
Ramuan itu jatuh ke tangan Callisto, dia terus memperhatikan ramuan yang ada di tangannya dengan mata menyipit.
" Itu bukan racun! Lagi pula mana berani saya meracuni anda secara terang-terangan. " Eileria mencoba menjelaskan.
" Minggir! " Callisto mendorong Eileria ke belakang.
Sikaf Callisto yang kasar membuat Eileria sedikit kesal.
| Tidak bisakah dia memperlakukan wanita dengan lembut? Dorong, yah dorong saja. Tidak perlu sekasar itu. | Pikir Eileria.
Sementara itu, Callisto masih memandangi ramuan yang ada di tangannya.
" .....Ramuan apa yang kau bawa? " Tanya Callisto masih melihat ramuan tersebut.
Callisto pun berbalik membelakangi Eileria, saat itu juga mata Eileria fokus ke punggung Callisto.
| Gawat! Lukanya masih berdarah. Apa dia tidak merasakan apa-apa? | Batin Eileria.
Karena sudah terpojok, Eileria dengan berani mengaku bahwa dia melukai punggung Callisto.
" It-itu.......Emmmm. Punggung....
Callisto berbalik ke arah Eileria, dan dia memiringkan kepalanya seolah bertanya.
" Punggung apa? Bicara yang jelas! " Tegur Callisto.
" PUNGGUNG ANDA TERLUKA! " Eileria dengan cepat berteriak mengaku.
" Hah?...Apa kau bilang..? " Tanya Callisto sekali lagi.
" Saya bilang punggung anda terluka. Saya tidak sengaja. Jadi....saya meminta ramuan untuk luka di punggung anda. " Ucap Eileria.
" Kau!....." Callisto sedikit geram.
Dia pun berjalan cepat naik ke atas, lalu pergi ke arah cermin yang tertempel di dinding. Callisto bahkan tidak memakai handuk.
| Uwaaaa!!! Dia mulai lagi! | Batin Eileria.
Saat Callisto beranjak dari kolam tanpa memakai handuk, Eileria sontak menutup matanya.
" Ini...punggungku! " Callisto melihat punggungnya yang terluka karena Eileria.
Di cermin terlihat punggung Callisto memang terluka, hanya saja goresan itu goresan kecil-kecil.
" Keterlaluan! Aku menjaga tubuhku dengan baik bahkan di medan perang sekalipun!...
Callisto berteriak marah, dia berbalik menatap Eileria yang masih berdiri dikolam dengan mata tertutup.
" Sialan! Bicara denganmu sangat sulit! " Ucap Callisto, dia dengan cepat mengambil handuk, dan menutupi bagian bawahnya.
| Wanita itu tidak mau menatapku jika aku belum memakai handuk. Jika dia tidak membuka matanya, bagaimana dia bisa melihat wajah marah ku? | Batin Callisto.
" Haah....Buka matamu! " Teriak Callisto.
__ADS_1
" Aku sudah memakai handuk! " Teriak Callisto sekali lagi.
Saat mereka berdebat, tiba-tiba....
' Brak...!! ' Pintu ruangan masuk di buka keras sehingga mereka berdua menatap ke arah pintu masuk.
" Yang mulia! " Pria dengan rambut pirang panjang masuk dengan wajah panik.
" Hylos...? " Gumam Callisto melihat ajudannya yang masuk tiba-tiba.
" Sir Hylos..? " Eileria juga kaget dengan kedatangan Hylos.
" Anu...Maaf yang mulia. Saya tidak bermaksud mengganggu ada, tapi ini sangat penting. " Ucap Hylos dengan wajah serius.
| Tidak biasanya Hylos memasang wajah panik seperti ini. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang sangat penting. | Pikir Callisto.
Melihat wajah ajudannya yang panik, Callisto segera mengambil jubah mandi miliknya.
" Cepat katakan ada apa? " Tanya Callisto serius.
" Maaf, tapi...." Hylos melihat Eileria.
" Saya mengerti. Saya akan pergi. " Eileria tahu, pembicaraan mereka berdua tidak boleh di dengar oleh siapapun apalagi seorang pelayan rendahan sepertinya.
" Baguslah jika kau sadar akan posisimu. " Ucap Callisto.
" Terserah anda mau mengatakan apa. " Ucap Eileria seraya pergi dari ruangan.
Tapi sebelum itu, Callisto kembali memanggilnya.
Langkah Eileria sontak terhenti.
| Sekarang apa lagi? | Bantin Eileria.
" Kau belum selesai dengan punggungku. Besok kau harus datang lebih pagi untuk mengobati lukaku, sekaligus siapkan makanan sebanyak mungkin. " Perintah Callisto.
" ..... " Eileria tidak menjawab, dia pergi begitu saja setelah mendengar perintah Callisto.
" .....Tidak sopan.... " Gumam Callisto yang melihat Eileria pergi tanpa menjawab.
" Yang mulia, sepertinya itu bukan ide yang bagus merekrutnya sebagai pelayan pribadi anda. " Ucap Hylos.
" ....Diam lah, kita bicara di kamarku. " Ucap Callisto.
...----------------...
Ruangan kerajaan, tepatnya singgahsana raja, tempat orang-orang penting menghadap Raja.
" Haaaa..... " Ellios yang duduk di singgahsananya dia menghela nafas lelah.
Gort sang ajudan yang tepat berdiri di samping Ellios, dia menatap Ellios dan bertanya Khawatir.
__ADS_1
" Ada apa yang mulia? Hingga anda menghela nafas lelah seperti itu. " Tanya Gort sopan.
" Memang tidak boleh seorang raja menghela nafas lelah seperti ini? " Tanya Ellios.
" Tidak. Bukan seperti itu.
" Hanya saja helaan nafas seorang raja, bisa membuat orang di sekitarnya khawatir. " Ucap Gort.
" Ini semua karena putraku Callisto....." Ucap Ellios.
" Memang ada apa dengan Yang mulia Callisto? " Tanya Gort.
" Kau juga sudah tahu, dia membawa pelayan wanita, dia bahkan menjadikan nya pelayan pribadinya. Mungkin menurutmu ini hal yang biasa, tapi menurutku hal ini tidak biasa. "
" Putraku itu tidak pernah bergantung kepada siapa pun. Bahkan dia tidak pernah merekrut ajudan, pelayan, dan kesatria untuk dirinya sendiri. Yang ada mereka sendirilah yang rela bersumpah setia kepadanya. " Ellios berbicara mengenai Callisto.
Jelas Ellios khawatir, karena ini adalah pertama kalinya Callisto merekrut pelayan pribadi untuk dirinya sendiri.
" Sejak dia bangun dari tidurnya, sikafnya semakin berbeda, apalagi saat dia bertemu dengan pelayan itu. Seolah dia sudah mulai lepas dari tali yang aku pasang. " Ucap Ellios.
" Tali yang mulia pasang tidak akan lepas, jika anda memanfaatkan gelar tahta, dan juga pelayan itu. " Ucap Gort.
" Aku lebih tidak suka jika putraku mencintai seorang pelayan rendahan seperti wanita itu. " Ucap Ellios dengan wajah masam.
" Kalau begitu anda bisa memanfaatkan gelar tahta, lalu anda bisa membunuh gadis itu. " Jawab Gort dengan saran kejamnya.
" Tapi sepertinya gadis itu tidak menyukai yang mulia Callisto, jelas sekali dari wajah, dan nada bicaranya. " Gort sekali lagi.
" Yah, waktu di pesta itu aku juga melihatnya. Dia enggan di sentuh oleh Callisto. " Ucap Ellios.
" Hmmm....baiklah, kita lihat saja. Sampai mana Callisto akan bermain-main dengan pelayan itu. Jika sampai keduanya saling mencintai, mau tidak mau kita harus membunuh gadis itu. " Ucap Ellios dengan seringai di bibirnya.
" Kita mempunyai cara lain yang mulia, agar Yang mulia Callisto tidak bisa mencintai gadis itu..." Ucap Gort.
" Apa itu? " Tanya Ellios.
" Bukannya, Yang mulia Callisto memiliki tunangan masa kecil nya? " Tanya Gort.
Ucapan Gort membuat Ellios senyum merekah, dia tahu apa maksud Gort.
" Kau benar, aku melupakan itu. Adelia Pan Huber....
" Putri pertama dari keluarga Marquess Huber. Sekaligus tunangan masa kecil Callisto. " Ucap Ellios.
" Benar yang mulia. Sepertinya kita harus memanggil Putri Adelia. " Ucap Gort.
" Tunggu apa lagi, sekarang tulis surat ke kediaman Marquess. Pastikan Adelia mau datang ke istana. " Ucap Ellios.
" Saya mengerti Yang mulia. " Jawab Gort patuh.
...----------------...
BERSAMBUNG......
__ADS_1