
Barra mengusap wajahnya dengan sangat kasar, terlihat jika durinya sangat frustasi. Andai saja jika kejadian ini tidak terjadi, dan Anin meminta dirinya untuk menyentuh gadis itu atas dasar suka bukan karena ingin memnalas dendam sudah pasti Barra tidak perlu merasakan sakit yang sekarang ia rasakan di dalam hatinya.
Anin meraih lengan Barra dan menariknya mendekat, di ciumnya punggun lengan Barra dengan sangat lembut dan perlahan.
"Kak, kita sudah menikah." ucap Anin sambil menaruh kedua lengan Barra di pinggangnya dan menarik tengkuk leher Barra dengan kedua lenganya.
Posisi keduanya sekarang sudah sangat dekat, dengan detak jantung yang berdebar keras hingga keduanya saling menyadari satu sama lain.
"Jangan menyesalinya," ucap Barra menatap serius wajah Anin. Gadis itupun menganggukan kepalanya dan keduanya saling mendekatkan wajahnya untuk memulai.
Bibir keduanya saling menempel dan lambat laun saling membuka memberikan celah aggar bisa saling menyatu, ciuman yang baru pertama kali mereka lakukan tanpa paksaan dan tanpa tenakan kini saling membelitkan lidah satu sama lain dan mengabsen setiap inci dalam rongga mulut gadis itu.
__ADS_1
"Eemmpphh.. " lenguh Anin dadanya terus berdebar, pikiranya mulai kosong dengan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Barra semakin menekan tengkuk leher Anin dan memperdalam ciumanya.
Barra melepas ciuman itu dan berdiri dan membuka satu persatu kancing kemejanya sambil menatap gadis cantik di depanya yang duduk dengan bingung menatapnya, dengan hati yang panas dan penuh amarah campur aduknya pikiran Barra tentang keperawanan Anin dan tentang bagaimana Anin memanfaatkan tubuhnya untuk balas dendam membuat Barra semakin panas.
Barra menjatuhlan tubuhnya di atas tubuh Anin hingga membuat gadis itu berteriak kaget, "aku akan bermain kasar denganmu." ucapnya lalu bibirnya hangatnya menyentuh kulit leher Anin, pria itu tidak tinggal diam. Dia membuka pakian Anin dan melemparnya asal membuat Anin sedikit ketakutan dengan gerakan Barra yang buru-buru.
"Aaarrrrggghhh!!!" teriak Anin karena pria di atasnya tanpa permisi dan tanpa aba-aba langsung menusukan miliknya pda milik Anin, membuat gadis itu meringis kesakitan dan nyeri. "Kak, ini sakit!" ucap Anin sambil mencakar kedua otot lengan Barra.
"Kak, aku tidak kuat." ucap Anin karena rasa perih yang ia dapatkan di inti miliknya membuat Anin mengeluarkan air matanya. Barra mengeluarkan dan kembali menggesekan miliknya dengan pelicin yang keluar dari milik Anin dia memanfaatkan itu untuk kembali menerobos masuk kedalam.
"Euhhgg..." lenguh Barra sambil mendorong pinggulnya.
__ADS_1
"Aaaaarrrrgghhhh!!" teriak Anin karena seluruh milik Barra masuk tanpa tersisa sedikitpun, dia memenuhi bagian dalam tubuh Anin. Rasa sakit, penuh dan sesak menyelimuti bagian bawah Anin.
"Kenapa kamu menangis Anin?" tanya Barra sambil menyeka air matanya dengan bingung, Barra sangat merasakan jepitan di bagian miliknya membuat dirinya ingin menggerakan pinggungnya tanpa memperdulikan Anin yang terlihat kesakitan.
"Aaahhhh!! Kak! hentikan, sakit!" tolak Anin saat Barra mulai menggerakan pinggulnya. Sepanjang percintaan yang baru pertama mereka lakukan itu di iringi erangan dan isak tangis dari istrinya.
Jika Barra mendapatkan kepuasan yang baru pertama kali ia rasakan, lain halnya dengan Anin yang merasa jika tubuhnya benar-benar hancur di tangan Barra yang terus menghujani tubuhnya dengan hentakan.
.
.
__ADS_1
to be continued...