
Saat itu Eileria mengenakan gaun yang di beli bersama dengan Hylos sebelum bertunangan.
Eileria tampil elegan, persisi seperti bangsawan pada umumnya.
" Akhirnya aku memakai gaun lagi setelah sekian lama. " Gumam Eileria.
Dia sekarang berada di luar, di depannya sudah ada kereta kuda mewah berwarna emas.
Yang lebih menonjol adalah pria yang berdiri di samping kereta kuda, dia mengenakan pakaian rapih, rambut hitam di tata rapi,dan wajahnya yang tegas.
Dia adalah Callisto, tentu saja di sebelahnya ada juga Hylos.
" Dia memang luar biasa. Jika sifatnya tidak buruk. " Gumam Eileria, dia untuk sementara waktu mengagumi ketampanan Callisto.
Menyadari kedatangan Eileria Callisto menengok ke arah Eileria.
" ..... " Namun, wajahnya tidak seperti biasanya.
" Maaf, sepertinya anda menunggu lama. " Ucap Eileria dengan nada sopan.
Callisto tidak memberi respon, dia hanya memalingkan wajahnya dan berbicara memerintah prajurit yang ada di sana.
" Buka pintunya. " Titah Callisto dengan nada tegas.
Eileria yang merasa ada yang aneh dengan Callisto, dia pun berbicara dalam batinnya.
| Dia nampak aneh. Tidak seperti biasanya, wajahnya terlihat kesal, marah, dan berusaha untuk tidak peduli. Yang lebih terasa, dia lebih dingin dari biasanya. | Batin Eileria menyadari keanehan Callisto.
Setelah pintu kereta di buka, Callisto tanpa jeda langsung masuk ke dalam kereta dengan wajah acuh.
Eileria mengerutkan keningnya sejenak, dan terdiam di depan pintu kereta.
Para pelayan, penjaga, dan kesatria yang ada di sana cukup kaget dengan tindakan Callisto, apalagi Hylos yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
" Yang mulia tidak membantu Lady naik ke kereta? "
" Ada apa ini? " Pelayan bertanya-tanya.
Mereka saling berbisik karena tindakan Callisto. Seharusnya yang pertama masuk ke dalam kereta adalah perempuan, di bantu oleh laki-laki atau kekasihnya, dengan memberikan satu tangannya sebagai pegangan.
Tapi Callisto melewatkan Eileria, dan masuk begitu saja.
" Tidak masalah, mungkin dia lupa akan sopan santun bangsawan. " Gumam Eileria.
Alih-alih Callisto, Hylos yang menyadari kesalahan tuannya, dia pun dengan sukarela memberikan satu tangannya untuk membantu Eileria.
" Biar saya yang membantu anda. " Ucap Hylos sopan dengan tangan yang sudah siap.
" Terima kasih, kau memang dapat di andalkan. " Ucap Eileria, dia pun memegang tangan Hylos, dan masuk dengan anggun.
Tentu saja, tatapan dingin dan menusuk datang dari Callisto saat dia duduk berhadapan. Tapi itu hanya sesaat, Callisto membuang wajahnya dan beralih menatap ke luar jendela.
Pintu kereta kuda di tutup, dan mereka pun melakukan perjalanan.
Selama waktu terlewat, suasana di kereta itu sangat hening, tidak ada yang berbicara satu sama lain, hanya suara dari kereta kuda, dan orang-orang yang di lewati.
Merasa ada yang tidak beres dengan Callisto, Eileria pun dengan cepat bertanya memastikan sesuatu.
" Apa sesuatu sudah terjadi? " Tanya Eileria dengan hati-hati.
__ADS_1
" Diamlah. Tidak ada yang terjadi. " Callisto hanya menjawab ketus, dan dingin seolah tidak tertarik.
" Ya, itu jauh lebih bagus. Jadi saya tidak usah capek-capek berbicara. " Ucap Eileria tidak peduli.
Tapi, sudah jelas Eileria tidak biasa dengan Callisto yang seperti itu. Biasanya dia akan menjawab dengan nada nakal, seolah mempermainkan dirinya.
| Tidak biasanya dia seperti itu. | Batin Eileria.
Callisto hanya memandang jendela dengan wajahnya yang tidak baik. Terlihat kesal, acuh, dan datar.
...----------------...
Perbatasan kerajaan Eldorado.
Perbatasan, tempat di mana gerbang keluar masuk kerajaan Eldorado dengan wilayah kerajaan asing.
Di sana di lakukan pemeriksaan identitas untuk orang yang akan masuk ke kerajaan Eldorado.
Semetara itu, di ujung dekat gerbang, ada sebuah kereta kuda yang mewah, itu adalah kuda dari istana kerejaan.
Tepatnya milik selir pertama Sabrina.
Pada saat ini di dalam kereta milik Sabrina.
" Yang mulia, raja Carvana akan tiba sebentar lagi, kita harus mencegah pemeriksaan terhadapnya. " Zenon orang yang di percaya Sabrina berbicara.
" Biar aku yang urus, para kesatria tidak akan menentang diriku. " Ucap Sabrina.
" Baik yang mulia. " Jawab Zenon.
Para kesatria yang memeriksa orang yang keluar masuk cukup sibuk, mereka menanyakan identitas, kartu identitas keluar masuk kerajaan, dan mengecek barang bawaan.
" Perlihatkan kartu identitasmu. " Titah kesatria dengan tegas.
Saat itu sangat banyak orang yang mau keluar, dan masuk. Sampai selanjutnya, pria tinggi dengan jubah putih yang tidak biasa muncul.
" Buka jubahmu. " Titah kesatria.
Pria itu tidak menurut, dia hanya diam berdiri.
" Si bodoh ini! Apa kau tuli! Cepat buka jubahmu! " Teriak kesatria emosi.
" Ada apa? " Salah satu temannya bertanya.
" Bedebah ini tidak mau membuka jubahnya. " Jawab kesatria itu.
" Hei cepat buka jubahnya, kau tidak lihat antrean di belakangmu? "
Saat para kesatria memintanya untuk membuka jubah pria tinggi itu, kereta kuda mewah tiba-tiba datang, dan berhenti tepat di depan mereka.
" Siapa pemilik kereta kuda ini. " Para kesatria bertanya-tanya.
Pertanyaan mereka pun terjawab, saat seorang perempuan yang di kenal dengan kekejamannya turun dari Kereta.
" Ya-yang mulia selir pertama. " Para kesatria kaget, dan segera menunduk hormat.
Begitu pula yang lainnya.
" Hmmm, tempat yang sangat kotor. Aku tidak suka berlama-lama di sini. " Sabrina jijik dengan lingkungan itu.
Tentu saja, karena yang datang dan pergi, bukan hanya para bangsawan, pengemis, rakyat jelata pun ada.
__ADS_1
Sabrina, berjalan dengan anggun melewati mereka-mereka yang bersujud di bawah kakinya.
Dia menuju ke arah pria tinggi dengan jubah putih. Sesampai di hadapannya, Sabrina langsung mengulurkan tangannya ke pipi si pria tinggi itu.
Dia berkata dengan nada manis. " Akhirnya anda tiba juga di sini. "
Pria tinggi itu nampak tidak suka dengan elusan Sabrina, dia pun menpisnya.
' Tak—, Sabrina cukup kaget dengan tolakan yang terang-terangan.
" Dia orangku, kalian tidak perlu memeriksa identitasnya. " Ucap Sabrina.
Karena Sabrina yang merupakan selir pertama dengan kekuasaan cukup besar setelah Callisto, dan Ellios, mereka pun percaya dan mematuhinya.
" Saya mengerti yang mulia selir pertama. " Jawab para kesatria.
Dengan cepat, Sabrina menggandeng pria tinggi itu, dan membawanya masuk ke dalam kereta.
...----------------...
Kediaman Duke Candel.
Callisto, dan Eileria sudah sampai di pesta yang di sebutkan oleh Callisto.
Pesta itu di lakukan di sore hari, dengan tema outdoor.
Semua di hias di luar ruangan, pesta ini lebih tepat di sebut acara amal, bukan pesta untuk bersenang-senang tanpa adanya tujuan.
Sejak Callisto tiba, para bangsawan yang ikut acara itu berbondong-bondong menyambutnya. Mereka lebih tepat mencari muka, agar bisa mendapatkan dukungan dari Callisto.
" Yang mulia, anda datang dengan tunangan anda. Sungguh pasangan yang serasi. " Ucap bangsawan Count yang bernama Paden.
" Yang mulia, tunangan anda sangat cantik. " Bangsawan lainnya.
Mendengar ocehan yang tidak berguna itu, Callisto segera memberi respon, tentu saja bukan respon yang baik.
" Mulut kalian masih bisa berbicara manis di depanku, ya. Enyahlah sebelum aku menusuk lidah kalian dengan alat makanku. " Callisto merespon dengan suara yang mengintimidasi.
Eileria yang duduk berhadapan dengan Callisto, dia terlihat tidak nyaman. Apalagi, Callisto tidak mengajaknya berbicara atau pun menyuruhnya melakukan sesuatu.
" Mohon maaf yang mulia, apa saya boleh bertanya. Kenapa anda memilih wanita dari kasta rendah untuk menjadi tunangan anda? " Bangsawan wanita bertanya, dia memang duduk di samping Callisto.
Para bangsawan yang ada di meja yang sama pun tertarik dengan jawaban Callisto.
Eileria melirik Callisto, dia juga ingin tahu apa jawabannya.
" Untuk apa bertanya jika kalian sudah tahu apa gunanya. " Jawab Callisto ketus, namun matanya jelas menatap Eileria serius.
" Guna? Dalam artian apa itu Yang mulia? " Tanya sekali lagi gadis bangsawan yang saat ini duduk di samping Eileria.
Nada bicaranya seolah merendahkan Eileria pada saat bersamaan.
" Asal dia berguna, dalam hal apapun. Tapi, pada dasarnya wanita seperti pakaian. Jika sudah bosan di gunakan, kita tinggal membuangnya, atau mencari yang baru untuk di gunakan. " Callisto menjawab dengan suara rendah, namun jelas.
Para bangsawan yang mendengarnya cukup terkejut, apalagi Eileria.
" Saya tidak tahu jika anda berpikir seperti itu mengenai saya. " Ucap Eileria menyinggung tanggapan Callisto.
| Pakaian kau bilang? Aku tahu pertunangan ini hanya kontrak. Tapi kau sudah menghina wanita. Dasar bedebah gila! | Batin Eileria marah.
__ADS_1
Callisto acuh, dia tidak memberikan respon.
...----------------...