_3

" Mengenai batu sihir, apa kau tahu tempatnya barang itu di simpan? " Tanya Hans.


" Leria tahu di mana tempat itudia bilang, tapi tempat itu sulit di masuki. " Jawab Alvin.


" Sudah pasti mereka menaruh beberapa penjaga di tempat itu. " Ucap Hans.


Alvin menghela nafas, dia pun berbicara menanggapi ucapan kakaknya.


" Tidak, bukan sulit karena penjaga. Di tempat itu tidak ada penjaga atau pun penyihir yang menjaga batu sihir itu. Tidak ada satu pun. " Ucap Alvin.


Di sini Hans heran, kenapa Alvin bilang sangat sulit di masuki padahal tempat itu tidak di jaga.


" Tadi kau bilang sulit di masuki, jika tanpa penjaga seharusnya itu mudah untuk di masuki. " Ucap Hans.


" Mereka membuat pintu khusus, dari sihir, entah bagaimana membukanya. " Ucap Alvin.


" Pantas saja, sepertinya kuncinya kita harus tahu bagaimana cara membuka pintu itu. Karena Leria berada di genggaman Callisto, kenapa itu tidak di manfaatkan. " Ucap Hans.


" Leria sedang berusaha....." Ucap Alvin.


" Baiklah kalau begitu, itu bagus, semakin cepat kita menjalankan rencana, semakin cepat pula kalian bisa kembali. " Ucap Hans.


" Semoga saja berjalan dengan lancar. " Ucap Alvin berharap.


Mereka tidak akan pernah tahu, rencananya akan berjalan semulus yang mereka katakan atau tidak.


...----------------...


Kamar Callisto.



Hylos berdiri dan memandang Eileria yang masih tidur, dia bingung bagaimana cara membangunkan wanita.


| Bagaimana cara membangunkan wanita? Selama ini aku hanya membangunkan yang mulia saja, dan ketiga anak itu (Ansel dan dua antek-anteknya) |Pikir Hylos.


" Ekehm! Ekehm!! " Karena tidak tahu, Hylos hanya berdiri dan berdehem padahal tenggorokannya jelas sekali tidak gatal.


" Hei....Bangun! " Ucapnya datar.


| Ah sudahlah, lagi pula dia hanya pelayan. | Pikir Hylos.


" Wanita! Cepat bangun! Yang mulia menunggu di ruang makan! " Hylos membangunkan Eileria.


" Hmmmm...." Eileria hanya membuka matanya sedikit, lalu dia tidur lagi.


" Tidak berhasil! Apa kau mau terus berbaring di ranjang laki-laki seperti ini! " Teriak Hylos tidak tanggung-tanggung.


| Hmmmm, siapa? Ranjang? laki-laki apa? | Eileria setengah sadar karena teriakan Hylos.


| Tunggu! laki-laki?! | Eileria mula sadar, tapi dia tidak berani membuka matanya.


| Semalam aku?...... | Eileria mulai mengingat kejadian semalam.


– Minggir! Aku harus masuk!


– Aku bukan pelayan! Aku punya banyak uang, Mansion, peliharaan, dan masih banyak lagi..Tapi sayang itu tidak berarti di sini!

__ADS_1


– Apa kau sudah makan? Kau sudah berendam di air? Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?


| Ya tuhan! Apa yang aku lakukan?! Bodoh! Sudah aku bilang jangan minum arak! tapi tetap saja aku meminumnya! | Pikir Eileria yang sudah mengingat kejadian semalam.


" Aku tahu kau sudah bangun, cepat bangun sekarang! Yang mulia sudah menunggumu! " Ucap Hylos.


" Yang mulia? " Eileria mau tidak mau harus bangun, meskipun dia jelas malu.


" Apa kau tidak sadar ranjang yang kau tiduri dan sekarang kau duduki, itu adalah ranjang Yang mulia? " Tanya Hylos dengan mengangkat alisnya.


Eileria dengan lambat menatap ke bawah, melihat selimut dan ranjangnya.


" ?! " Seketika dia sadar dan meloncat turun dari ranjang seperti tupai.


" .....Sialan kau arak! " Gumam Eileria pelan.


| Dia tidak melakukan apa-apa kepadaku kan? | Tanya Eileria dalam batinnya.


Karena cemas, Eileria melihat seluruh tubuhnya. Hylos yang melihat tingkah Eileria yang seperti orang linglung dia pun berbicara.


" Apa yang kau pikirkan? Yang mulia tidak melakukan apapun kepadamu, lagi pula beliau akan berpikir seribu kali jika mau menyentuhmu. " Ucap Hylos.


Ucapan Hylos seketika membuat Eileria sadar, namun ucapan Hylos memang sedikit menusuk.


" Cih.....Aku bersyukur akan hal itu. " Ucap Eileria.


" Cepat bersiap, dan satu lagi, jangan coba-coba melakukan hal-hal aneh kepada yang mulia. Aku pasti akan mengawasimu! ingat perkataanku! " Hylos jelas memberikan ancaman kepada Eileria.


" Awasi saja, jangan lupa dengan tuanmu juga. Aku tidak akan kesulitan jika dia melakukan hal gila lagi. " Ucap Eileria seraya pergi meninggalkan Hylos.


| Gawat! Sepertinya Hylos benar-benar mengetahui sesuatu. Aku sebaiknya lebih berhati-hati mulai dari sekarang. | Pikir Eileria.


...----------------...



Saat itu Callisto yang sudah berpakaian menunggu di ruang makan, koki istana dengan hati-hati membawa beberapa makanan untuk di hidangkan.


| Ya ampun, jangan sampai aku membuat kesalahan...| Pikir koki yang berjalan menuju meja makan.


Saat koki itu akan menyimpan nampan makanan di atas meja, tiba-tiba–


' Brak! ' Gebrakan meja terdengar.


" Lama sekali! Berapa lama lagi aku harus menunggu! " Ucap Callisto kesal.


Seketika tangan koki itu gemetar, dan mengeluarkan keringat dingin, bahkan detak jantungnya menjadi tak karuan. Jelas sekali koki itu ketakutan, melihat Callisto yang tiba-tiba marah.


" Ma–


" Maafkan saya Yang Mulia......


" Saya mengaku salah!....


Dengan cepat koki itu menaruh nampan makanan dan bersujud di bawah kaki Callisto. Melihat hal itu, Callisto mengerutkan keningnya, dia pun berdiri dari duduknya.


| Kenapa dia bersujud tiba-tiba? Apa dia pikir aku marah karenanya? | Pikir Callisto.

__ADS_1


" Berdiri! " Perintah Callisto dengan mata memandang dingin koki di bawahnya.


" Sa–


" Saya tidak berani Yang mulia. " Ucap Koki itu gagap.


" Haaaaahhh......Ck. " Callisto menghela nafas, dan mendecakkan lidahnya.


" Apa kau tidak mau mematuhi perintahku! Kau memilih kehilangan nyawamu, dari pada mematuh titahku?! " Ucap Callisto dingin dan tidak berperasaan.


" Tidak Yang mulia! Saya tidak bermaksud seperti itu....." Ucap Koki itu takut.


" Cepat berdiri! " Tegas Callisto sekali lagi.


" Baik Yang mulia. " Koki itu dengan cepat berdiri, dan masih menekuk kepalanya.


" Kenapa kau bersujud? Apa aku menyuruh mu? " Tanya Callisto, dia kembali duduk.


" Itu–


" Bukankah anda memukul meja karena marah kepada saya......" Jawab Koki itu gugup.


| Aku marah karena menunggu gadis itu, bukan karena makanannya yang datang terlambat. Lagi pula aku tidak berselera makan. | Pikir Callisto malas.


" Pergilah, kau tidak usah memperdulikan hal itu! " Ucap Callisto malas.


" Baik Yang mulia, saya undur diri. " Ucap Koki itu, dan pergi.


| Keterlaluan, dia membuatku menunggu begitu lama. Aku harus menyusulnya sendiri. | Pikir Callisto sudah lelah menunggu.


Callisto yang kesal menunggu Eileria yang belum nampak batang hidungnya, dia pun berdiri dan berencana menyusul Eileria yang pasti berada di kamarnya.


Baru saja beberapa langkah Callisto berjalan, dia sudah menarik kembali langkahnya, dan terdiam sejenak seraya berpikir.


| Tunggu, kenapa aku harus menjemputnya sendiri? Jika seperti itu, sangat terlihat jika aku memang membutuhkan dirinya. | Pikir Callisto.


| Apa yang aku lakukan? Memangnya dia siapa? Aku menunggunya, dan sekarang aku mau menjemputnya? Tidak mungkin. | Pikir Callisto sekali lagi.


Karena pikirannya itu, Callisto kembali ke kursinya dan duduk lagi sambil membuka tutup makan.


" Daging lagi....dan telur. " Ucap Callisto yang melihat hidangan di depannya.


Seperti yang Callisto katakan itu hanya daging, dan satu telur yang sudah di masak setengah matang.



" Berbeda dengan wanita itu, dia menghidangkan daging yang berkuah, dan beberapa kue yang bentuk nya binatang. Aneh sekali....." Callisto menarik sudut bibirnya sedikit ketika dia mengingat hidangan pertama yang di masak oleh Eileria.


| Apa lagi yang aku pikirkan! sadarlah! | Batin Callisto.


Sudut bibirnya kembali dingin, ketika dia menyadari untuk apa dia mengingat hal itu.


" Salam Yang mulia. " Penjaga pintu ruang makan tiba-tiba datang dan memberi hormat.


" Ada apa? " Tanya Callisto sinis.


...----------------...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2