Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam

Tidak Sengaja Membangunkan Pangeran Kejam
CHAPTER 22


__ADS_3

Ramuan itu jatuh ke tangan Callisto, dia terus memperhatikan ramuan yang ada di tangannya dengan mata menyipit.


" Itu bukan racun! Lagi pula mana berani saya meracuni anda secara terang-terangan. " Eileria mencoba menjelaskan.


" Minggir! " Callisto mendorong Eileria ke belakang.


Sikaf Callisto yang kasar membuat Eileria sedikit kesal.


| Tidak bisakah dia memperlakukan wanita dengan lembut? Dorong, yah dorong saja. Tidak perlu sekasar itu. | Pikir Eileria.


Sementara itu, Callisto masih memandangi ramuan yang ada di tangannya.


" .....Ramuan apa yang kau bawa? " Tanya Callisto masih melihat ramuan tersebut.


Callisto pun berbalik membelakangi Eileria, saat itu juga mata Eileria fokus ke punggung Callisto.


| Gawat! Lukanya masih berdarah. Apa dia tidak merasakan apa-apa? | Batin Eileria.


Karena sudah terpojok, Eileria dengan berani mengaku bahwa dia melukai punggung Callisto.


" It-itu.......Emmmm. Punggung....


Callisto berbalik ke arah Eileria, dan dia memiringkan kepalanya seolah bertanya.


" Punggung apa? Bicara yang jelas! " Tegur Callisto.


" PUNGGUNG ANDA TERLUKA! " Eileria dengan cepat berteriak mengaku.


" Hah?...Apa kau bilang..? " Tanya Callisto sekali lagi.


" Saya bilang punggung anda terluka. Saya tidak sengaja. Jadi....saya meminta ramuan untuk luka di punggung anda. " Ucap Eileria.


" Kau!....." Callisto sedikit geram.


Dia pun berjalan cepat naik ke atas, lalu pergi ke arah cermin yang tertempel di dinding. Callisto bahkan tidak memakai handuk.


| Uwaaaa!!! Dia mulai lagi! | Batin Eileria.


Saat Callisto beranjak dari kolam tanpa memakai handuk, Eileria sontak menutup matanya.


" Ini...punggungku! " Callisto melihat punggungnya yang terluka karena Eileria.


Di cermin terlihat punggung Callisto memang terluka, hanya saja goresan itu goresan kecil-kecil.


" Keterlaluan! Aku menjaga tubuhku dengan baik bahkan di medan perang sekalipun!...


Callisto berteriak marah, dia berbalik menatap Eileria yang masih berdiri dikolam dengan mata tertutup.


" Sialan! Bicara denganmu sangat sulit! " Ucap Callisto, dia dengan cepat mengambil handuk, dan menutupi bagian bawahnya.


| Wanita itu tidak mau menatapku jika aku belum memakai handuk. Jika dia tidak membuka matanya, bagaimana dia bisa melihat wajah marah ku? | Batin Callisto.


" Haah....Buka matamu! " Teriak Callisto.

__ADS_1


" Aku sudah memakai handuk! " Teriak Callisto sekali lagi.


Saat mereka berdebat, tiba-tiba....


' Brak...!! ' Pintu ruangan masuk di buka keras sehingga mereka berdua menatap ke arah pintu masuk.


" Yang mulia! " Pria dengan rambut pirang panjang masuk dengan wajah panik.


" Hylos...? " Gumam Callisto melihat ajudannya yang masuk tiba-tiba.


" Sir Hylos..? " Eileria juga kaget dengan kedatangan Hylos.


" Anu...Maaf yang mulia. Saya tidak bermaksud mengganggu ada, tapi ini sangat penting. " Ucap Hylos dengan wajah serius.


| Tidak biasanya Hylos memasang wajah panik seperti ini. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang sangat penting. | Pikir Callisto.


Melihat wajah ajudannya yang panik, Callisto segera mengambil jubah mandi miliknya.


" Cepat katakan ada apa? " Tanya Callisto serius.


" Maaf, tapi...." Hylos melihat Eileria.


" Saya mengerti. Saya akan pergi. " Eileria tahu, pembicaraan mereka berdua tidak boleh di dengar oleh siapapun apalagi seorang pelayan rendahan sepertinya.


" Baguslah jika kau sadar akan posisimu. " Ucap Callisto.


" Terserah anda mau mengatakan apa. " Ucap Eileria seraya pergi dari ruangan.


Tapi sebelum itu, Callisto kembali memanggilnya.


Langkah Eileria sontak terhenti.


| Sekarang apa lagi? | Bantin Eileria.


" Kau belum selesai dengan punggungku. Besok kau harus datang lebih pagi untuk mengobati lukaku, sekaligus siapkan makanan sebanyak mungkin. " Perintah Callisto.


" ..... " Eileria tidak menjawab, dia pergi begitu saja setelah mendengar perintah Callisto.


" .....Tidak sopan.... " Gumam Callisto yang melihat Eileria pergi tanpa menjawab.


" Yang mulia, sepertinya itu bukan ide yang bagus merekrutnya sebagai pelayan pribadi anda. " Ucap Hylos.


" ....Diam lah, kita bicara di kamarku. " Ucap Callisto.


...----------------...


Ruangan kerajaan, tepatnya singgahsana raja, tempat orang-orang penting menghadap Raja.



" Haaaa..... " Ellios yang duduk di singgahsananya dia menghela nafas lelah.


Gort sang ajudan yang tepat berdiri di samping Ellios, dia menatap Ellios dan bertanya Khawatir.

__ADS_1


" Ada apa yang mulia? Hingga anda menghela nafas lelah seperti itu. " Tanya Gort sopan.


" Memang tidak boleh seorang raja menghela nafas lelah seperti ini? " Tanya Ellios.


" Tidak. Bukan seperti itu.


" Hanya saja helaan nafas seorang raja, bisa membuat orang di sekitarnya khawatir. " Ucap Gort.


" Ini semua karena putraku Callisto....." Ucap Ellios.


" Memang ada apa dengan Yang mulia Callisto? " Tanya Gort.


" Kau juga sudah tahu, dia membawa pelayan wanita, dia bahkan menjadikan nya pelayan pribadinya. Mungkin menurutmu ini hal yang biasa, tapi menurutku hal ini tidak biasa. "


" Putraku itu tidak pernah bergantung kepada siapa pun. Bahkan dia tidak pernah merekrut ajudan, pelayan, dan kesatria untuk dirinya sendiri. Yang ada mereka sendirilah yang rela bersumpah setia kepadanya. " Ellios berbicara mengenai Callisto.


Jelas Ellios khawatir, karena ini adalah pertama kalinya Callisto merekrut pelayan pribadi untuk dirinya sendiri.


" Sejak dia bangun dari tidurnya, sikafnya semakin berbeda, apalagi saat dia bertemu dengan pelayan itu. Seolah dia sudah mulai lepas dari tali yang aku pasang. " Ucap Ellios.


" Tali yang mulia pasang tidak akan lepas, jika anda memanfaatkan gelar tahta, dan juga pelayan itu. " Ucap Gort.


" Aku lebih tidak suka jika putraku mencintai seorang pelayan rendahan seperti wanita itu. " Ucap Ellios dengan wajah masam.


" Kalau begitu anda bisa memanfaatkan gelar tahta, lalu anda bisa membunuh gadis itu. " Jawab Gort dengan saran kejamnya.


" Tapi sepertinya gadis itu tidak menyukai yang mulia Callisto, jelas sekali dari wajah, dan nada bicaranya. " Gort sekali lagi.


" Yah, waktu di pesta itu aku juga melihatnya. Dia enggan di sentuh oleh Callisto. " Ucap Ellios.


" Hmmm....baiklah, kita lihat saja. Sampai mana Callisto akan bermain-main dengan pelayan itu. Jika sampai keduanya saling mencintai, mau tidak mau kita harus membunuh gadis itu. " Ucap Ellios dengan seringai di bibirnya.


" Kita mempunyai cara lain yang mulia, agar Yang mulia Callisto tidak bisa mencintai gadis itu..." Ucap Gort.


" Apa itu? " Tanya Ellios.


" Bukannya, Yang mulia Callisto memiliki tunangan masa kecil nya? " Tanya Gort.


Ucapan Gort membuat Ellios senyum merekah, dia tahu apa maksud Gort.


" Kau benar, aku melupakan itu. Adelia Pan Huber....


" Putri pertama dari keluarga Marquess Huber. Sekaligus tunangan masa kecil Callisto. " Ucap Ellios.


" Benar yang mulia. Sepertinya kita harus memanggil Putri Adelia. " Ucap Gort.


" Tunggu apa lagi, sekarang tulis surat ke kediaman Marquess. Pastikan Adelia mau datang ke istana. " Ucap Ellios.


" Saya mengerti Yang mulia. " Jawab Gort patuh.


...----------------...


BERSAMBUNG......

__ADS_1



__ADS_2