
Keesokan Harinya.
Kedai Ibu Kota.
Alvin sudah membuka kembali kedainya, tentunya sudah banyak pelanggan yang datang.
Namun, dari banyaknya pelayan yang datang, ada satu pelanggan yang misterius.
" Dimana pemilik kedai ini? " Tanya pria dengan jubah putihnya.
Pelayan wanita yang dia tanyai menjawab dengan sedikit mengerutkan alisnya.
" Kenapa kau menanyakan tuanku? " Tanya pelayan kedai dengan bahasa yang kurang sopan.
" Ini tidak ada urusannya denganmu. Cepat panggil pemilik kedai ini sekarang juga. " Pria itu dengan kekeh meminta agar dia di pertemukan secepatnya dengan pemilik kedai yang tidak lain adalah Alvin.
" ....Tuanku tidak bisa bertemu dengan sembarangan orang. Silahkan pergi dari sini. " Ucap pelayan itu sembari menunjukkan pintu keluar.
" Heh...Kau tidak bisa semudah itu mengusirku. " Ucap pria misterius dengan nada dinginnya.
" .....K-Kau!...." Pelayan itu dengan geram menunjuk sosok pria misterius dengab telunjuknya.
" Ada apa ini? " Tanya seseorang, dia tidak lain adalah Alvin.
Pria dan pelayan melirik Alvin bersamaan. Alvin pun bertanya lagi.
" Ada apa Hani? " Tanya Alvin kepala pelayan yang dia panggil Hani.
" Dia ingin bertemu denganmu. " Jawab Hani dingin.
" ....K-kau...Ck..." Alvin membulatkan matanya dan menunjuk Hani.
| Ternyata dia memang tidak bisa berbicara sopan...| Pikir Alvin.
" Kau memang tidak bisa memanggilku dengan sopan. " Ucap Alvin.
" Aku sudah bilang, tidak bisa menghormati orang dengan mudah sebelum aku tahu sifat asli mereka. " Jawab Hani acuh.
" Sudah!...." Pria misterius itu memoting percakapan kedua orang yang tepat berdiri di sampingnya.
" ....Dan kau? Siapa kau? " Tanya Alvin penasaran.
" Bagiamana aku bisa mengatakan siapa aku, jika pemilik kedai ini tidak menyiapkan tempat yang cocok. " Ucap pria misterius.
" Baiklah, ikuti aku. " Ucap Alvin seraya pergi.
" Hani, kau jaga kedai. " Alvin berhenti sejenak dan berteriak memberi perintah kepada Hani.
Hani hanya menaikkan sedikit matanya, tanda mengerti, Alvin kembali melanjutkan langkahnya di ikuti pria misterius berjubah putih.
...----------------...
Istana kerajaan.
" Aku harus menemui yang mulia putra mahkota di ruanganya. " Hylos yang berjalan di lorong menuju kamar Callisto.
__ADS_1
Di berencana melaporkan hasil pencarian nya kemarin malam. Tentunya Hylos tidak menemukan Eileria, dia malah bertemu dengan gadis kecil yang menangis di pinggir kolam istana pengasingan.
" Alih-alih menemukan pelayan itu, aku malah bertemu dengan putri dari selir ke dua. " Gumam Hylos.
| Namun saat itu aku merasa melihat diri yang mulia putra mahkota. Kehidupannya sama persisi seperti itu. | Pikir Hylos.
Hylos kemudian membayangkan kejadian malam tadi, bagaimana dia bisa bertemu gadis kecil yang menyedihkan itu.
...----------------...
Kilas Balik bagaimana Hylos bertemu dengan gadis kecil.
Hylos mencari Eileria hingga ke kebun istana selatan, dimana istana besar yang terbengkalai berada.
" Di mana sebenarnya gadis aneh itu? " Hylos bergumam mengenai Eileria yang belum dia temukan.
Sambil bergumam, Hylos juga merasa aneh dengan kebun istana selatan.
" Kebun istana selatan....Bukankah istana selatan sudah tidak terawat, tapi kenapa kebun di sini sepertinya di rawat dengan baik. " Ucap Hylos merasa aneh.
" Mungkin tukang kebun istana yang merawatnya. " Tebak Hylos.
Saat dia terus berjalan-jalan, di sisi kolan kebun istana, ujung matanya menangkap sesuatu.
" ....Apa itu? " Hylos bertanya pelan.
Dia melihat kaki putih mungil di balik rerumputan, Hylos dengan alis mengerut menghampirinya.
" .....Bunga putih.....
" Daun hijau....
" Kalian tidak boleh mati, atau pun layu....
" Jika kalian mati, siapa yang akan aku ajak bicara....
| Suara anak kecil?| Batin Hylos.
Hylos menyingkirkan rerumputan untuk memastikan siapakah anak itu, kenapa dia ada di kebun istana selatan yang terbengkalai.
Setelah Hylos menyingkirkan rerumputan secara perlahan, dia akhirnya melihat sosok anak kecil yang ada di balik rerumputan.
Anak itu duduk di atas hamparan rumput, sembari memandangi bunga-bunga yang ada di depannya.
Rambut putihnya berkibar seperti cahaya bulan, anak itu tidak lain adalah Fiona Eldorado, putri dari selir pertama Sabrina.
| Dia putri Fiona, kenapa malam-malam seperti ini dia ada di sini? | Batin Hylos bingung.
Fiona, putri kecil itu terlihat tidak menyadari kedatangan Hylos, dia bahkan tidak tahu jika Hylos terus memandanginya.
Putri kecil itu tidak terusik, dia terus berbicara dengan bunga dan daun yang ada di depannya.
" Anu....Putri..." Hylos memberanikan diri berbicara dengan nada yang begitu pelan.
__ADS_1
Sontak putri kecil itu mendongak melihat ke arah Hylos.
" ...... " Putri kecil itu memiliki mata biru seperti awan di siang hari, matanya menatap Hylos lebar.
" ....Rambut anda bersinar seperti matahari. " Ucap putri kecil itu dengan mata berbinar.
Hylos pun bertekuk lutut di hadapan Putri kecil itu, dan memperkenalkan dirinya.
" Salam yang mulia putri Fiona Eldorado. Maaf karena saya sudah bersikaf tidak sopan. " Ucap Hylos sopan.
" .....Tidak, tidak. Jangan lakukan itu.." Ucap putri kecil itu seraya berdiri.
Putri kecil itu menunduk layaknya putri, dan memperkenalkan diri.
" Saya Fiona, senang bertemu dengan anda. " Ucapnya sopan.
" Tidak putri, anda tidak perlu melakukan itu kepada saya. " Ucap Hylos.
" Saya bukan putri anda bisa memanggil saya Fiona. " Ucap Fiona dengan senyum merekahnya.
" Kenapa anda berbicara seperti itu? " Tanya Hylos.
| Bukankah usianya baru 6 tahun, tapi kenapa anak ini seperti mengerti semuanya. | Pikir Hylos.
" Karena saya tidak di akui sebagai putri.. " Jawab Fiona.
" Kakak, apa kakak tahu, ini pertama kalinya saya berbicara dengan orang lain selain para pelayan dan bunga-bunga di taman ini. " Ucap Fiona girang.
" Kenapa anda hanya berbicara dengan pelayan, dan juga bunga? Bunga, mereka tidak bisa bicara. " Tanya Hylos.
" Apa boleh buat, saya hanya punya mereka. Sekarang para pelayan pun sudah tidak ada, yang tersisa hanyalah bunga-bunga yang ada ditaman ini. " Jawab Fiona dengan mata sedih memandang sekeliling kebun.
" Kemana para pelayan anda? " Tanya Hylos penasaran.
" Mereka bilang, mereka harus pulang untuk menemui keluarga mereka, dan akan kembali. Tapi mereka tidak pernah kembali. " Jawab Fiona.
" Kenapa mereka tidak kembali? Mereka tidak bisa meninggalkan majikan mereka kecuali mati. " Ucap Hylos.
Seketika mata Hylos melebar menyadari ucapan terakhirnya.
" Mereka mati...." Ucap Fiona seraya berbalik dan melangkah pergi dengan wajah dingin.
| Siapa lagi jika bukan ibunya sendiri Sabrina. Ini pasti ulahnya, secara temperamen wanita itu sangat buruk. | Pikir Hylos.
" Kakak, pergilah dari kebun ini.....sebenarnya saya cukup senang bisa berbicara dengan anda. Tapi, apa boleh buat, setiap orang yang berada di sisi saya pasti akan bernasib buruk. " Ucap Fiona dengan senyum pahitnya.
Hylos tidak habis pikir, di usianya yang masih kecil, dia bisa mengatakan hal itu, dia terlalu dewasa untuk anak seusianya.
" Pergilah. " Ucap Fiona.
Hylos berbalik, dan pergi meninggalkan Fiona.
" Gadis kecil itu pasti kesepian, tapi dia tetap bertahan hidup. " Gumam Hylos pelan.
Kilas Balik selesai.
...----------------...
__ADS_1