
Anin menangis saat Dylan memeluk dan berbicara dengan kata-kata yang dapat menyentuh hatinya, dimana pria itu tidak bisa hidup jika tidak bersama dirinya.
"Aku senang karena kakak berbicara seperti itu," ujar Anin sambil melepaskan pelukanya dan menyeka air mata yang sudah mulai menetes di pipinya. Dylan pun tersenyum karena merasa punya harapan akan kembali lagi bersama kekasihnya, "tapi itu jika Kak Dylan mengucapkan kata-kata itu saat pertama kali bertemu denganku, karena sekarang aku merasa tidak senang setelah mendapat perlakuan seperti kemarin dari mu kak." ucap Anin melangkah mundur.
"Anin, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak bisa pulang karena Kak Barra menyuruh orang untuk menghalangiku dan menutup semua akses ku padamu Anin." Dylan meraih tangan Anin yang berusaha menjauhinya. "Aku yakin jika dia juga menikahimu karena ada maksud lain! Tolong percaya padaku Anin!" ujarnya karena belakangan ini Dylan mengawasi setiap pergerakan Kakaknya.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi!" lirihnya sambil melangkah pergi dengan terisak, Anin merasa sangat sakit karena orang yang selama ini selalu berbuat lembut, selalu membuatnya tersenyum dengan kata-kata manisnya dengan waktu yang sudah mereka habiskan bersama tega menuduh bahkan sampai melukainya.
"Aaarrrggghhh sial!!" pekiknya kesal sambil menyeka air matanya kasar dengan lengan yang langsung menonjok pohon besar di sampingnya, Dylan lalu menatap salah satu jendela dengan sorot mata tajamnya. Bahkan Dylan tidak merasakan kesakitan di area lenganya yang sedang berdarah, rasa kesalnya jauh lebih tinggi di banding itu.
Di lorong saat Anin hendak mencari kedua sahabatnya dia di suruh salah satu teman kampusnya yang lain untuk pergi ke ruangan Barra, Anin pun yang masih bersedih oleh Dylan dia langsung mendatangi Suaminya karena ini kesempatanya untuk meminta maaf.
"Siang pak, Bapak mencari saya?" tanya Anin setelah sebelumnya mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan pria yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Rasa percaya diri Anin menghilang saat melihat tatapan tajam pria itu, niat untuk meminta maaf pun sangat susah keluar dari mulutnya karena suasana yang mencengkram bahkan membuat dirinya menelan susah salivanya.
"Duduk," perintahnya dengan sangat singkat padat dan dingin, pria bertubuh atletis dengan setelan kemeja putih dan lengan yang di gulung asal itu berjalan mengikuti Anin yang akan duduk. Membuat Anin tersentak kaget saat duduk karena di belakangnya sudah ada Barra tepat di depan wajahnya.
Barra yang berniat untuk marah karena kesal melihat Anin berpelukan dengan Adiknya pun malah teralihkan dengan sisa air mata yang ada di pipinya dengan mata sembabnya. Barra mengerutkan Alisnya dan memasang tajam sorot matanya, "apa kamu menangis? siapa yang melukaimu! katakan Anin!" sentaknya tidak sabaran.
__ADS_1
Pria di depanya terlihat hawatir namun nada bicara yang seolah memarahinya membuat Anin semakin menangis. "Kenapa kamu menangis semakin keras!" sentaknya Barra sangat tidak tau cara membuat wanita tenang, karena ini pertama kalinya Barra berurusan dengan seorang wanita.
"Apa Kak Barra tidak pulang karena marah padaku?" tanya Anin merasa menyesal karena sudah marah padanya, di tambah dia tidak tau dimana Barra tinggal. Anin merasa tidak enak hanya karena marah padanya pria itu harus meninggalkan Mansion sebesar itu hanya untuk menghindarinya.
"Jadi kamu tidak terluka?" tanya Barra bingung setelah mengamati tubuh gadis itu karena takut jika Anin terluka.
Anin tersenyum pahit, Barra dan Dylan memang sangat berbeda pikirnya. Jika dalam keadaan seperti ini Dylan pasti berkata 'jangan cemas, ada aku disini yang menyayangimu. Apa kita perlu berbelanja agar suasana hatimu tenang?' tapi kata-kata itu hanya membuatnya tenang sesaat.
Kenapa jika mendengar ucapan Barra tadi dan hari dimana dirinya terluka karena Dylan selalu membuat Anin tenang dan senang. Walau dengan nada bicara tinggi dan raut wajah penuh emosi tapi pertanyaan Barra yang berkata 'Apa kamu terluka?' itu membuat nya sangat tersentuh dan merasa tenang karena seolah ada orang lain yang akan menjaganya dan merawatnya.
Barra yang menatap sendu gadis itu langsung berubah menatapnya tajam kembali karena mengingat kata-kata Dylan yang bilang jika Anin adalah wanita bekasnya dan pelulan yang di lakukan Adik dan juga istrinya itu membuatnya semakin kesal.
Barra duduk di sofa depan Anin dengan senyum remehnya. "Jadi apa kamu datang meminta maaf setelah berpelukan dengan kekasihmu?" tanya Barra langsung pada intinya dengan suara tegasnya membuat Anin kembali sadar jika pria di depanya sedang dalam kondisi tidak bisa di ajak kompromi.
"Itu, Aku bisa jelaskan Ka." ucap Anin, Barra langsung menarik lengan Anin dan mendudukanya di atas pahanya sambil menghadap wajahnya dengan raut wajah takutnya.
"Kau kira aku tidak tau, kau bahkan terang-terangan berpacaran di kampus miliku Anin!" sentaknya membuat Anin semakin ketakutan. Namun Anin sadar seratus persen jika ini memang masih kesalahan yang ia perbuat.
__ADS_1
"Dengarkan aku baik-baik! kau harus mengikuti semua yang kuinginkan, Anin! Karena itu adalah tugas mu setelah menjadi istriku!"
"Tapi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Anin dengan sangat pelan dan tanpa berani menatap sorot mata tajam itu. Barra mengangkat dagu Anin dengan ujung jarinya, gadis yang terlihat seperti seekor tikus yang sedang ketakutan di matanya itu membuat nya tersenyum di dalam hati. 'imutnya istriku' gumamnya dalam hati dengan sorot mata yang tidak berubah sedikitpun.
"Tentu saja syarat pertama yang harus kamu lakukan adalah memberiku keturunan!" sentaknya membuat Anin tertegun dengan mata melototnya mendengar ucapan Barra yang dengan terus terang meminta Anak darinya.
"Ta-tapi aku tidak tau ada syarat seperti itu?" tanya Anin dengan jantung yang bergetar dan rasa takut mulai melanda dirinya.
"Ayahmu menandatangani surat perjanjian itu saat meminta tolong padaku untuk melunasi seluruh hutang nya." ujarnya membuat Anin merasakan sakit yang teramat dalam karena Ayahnya tetap menjualnya walau dia tahu jika Anaknya harus melahirkan anak dari pria yang tidak di cintainya.
Barra langsung memeluk Anin saat melihat gadis itu menangis, walau bagaimana pun Barra sejujurnya tidak tega membuat Anin menangis namun dirinya juga sama-sama terluka dan kesal karena sikap istrinya yang tidak menyadari posisinya saat ini, Anin sudah menjadi istri sah nya namun gadis itu masih berani berpelukan dengan mantan kekasihnya dan yang lebih menyakitkan lagi fakta jika Anin pernah bercinta dengan Dylan karena ucapan Dylan waktu itu.
.
.
to be continued...
__ADS_1